Waspadai Kethekan, Salib Putih Hingga Kertek

106

RADARSEMARANG.COM – LEBAR badan jalan tanjakan Kethekan yang kini berubah nama menjadi Tanjakan Jambuasri di Desa Jambu Kecamatan Jambu memang belum ideal. Sekertaris Dinas (Sekdin) Perhubungan Kabupaten Semarang, Djoko Nuryanto mengungkapkan lebar badan jalan per lajur saat ini hanya 3,75 meter.

“Banyak kecelakaan di tempat tersebut, karena kendaraan yang nekad menyalip, memakan jalur yang berlawanan,” kata Djoko, Minggu (12/8). Perilaku pengemudi menjadi faktor terjadinya kecelakaan di tempat tersebut.

Menurut Djoko, lebar ideal dari jalur tanjakan Jambuasri yang merupakan jalan nasional masing-masing jalur harus 7,5 meter. Lebar tersebut disesuaikan dengan ukuran kendaraan di Indonesia pada umumnya yaitu 2,5 meter. Sehingga bila ada kendaraan yang hendak menyalip dari belakang tidak memakan jalur berlawanan. “Saat ini memang sudah dilakukan pembebasan lahan di sepanjang jalur tersebut, namun pembebasan masih terkendala masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, dikarenakan kondisi tersebut, sepanjang jalur Jambuasri harus diberikan jalur penyelamat. Apabila terdapat kendaraan dari arah atas (Temanggung) apabila mengalami rem blong bisa langsung masuk ke jalur penyelamat. “Tidak menabrak pengendara yang ada di depannya,” katanya.

Jalur Jambuasri sendiri memiliki panjang 1,2 kilometer. Kondisi jalur tersebut, apabila dari arah Ambarawa memiliki kontur naik dengan kemiringan mencapai 35 derajat. Begitu juga sebaliknya, apabila dari arah Kabupaten Temanggung memiliki kontur menurun yang juga terjal. “Dishub Kabupaten Semarang juga sudah memasang flashlight sebagai penanda kendaraan pada malam hari,” katanya.

Menurut Djoko selain perilaku kondisi jalur Jambuasri yang menikung dan menurun bisa membuat sopir lengah dan berakibat kecelakaan. Kondisi jalan menurun dan berkelok itu terlihat mulai perbatasan Temanggung hingga kawasan tanjakan atau turunan Kethekan.

Di Salatiga, kecelakaan kerap terjadi di kawasan Salib Putih karena medannya yang sulit dan tajam. Pengatur lalu lintas JLS atau sering disebut Relawan Klebet, Ahmad Aris mengatakan, medan jalan yang turun dari atas Kopeng menyebabkan pengguna jalan sering menggunakan remnya. Jalan tersebut dimulai dari Magelang hingga Pakis. “Kebanyakan orang kalau belum pernah lewat sini pasti sering pakai rem di jalan turunan, sehingga aus. Akibatnya rem blong. Apalagi kendaraan dengan muatan barang berlebih, lebih cepet blong, jadinya kecelakaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, angka kecelakaan di kawasan perempatan Salib Putih dalam satu tahun mencapai seratus kejadian. Dalam satu minggu minimal dua kecelakaan. Dan kalau malam hari waktu paling rawan kecelakaan.

Sementara ruas Jalan Sindoro Sumbing di Kecamatan Kretek Kabupaten Wonosobo memiliki medan turunan tajam dan berkelok hingga 9 kilometer. Akibatnya, kerap terjadi kecelakaan saat melintasi kawasan tersebut. Terutama angkutan barang yang muatannya melebihi tonase.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Wonosobo, Bagyo Sarastono mengungkapkan seringnya kecelakaan di ruas Jalan Sindoro-Sumbing akibat faktor medan jalan yang menurun dan berkelok hingga mencapai 9 kilometer. Akibatnya, posisi thermal rem yang terus ditekan menyebabkan kampas terlalu panas.

Menurutnya, jika kendaraan terus dipaksakan berjalan dengan medan yang menurun panjang sangat berisiko terjadinya kecelakaan. “Seharusnya, pada pertengahan turunan, kendaraan berhenti untuk mendinginkan mesin terlebih dahulu,” lanjutnya.

Dirinya menuturkan posisi Jalan Sindoro-Sumbing dibagi dalam dua ruas, pertama di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Temanggung. Tepatnya di turunan Kledung-Candi Mulyo sepanjang 6 km, disebut sebagai daerah preventif lantaran kerap terjadi kecelakaan. Sementara dari Candimulyo-Pertigaan Kertek dianggap sebagai titik kecelakaan. (ewb/mg9/mg 11/mg14/ cr1/ida)