Ada 10 Peringatan, Kecelakaan Tak  Berkurang

Waspadai Tanjakan-Tanjakan Maut

292
WASPADA : Melewati tanjakan Silayur Ngaliyan Kota Semarang harus selalu waspada, banyak kendaraan berat tiba-tiba mengalami rem blong, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA : Melewati tanjakan Silayur Ngaliyan Kota Semarang harus selalu waspada, banyak kendaraan berat tiba-tiba mengalami rem blong, sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Sejumlah jalan di Jawa Tengah memiliki kemiringan cukup ekstrim. Biasanya disebut tanjakan maut. Sebab, kondisi ini memicu terjadinya kecelakaan hingga memakan banyak korban.

TURUNAN Silayur, Ngaliyan menjadi satu dari beberapa tanjakan/turunan yang cukup membahayakan. Di turunan ini, tidak hanya satu dua kali terjadi kecelakaan. Terutama, truk besar bermuatan berat yang hilang kendali akibat rem blong atau tidak dapat digunakan.

Saking seringnya, Kemi, penjual makanan di depan rumah sakit Permata Medika Ngaliyan tidak bisa mengingat, berapa banyak kecelakaan yang pernah terjadi. Ia mengaku kerap menjadi bagian dari kerumunan orang yang menyaksikan maupun membantu evakuasi korban kecelakaan. Bagaimana tidak, tempat ia bekerja hanya berjarak tak lebih dari 50 meter dari lokasi terakhir terjadinya kecelakaan.

”Sudah sering sekali. Mbuh karena rem blong, mbuh karena apa, mbuh karena apa lagi. Sering pokoknya. Kemarin terakhir menghantam sana,” ujar perempuan kelahiran 1966 ini sembari menunjuk lokasi kejadian. Tak jauh dari Superindo atau sekitaran Puri Permata Ngaliyan.

Ia mengaku cukup was-was dengan seringnya kecelakaan di sekitar tempatnya bekerja. Sehari-hari Kemi memang berjualan dengan membangun tenda di atas saluran air depan Rumah Sakit Permata Medika.

”Tapi kalau sini masih agak jauh jadi nggak begitu was-was banget. Seringnya yang sebelah sana,” ia menunjuk tempat yang dipakai oleh pedagang buah bermobil di pinggir jalan. Ada dua pedagang, semangka dan nanas. Beberapa taksi juga berjejer di sekitaran sini.

Sementara di seberang jalan dari lokasi ini, terdapat bangunan bambu yang merupakan bengkel tambal ban sekaligus warung kopi dan makanan. Tepat di ujung atau habisnya turunan Jalan Silayur.

Mona yang sudah 10 tahun berjualan bersama suaminya mengaku tidak khawatir meskipun ia sering menyaksikan terjadi kecelakaan di sekitar tempatnya berjualan. ”Lillahitaala. Ndelalah selalu diberi keselamatan. Karena kendaraan dari atas selalu bantingnya ke kanan,” bebernya sembari menunjuk 3-4 taksi yang terparkir. Sementara para sopirnya, nongkrong di warungnya ini.

Ia menceritakan bangunan tempat ia berjualan adalah tanah milik Permata Puri. Sebelumnya, ia berjualan di tempat yang agak menjorok ke bahu jalan. ”Nanti kalau ada pelebaran kami mundur. Kami sudah izin sama yang punya tanah. Dulu malah agak ke jalan situ,” kenangnya.

Beberapa menit di warung ini memang cukup mendebarkan dada melihat kendaraan dari atas yang melaju kencang menuruni Silayur. Terlebih kendaraan besar layaknya bus dengan kondisi yang terlihat cukup memprihatinkan.

Turunan Silayur memang cukup curam. Beberapa truk bermuatan terlihat ngos-ngosan ketika menaiki tanjakan ini. Terlebih, kebanyakan kendaraan besar melintas dengan membawa muatan berat, semen misalnya.

Sebaliknya, dengan kemiringan jalan, ketika turun dapat dipastikan kendaraan akan nggelondor. Gigi rendah dan permainan rem menjadi penting ketika para sopir menuruni jalan ini. Seperti salah satu truk pengangkut bahan bakar minyak yang kebetulan koran ini jumpai melintas. Lampu stop belakang terlihat terus menyala, tanda sopir terus memainkan kaki pada rem truk untuk mengurangi laju kendaraan. Jika rem tak fungsi?

Turunan jalan ini tercatat cukup panjang dengan kondisi jalan masih bagus karena pengaspalan yang baru selesai dilakukan. Beberapa bagian bahkan sedang dalam proses pengerjaan. Turunan dimulai dari sebelum masjid Baitut Taqwa Duwet Beringin Ngaliyan, Jalan Moch Ikhsan hingga hampir RS Permata Medika. Di sepanjang jalan ini, banyak tanda peringatan dipasang pemerintah, kepolisian maupun jasa marga.

Sebelum sampai masjid Baitut Taqwa, bisa ditemui satu peringatan bertuliskan ”Awas Turunan Tajam Pindah Gigi Rendah” oleh unit lantas polsek Ngaliyan yang disponsori salah satu toko ritel. Disusul lampu hati-hati yang dipasang di sekitaran Star Karaoke. Selain agak tajam, turunan di sekitaran sini memang agak berbelok.

Peringatan kembali muncul untuk mengurangi kecepatan di sekitar SDN Ngaliyan 05 Semarang. Tak jauh, di sekitar area pemakaman setelah SD diingatkan kembali dengan tulisan ”Rawan Kecelakaan”. Beberapa meter setelahnya, di median jalan, dapat dijumpai lagi tulisan ”Rawan Kecelakaan”.

Di depan Villa Esperanza, Dishub Kota Semarang mengingatkan dengan plang bertuliskan ”Turunan Tajam”, juga imbauan agar sopir pindah ke gigi rendah. Tak jauh, di median jalan, ada tulisan imbauan untuk mengurangi kecepatan. Sesampainya di Pandana, Polda Jateng, Dishub Jateng, bersama Jasa Raharja kembali memperingatkan dengan plang bertulis ”Kurangi Kecepatan Turunan Tajam”.

Dua plang terakhir adalah pemberitahuan bertuliskan ”Truk MST ≥ 8 ton
dilarang masuk kecuali jam 23.00-04.00
” disusul tulisan ”Hati-hati 100 meter Rawan Laka Lantas” di depan Perumahan Permata Puri atau persimpangan Kantor SAR Semarang sebelum RS Permata Medika. Terhitung ada sekitar 10 tanda peringatan di sepanjang jalan ini. (sga/ida)