Usulkan Bangun Pita Kejut

135
WASPADA : Melewati tanjakan Silayur Ngaliyan Kota Semarang harus selalu waspada, banyak kendaraan berat tiba-tiba mengalami rem blong, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA : Melewati tanjakan Silayur Ngaliyan Kota Semarang harus selalu waspada, banyak kendaraan berat tiba-tiba mengalami rem blong, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – MENANGGAPI hal itu, pengamat transportasi Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menusulkan langkah antisipatif dengan membuat pita kejut  serta menambah rambu-rambu. “Di Malaysia, jika jalanan rawan pita kejutnya sangat panjang. Ini sebagai salah satu upaya agar kednaraan lebih waspada dan mengantisipasi kecelakaan,” kata

Tidak hanya itu, harus ada upaya kongkret seperti membuat jembatan timbang khusus di lokasi yang ramai kawasan industri serta melintasi jalanan yang menurun. “Karena memang banyak kasus kecelakaan terjadi karena beban muatan berlebih. Jadi harus ada pengontrol, salah satunya dengan jembatan timbang khusus,” bebernya.

Ia mencontohkan, di jalanan menurun Silayur, Ngaliyan merupakan salah satu lokasi langganan kecelakaan. Rata-rata kecelakaan karena rem kendaraan blong serta beban muatan yang berlebih. “Memang sudah ada aturan jam operasional kendaraan besar, tapi tetap saja terjadi kecelakaan. Masalahnya, lokasinya turunan tajam dan tidak ada control muatan,” tegasnya.

Djoko menambahkan, yang sangat penting saat ini adalah penguatan penegakan hukum terhadap para pemilik atau perusahaan armada khususnya truk-truk yang selama ini digunakan untuk muatan berat. Kejadian rem blong bukan terjadi seketika, tetapi sudah diketahui sejak kendaraan seperti truk saat keluar garasi dan memuat barang. “Memang harus ada upaya tegas, jangan lemah. Kan sudah ada aturan tinggal penegakan,” tambahnya.

Banyaknya jalanan tengkorak di Jawa Tengah juga merupakan salah satu bukti kesemrawutan tata ruang. Harusnya, kalau ingin memperbaiki infrastruktur memperhatikan tata ruang, agar tidak ada lagi jalanan tengkorak. Sebab, kenyataanya, pembangunan dilakukan secara besar-besaran tetapi tidak mengindahkan tata ruang. “Misalnya pembangunan rumah padat sekali, sementara akses transportasi tak terbendung. Ya akibatnya kemacetan panjang dan rawan kecelakaan,” ucapnya.

Akan Tindak Kendaraan Odol

Sementara itu, Kepolisian Polrestabes Semarang melalui Satuan Lalulintas (Satlantas) Polrestabes Semarang terus berupaya mengurangi risiko kecelakaan di Jalan Raya Kota Semarang, utamanya tanjakan-turunan Silayur Ngaliyan dan simpang Jalan Siliwangi-Hanoman Semarang Barat.

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Yuswanto Ardi mengatakan bahwa Satlantas Polrestabes Semarang akan berkoordinasi dengan Dinas Pehubungan dalam melakukan penertiban terhadap kendaraan Over Dimensi dan Over Loading (Odol).

Menurutnya, rata-rata kecelakaan diakibatkan kontur lokasi perbukitan yang menanjak dan menurun. Terkadang fungsi rem tidak maksimal, akibat kurang perawatan atau over loading.

“Maka langkah pertama, kami akan bekerjasama dengan Dishub Kota Semarang menindaklanjuti surat edaran Dirjen Perhubungan Darat untuk penertiban. Kami sedang merapatkan teknisnya penindakan terhadap Over Dimensi dan Over Loading (Odol),” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Over Dimensi, Ardi mencontohkan kendaraan berat yang ukuran bak melebihi dimensi yang diizinkan. “Entah itu ditinggikan, dilebarkan atau dipanjangkan. Itu tentunya sangat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain,” bebernya.

Sedangkan untuk Over Loading, artinya melebihi tonase yang diizinkan sehingga membahayakan dirinya maupun orang lain. “Saya mengusulkan penutupan simpang Hanoman,” jelasnya.

Namun, kata Ardi, tugas menjaga lalulintas bukan hanya kepolisian, ada instansi terkait, seperti Dinas Pekerja Umum (PU) dan Dishub tingkat kota, provinsi maupun pusat. Menurutnya, selain menertibkan Odol, juga melakukan rekayasa daerah yang menjadi titik rawan kecelakaan. “Dengan cara itu, meminimalisasi crossing yang terjadi di titik Hanoman. Tapi sampai sekarang belum terealisasi, maklum terkendala anggaran,” tegasnya.

Kemudian di Silayur, pihaknya dengan Dishub akan mengkaji kembali penerapan kelas jalan. Sebab, di Silayur banyak perindustrian besar. “Kami perlu komunikasi terlebih dahulu. Yang jelas, saya melalui forum lalulintas akan berupaya semaksimal mungkin untuk bisa meminimalisasi risiko kecelakaan,” ujarnya.

“Jadi nanti diatur kelas jalanya, mungkin itu menjadi kelas 2 atau kelas 3, sehingga muatan terberatnya tidak boleh lebih 15 ton,” terangnya. (fth/mha/ida)