DIPERJUALBELIKAN : Burung Kenari, meski hasil budidaya tetap dicintai para pecinta burung, banyak diperjualbelikan dan diperlombakan di berbagai tempat. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIPERJUALBELIKAN : Burung Kenari, meski hasil budidaya tetap dicintai para pecinta burung, banyak diperjualbelikan dan diperlombakan di berbagai tempat. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Sejumlah burung yang selama ini dipelihara warga, ternyata masuk ke dalam 919 daftar hewan yang dilindungi. Setelah keluar Peraturan Menteri LHK nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Tepatnya, 562 hewan di antaranya, jenis burung atau hampir 61 persen. Di antaranya burung Kenari Melayu, Pleci, Cucak Rowo, Murai Batu, dan Glatik Jowo.

PASAR Burung Karimata masih didominasi pedagang yang menjual beberapa burung yang masuk daftar dilindungi oleh pemerintah. Ada Burung Pleci yang warnanya hijau, dijual dengan harga Rp 50 ribu per ekor. Burung Gelatik Jawa harganya Rp 100 ribu per ekor. Bahkan, masih ada yang menjual Burung Cucak Rowo, harganya mulai Rp 5 juta hingga Rp 15 juta.

“Di pasar ini, memang masih menjual beberapa jenis burung berkicau yang dilindungi pemerintah,” kata salah satu pedagang burung di Pasar Karimata, Agus Zaenal kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang ini.

Pedagang lain, Alex Mahendra juga mengatakan di pasar tersebut ternyata tidak hanya Burung Pleci dan Gelatik Jawa yang diperjualbelikan. Ada juga Burung Murai Batu yang harganya Rp 80 ribuan.

Para pembeli, umumnya memang dari kalangan pecinta burung. Mereka juga paham mengenai peraturan pemerintah terkait burung yang dilindungi tersebut. Tapi mereka beranggapan bahwa burung yang dibeli berasal dari pembudidayaan lokal.

“Ya kalau selama tidak menyakiti dan membunuh burung langka tersebut, tidak apa-apa. Lagi pula, ini dibudidayakan agar tidak punah. Terlebih burung yang kami pelihara, juga diberi makan dengan baik dan kami kembangbiakan,” Jelas Nur Rohman, salah satu kolektor burung saat ditemui di Pasar Karimata.

Para kolektor burung, juga menguatkan pendapatnya mengenai perlombaan burung berkicau. Beberapa perlombaan burung masih dikuatkan dengan adanya sertifikat.

“Saat ini kalau lomba, masih terbilang aman, karena kami memilki sertifikat burung tersebut,” bebernya kembali.

Sedangkan saat ini masih banyak pedangan yang belum mau memberikan keterangan mengenai Burung Cucak Rowo. Meski ada beberapa pedagang yang menjual burung mahal tersebut. “Ya saya tidak mau memberikan keterangan, karena hal seperti ini akan membuat keributan,” ungkap salah satu pedagang penjual Burung Cucak Rowo.

Hal yang sama disampaikan pemilik Saung Canary Semarang, Gilang. Dia sudah tahu adanya peraturan pemerintah tersebut. “Sudah dengar mas. Tapi nggak masalah, tidak berimbas kepada permintaan pencinta Burung Kenari,” katanya.

Pria yang menjual Burung Kenari sejak tahun 2013 ini, menegaskan bahwa larangan memperjualbelikan Burung Kenari, khusus jenis Kenari Melayu yang merupakan burung asli Indonesia. Jenis tersebut sangat langka, karena habitatnya di hutan dan susah ditemukan. Terlebih memiliki corak dan warna berbeda dengan Kenari yang ada di pasaran. “Setahu saya, tidak ada yang menjual Kenari jenis tersebut, karena memang dilarang,” tambah pria yang tinggal di Jalan Wiroto Raya, Krobokan, Semarang ini.

Jenis Kenari yang ia jual adalah Kenari biasa. Kenari tersebut, sebelumnya burung Kenari impor, kemudian dikembangbiakan untuk diperkualbelikan. Kenari ini, termasuk burung yang gampang berkicau. “Kenari jenis ini yang sering dilombakan, banyak yang mengembangbiakkan,” tuturnya.

Dari segi warna, Kenari yang ia jual bisa dibilang beragam, mulai dari kuning, putih, sunkis, kenari panda, star bule, romeo dan hijau botol. Itu masih dibagi lagi, dari segi klasifikasi ada kenari lokal bahan, loper gacor, kenari af bahan, af gacor, fi dan lainnya. “Klasifikasi inilah yang membuat harganya semakin mahal karena semakin tinggi grade-nya. Speknya semakin bagus dan kicuannya merdu. Dari segi harga mulai dari ratusan ribu sampai Rp 2 jutaaan,” tandasnya.

Terkait larangan memperjualbelikan Kenari Melayu, Gilang mengaku setuju. Apalagi untuk mengembangbiakkan, burung tersebut bisa dibilang gampang-gampang susah karena harus menyesuaikan suhu. Artinya jika terlalu panas tidak akan menetas, demikian pula jika terlalu dingin. “Saya juga belum pernah melihat langsung Kenari Melayu. Tapi kalau langka, tentu harus dilindungi atau coba dikembangbiakkan agar tidak punah,” tambahnya. (den/mg8/mg12/mg16/mg21/ida).