Penjual Sayur di Kursi Wakil Bupati

Ngesti Nugraha, Wakil Bupati Semarang

171
PEKERJA KERAS : Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha meninjau stan UMKM di sebuah acara yang digelar Pemkab Semarang. (DOK NGESTI NUGRAHA)
PEKERJA KERAS : Wakil Bupati Semarang Ngesti Nugraha meninjau stan UMKM di sebuah acara yang digelar Pemkab Semarang. (DOK NGESTI NUGRAHA)
INSPIRATIF: Ngesti Nugraha saat bersama anak dan istrinya.
INSPIRATIF: Ngesti Nugraha saat bersama anak dan istrinya.

RADARSEMARANG.COM – MASYARAKAT Kabupaten Semarang saat ini mengenal Ngesti Nugraha sebagai Wakil Bupati dan Ketua DPC PDI Perjuangan. Tapi tidak banyak yang tahu, di balik sosok seorang Ngesti sekarang, tersimpan sejarah penuh perjuangan.

Siapa yang sangka, sebelum terjun di dalam dunia politik, Ngesti pernah berjuang untuk bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Ngesti pernah menjadi kondektur bis di Kabupaten Semarang.

Hal itu ia lakukan untuk membentuk diri menjadi seseorang yang mandiri. Merasa bukan dunianya di bidang transportasi, Ngesti selanjutnya beralih menjadi penjual sayur keliling di pasar-pasar.

Jualan sayuran tersebut merupakan salah satu kejelian melihat potensi wilayah asalnya yaitu Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang banyak ditumbuhi sayur-mayur. “Kemudian saya jual itu sayuran ke pasar-pasar,” ujar Ngesti kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (11/8).

Dunia jual beli sayur ia lakoni dan membuahkan hasil. Ngesti pernah menyuplai sayur-mayur sampai ke ibukota, Jakarta. Hal itu ia lakoni bertahun-tahun.

Ketika ia ditanya apakah malu berjualan sayur keliling pasar, Ngesti menjawab tidak. “Saya tidak malu, pekerjaan apa saja yang penting halal, saya lakoni,” ujarnya.

Kerasnya kehidupan tidak menyurutkan niatnya untuk terus berusaha. Di sisi lain, kecintaannya akan organisasi kemasyarakatan tetap ia lakoni. Pada waktu tertentu, ia tetap harus berjualan sayur-mayur. Maklum, Ngesti terlahir bukan dari keluarga yang memiliki ekonomi lebih. “Saya dari keluarga ekonomi biasa, namun saya tetap berusaha, dan tidak boleh menyerah. Itu memang pesan dari kedua orangtua saya,” tuturnya.

Jika melihat kondisinya saat ini, ia sangat berterima kasih atas kondisinya terdahulu. Pengalaman selama bersinggungan dengan masyarakat biasa, ia jadikan ilmu untuk membuat kebijakan yang benar-benar pro dengan masyarakat.

Di antaranya ide merombak wilayah kawasan wisata Bandungan yang terkenal dengan esek-esek dan dunia malam. Bandungan hendak ia ubah menjadi kawasan wisata yang bersih dan lebih tertata. Diharapkan perubahan ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. “Karena saya ingin membuat ikon untuk Kabupaten Semarang, Bandungan jika dikelola dan dibentuk dengan baik, maka akan sangat berdampak ke perekonomian masyarakat,” kata Ngesti. (eko.wahyu.budiyanto/ton)