Meniti Karir Politik dari Nol

308

RADARSEMARANG.COM – DARAH politik Ngesti Nugraha turun dari orangtua. Kedua orangtuanya dulu merupakan aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI). Meski begitu, Ngesti membangun karir politiknya memang dari nol.

Keingiannya untuk terjun di dunia politik muncul setelah bapaknya menjadi anggota legislatif di Kabupaten Semarang periode 1992 sampai 1997. “Awalnya saya sering nderekke bapak saya karena beliau kepala desa, menjadi anggota dewan kemudian dia juga sering turun ke masyarakat. Awalnya saya tidak tahu politik,” katanya.

Ngesti mengawali karir berpolitik dengan masuk ke organisasi kepemudaan PDI (sebelum menjadi PDIP) pada 1997. Ngesti Muda sampai nekat ke Jakarta untuk ikut demonstrasi meruntuhkan orde baru pada 1997.

Leinginannya untuk menjadi anggota legislatif juga semakin kuat. “Karena bisa memperjuangkan aspirasi rakyat,” tuturnya.

Wilayah politik yang ia tuju pertama kali sebenarnya Jakarta. Tapi karena tidak memiliki KTP Jakarta, ia harus kembali lagi ke Kabupaten Semarang. Pada 1997, PDI pecah dengan munculnya PDI Pro Megawati. Ia pun turut andil di wilayah Kabupaten Semarang.

Karena gaung PDI Pro Megawati semakin meluas, hanya bermodal semangat, Ngesti bersama teman-teman aktivis membentuk kepengurusan tingkat kecamatan di Kabupaten Semarang. “Dulu sebelum jadi PAC namanya Korcam (koordinator kecamatan). Pada saat itu pula saya mencari tokoh-tokoh PDI di Kabupaten Semarang untuk saya ajak berkomunikasi dan bergabung dengan PDI Pro Megawati,” ujarnya.

Pembangunan jaringan hingga tingkat ranting juga ia lakukan. Pada 1999, PDI Pro Megawati berubah menjadi PDIP Perjuangan (PDIP). “Siapa yang mau, berani, dia bisa jadi pengurus ranting. Bagaimanapun itu pasti ada rintangan, namun saya masih tetap ada, dan tetap jalan terus,” katanya.

Pada tahun 2000 PDIP Kabupaten Semarang menggelar muscam (musyawarah kecamatan), dan membentuk pengurus anak cabang (PAC). “Pada 2002 saya dipercaya menjadi ketua PAC,” ujarnya.

Pada 2004, ia diminta teman-teman untuk maju menjadi anggota legislatif. Tujuannya untuk membawa aspirasi dari masyarakat tingkat bawah. Pada saat itu, aktivis lebih mudah menjadi anggota legislatif karena sistem pencalegan masih menggunakan voting internal partai. “Saya dapat nomor urut 3, saya terpilih. Di dapil saya dapat tiga kursi, yaitu dari Kecamatan Getasan, Kecamatan Susukan, dan Kecamatan Kaliwungu,” katanya. Elektabilitas Ngesti pun kian membaik, karena kemampuan politiknya.

Bahkan pada 2009 saat grafik PDIP turun, ia memperoleh suara terbanyak se-Kabupaten Semarang dalam Pileg. Ngesti mengumpulkan 9.496 suara. Hal itu mengantarkannya ke kursi Bendahara DPC PDIP Kabupaten Semarang pada 2009 hingga 2015. “Di dapil saya dapat tiga kursi kemudian by name saya dapat 14.729 suara. Satu kursi waktu itu BPP (Bilangan Pembagi Pemilih)-nya hanya 13.200. Sehingga saya mendapat selisih lebih,” katanya.

Di dalam internal DPC PDIP Kabupaten Semarang, Ngesti pernah menjadi ketua PAC Getasan pada 2000 hingga 2005. Kemudian pada 2005 hingga 2010 ia terpilih lagi menjadi ketua PAC. Dan bendahara DPC pada 2010 hingga 2015.

Ketika menjadi anggota legislatif pada 2009, ia ditugaskan menjadi Sekretaris Komisi C dan Panitia Anggaran DPRD Kabupaten Semarang sampai 2014. Pada 2014 ia diangkat menjadi Ketua Komisi C dan masuk di Badan Anggaran sampai 2015.

Karena hasil survei internal PDIP yang menyatakan elektabilitas Ngesti baik, akhirnya ia ditugaskan partai untuk maju mendampingi Mundjirin dalam Pemilihan Bupati Kabupaten Semarang. Pasangan Mundjirin dan Ngesti berhasil memenangi Pilkada Kabupaten Semarang 2015. Ngesti menjabat Wakil Bupati Semarang hingga sekarang. (eko.wahyu.budiyanto/ton)