Ledakan Energi dari Ujungnegoro

426
MEGAH – PLTU 2x1.000 MW Ujungngeoro Batang nampak dilihat dari jalur tol Batang Semarang, yang cukup megah dan menawan saat malam hari. (Lutfi Hanafi/radarsemarang.com)
MEGAH – PLTU 2x1.000 MW Ujungngeoro Batang nampak dilihat dari jalur tol Batang Semarang, yang cukup megah dan menawan saat malam hari. (Lutfi Hanafi/radarsemarang.com)
MANDIRI - Aktivitas pekerja di  KUB Harum Wangi Laundry saat menerima orderan dari pelanggannya. (Lutfi Hanafi/radarsemarang.com)
MANDIRI – Aktivitas pekerja di  KUB Harum Wangi Laundry saat menerima orderan dari pelanggannya. (Lutfi Hanafi/radarsemarang.com)

RADARSEMARANG.COM – Sejak 5 tahun belakangan, Batang menjadi perbincangan, di semua media, hampir semua pejabat negara hingga presiden sering menyebut daerah yeng terletak di jalur pantura barat ini. Bangunan dengan kapasitas 2 x 1.000 MW di Ujungnegoro Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang menjadi salah satu energinya. PLTU Batang menjadikan Kabupaten Batang kini percaya diri.

LUTFI HANAFI

Sore itu Purwa Hidayati salah satu pengurus dan anggota Perpusdes Desa Tulis dengan ceria menyandarkan motornya. Perempuan berhijab ini, baru selesai mengantar paket makanan dan baju laundry. Bisnis jualan makanan berupa salad buah dan laundry ini belum lama dijalani. Namun hasilnya cukup lumayan, bahkan bisa menabung.

Alhamdulillah kini punya aktivitas jualan dan jasa laundry, setelah mendapat inspirasi dari perpustakaan desa dan bantuan dari PLTU Batang,” ujar warga Desa Tulis Dukuh Pesawahan RT 05/01 ini kepada Radar Semarang, pada Minggu (12/8/2018).

Untuk bisnis laundry yang diberi nama KUB Harum Wangi Laundry ini, jelas Purwa, merupakan usaha ibunya bersama ibu rumah tangga lain di kampungnya.

“Ini memang rumah pribadi kami, tapi jadi tempat KUB Laundry,” kata Purwa mewakili ibunya, Subadriyah.

Subadriyah sebelumnya adalah ibu rumah tangga biasa yang hanya berharap penghasilan dari suaminya seorang perangkat di desa setempat. Ibu tiga orang anak ini, sejak setahun belakangan bertekad mendirikan usaha laundry binaan Bhimasena Power Indonesia (BPI) PLTU Batang bersama 5 rekannya yang senasib.

Selain Purwa ada Diniza, ibu muda ini kini juga berbisnis kue ulang tahun. Bisnisnya juga berawal dari aktifnya menggunakan fasilitas di perpustakaan desa, yang dibentuk oleh PT BPI pengelola PLTU Batang, bentuk corporate social responsibility (CSR) kepada warga terdampak. Dengan modal ilmu dari berbagai media online, Youtube hingga buku dia mantap berbisnis. Dan ternyata untungnya lumayan, hingga kini masih berlangsung.

“Saya bosan menjadi pengangguran, lalu saya mencari tahu bagaimana membuat cup cake sebanyak mungkin melalui fasilitas internet di perpusdes,” jelasnya.

Kisah terbangunnya kemandirian ekonomi sederhana ini, adalah bentuk hadirnya PLTU 2×1.000 MW di Desa Ujungnegoro Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang. Selain keduanya masih banyak sosok warga Batang yang kini memiliki usaha dengan hadirnya PLTU tersebut.

Manajer CSR PT BPI Bhayu Pamungkas menjelaskan, sejak tahun 2015 – 2017 PLTU Batang telah membentuk 15 perpusdes dan 32 perpustakaan mini (taman bacaan di pendidikan keagamaan informal seperti TPQ/madin)  di kecamatan terdampak PLTU Batang. Seperti di  Kandeman, Tulis dan Subah dengan bantuan berupa layanan internet, puluhan komputer, hingga puluhan ribu buku.

“Selain membuat perpusdes , kami juga mendirikan kelompok usaha bersama (KUB), dengan memfasilitasi proses pembentukan memberikan pelatihan, modal usaha dan peralatan,” ujarnya, Sabtu (11/8/2018).

Sejak 2013 sampai Maret 2017  PT BPI telah memfasilitasi pembentukan 159  KUB yang rpusdesberanggotakan 2.336  orang dengan berbagai jenis usaha (peternakan, perikanan, jasa produksi, konveksi dan home industri).

Tujuan pembentukan KUB merupakan salah satu wujud komitmen PT BPI untuk  menumbuhkan wirausaha dan pengembangan usaha-usaha mikro, guna menghadapi efek penggandaan ekonomi (multiplier economic effect) dari pembangunan PLTU 2 x 1.000 MW Batang.

PLTU Ujungnegoro Batang

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah berdiri di atas lahan seluas 226 ha. Tercatat, dana investasi yang dihabiskan untuk membangun pembangkit listrik tersebut mencapai US$ 4,2 miliar. Ditargetkan dapat mulai beroperasi secara penuh pada 2020.

Seperti diketahui, BPI merupakan perusahaan joint venture yang didirikan oleh tiga perusahaan konsorsium yakni Electric Power Development Co., Ltd (J-Power), PT Adaro Power yang merupakan anak perusahaan Adaro Energy dan Itochu Corporation (Itochu).

PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW merupakan proyek infrastruktur pertama kerja sama pemerintah dan swasta (KPS) dengan menerapkan skema build, own, operate, transfer (BOOT). Proyek ini menjadi bagian dari master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang akan menjadi lokomotif dalam perkembangan ekonomi Jawa.

PLTU Jawa Tengah 2 x 1.000 MW akan menggunakan teknologi terkini yang lebih ramah lingkungan dan efisien, yakni teknologi ultra super critical. Presiden Direktur PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) Takashi Irie mengatakan proses pembangunan proyek yang akan menghasilkan kapasitas listrik 2.000 megawatt (MW) tersebut saat ini telah mencapai  50,2 persen. Dia pun mengklaim bahwa proyek tersebut akan rampung sesuai target awal.

“Dari dua unit yang ada, unit satu targetnya selesai pada Juni 2020, sedangkan untuk unit dua pada Desember 2020. Sampai saat ini belum ada kendala berarti yang kami temui,” papar Irie kepada radarsemarang.com, Sabtu (11/8/2018).

Seperti diketahui, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) akan membeli daya listrik PLTU Batang selama 25 tahun sejak operasional (comercial operation date/COD). Pasokan listrik tersebut akan disalurkan melalui saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet) 500 kilo-volt (KV) sepanjang 7 km.

Ke depan  PLTU Batang akan berikan pasokan listrik untuk pesisir utara Pulau Jawa, dengan membantu menambah suplai listrik PT PLN Jawa-Bali sebesar 5,7 persen. Selain itu, pembangkit bertenaga uap dari batu bara tersebut akan membantu untuk mencukupi kebutuhan industri di beberapa daerah di Jawa Tengah, antara lain Pekalongan, Kendal, dan Semarang.

Sementara itu, terkait tuntutan dampak lingkungan, pihaknya juga mengklaim sebagian besar abu batu bara hasil pembakaran akan diambil oleh pabrik semen di Indonesia. Adapun sisanya akan dibuang ke tempat penimbunan akhir yang telah mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Selain itu, sejumlah program berorientasi lingkungan juga telah diimplementasikan. Antara lain berupa penghijauan kembali area proyek PLTU, penanaman mangrove dan vegetasi pantai, pembuatan dan pemasangan rumah ikan, serta pemantauan rutin biodiversitas di dalam dan di sekitar area proyek.

Kelestarian alam menjadi perhatian serius bagi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 x 1.000 MW Jawa Tengah yang dilakukan oleh PT Bhimasena Power Indonesia (BPI).  Hal ini salah satunya diwujudkan dengan dibuatnya ruang terbuka hijau atau area reforestasi seluas 5 ha di sekitar lokasi proyek.

“Reforestasi juga merupakan salah satu bentuk pemenuhan kewajiban yang kami lakukan berdasarkan amdal,” ujar Presiden Direktur PT Bhimasena Power Indonesia, Takashi Irie.

Menurutnya, area reforestasi dirancang untuk menjadi tempat berlindung dan sumber pakan bagi berbagai jenis satwa di area proyek. Selain itu, BPI pun mengalokasikan lahan 1 hektare di sebelah timur proyek PLTU yang dikhususkan untuk area buffer dan tempat berlindung satwa liar.

Proses penghijauan area reforestasi itu dimulai pada 2013 bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Batang. Sebanyak 28 jenis tumbuhan dengan 2.989 bibit ditanam sepanjang 2013-2014 di dalam area reforestasi. Pada 2017 atau 3 tahun sejak kegiatan penanaman dilaksanakan, BPI memulai pemantauan keanekaragaman hayati yang berada di sekitar proyek khususnya di dalam area reforestasi.

Sementara untuk menjaga lingkungan biota laut, PT BPI sejak tahun 2016 hingga 2018 telah membuat rumah ikan(fish apartement) di beberapa titik lepas pantai. Di antaranya di lokasi area Karang Maeso, Karang Kretek, dan sekitar timur dan barat jetty. Sudah ratusan modul rumah ikan yang terbuat dari partisi plastik dan beton yang ditenggelamkan di laut sekitar area proyek. Area sebaran rumah ikan sampai tahun 2017 akhir sudah mencapai 15 hektare. Sementara tahun 2018,  ada 216 kubus terumbu karang yang saat ini masih dalam proses pengerjaan oleh para nelayan roban.

“Pembuatan dan pemasangan rumah ikan merupakan komitmen kami dalam memberdayakan nelayan-nelayan yang terdampak pembangunan PLTU. Sedangkan untuk lingkungan pantai, BPI rutin menanam mangrove dan melestarikan vegetasi pantai,” ujar Irie.

Tidak hanya itu, para petani, buruh tani dan petani penggarap juga mendapat kompensasi sosial.  Selain bantuan dana tunai yang diberikan secara temporary, petani penggarap dan buruh tani yang terdampak pembangunan PLTU Batang diberikan lahan seluas 32 hektare. Lahan pengganti tersebut selanjutnya telah dibagi rata kepada 218 petani penggarap terdampak di mana setiap petani mendapat lahan garapan sekitar 1.200 meter persegi (m2).

Ledakan Ekonomi Baru

Jika PLTU ini berdiri, Pulau Jawa dan Bali tidak hanya teraliri listrik namun juga ada pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Batang. Pasalnya dengan pembangunan dan beroperasinya, otomatis ada penambahan tenaga kerja lokal. Ditambah suburnya industri-industri baru, yang mengincar sumber  listrik baru yang berefek perekonomian di Kabupaten Batang semakin maju.

Bupati Batang Wihaji mengungkapkan, pemerintah daerahnya sudah membentuk tim pengawalan PLTU untuk mendukung pelaksanaan proyek pembangkit di daerahnya.

“Tim pengawalan PLTU kami bentuk untuk mengawal proyek agar berjalan aman dan lancar. Ini bagian dari itikad baik pemerintah daerah untuk memastikan proyek berjalan lancar,” katanya.

Hal tersebut dilakukan terkait program investasi di pemerintahan, Bupati Batang Wihaji dan Wakilnya Suyono menjanjikan mampu menghadirkan 100 investor dalam 5 tahun kepemimpinannya untuk menyerap 10.000 lapangan kerja.

“Hasil rilis BKPM RI per Oktober 2017 menunjukan data komulatif realisasi investasi di Kabupaten Batang sepanjang Januari-September 2017 menembus angka Rp 3.524 miliar dan menempatkan Batang sebagai ranking kedua di Jateng,” sebut Wihaji bangga.

Iklim investasi pun diyakini kian meningkat dengan lancarnya pembangunan PLTU Batang. Terbukti pada akhir tahun 2017 kemarin, bupati menandatangani letter of interest (LOI) dengan 2 investor. Ada PT Kukdong yang berminat menanamkan investasinya hingga Rp 125 M, serta PT Fit Food Industry dengan rencana investasi Rp 25 M. Selain itu, masih menunggu ratusan perusahan yang mengajukan izin untuk berdiri di Batang.

“Kami masih proses untuk Perda RTRW nya, untuk memetakan lahan industri di Batang. Karena PLTU Batang 2×1.000 MW jelas menjadi magnet banyak pengusaha datang, karena energi tersedia dengan  mudah,” ujarnya.

Wisata Tumbuh Subur

Kabupaten Batang kini sudah mulai dikenal, banyaknya pendatang efek dari hadirnya pekerja di PLTU Ujungnegoro diantisipasi pegiat wisata dan layanan hospitality. Hotel dan berbagai layanan tempat tinggal tumbuh subur, tidak hanya di Kabupaten Batang, namun hingga daerah tetangga, seperti Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan dan Kendal.

“Hampir sepertiga penghuni hotel kami adalah long stay, dari pegawai dari PLTU Batang. Baik dari PT BPI maupun sub kontraktornya, kami bersyukur pendapatan hotel stabil sejak 4 tahun belakang ini,” ujar General Manager Hotel Sahid Mandarin Pekalongan Ahmad Subhkan.

Hotelnya yang terletak di perbatasan Batang dan Kota Pekalongan memang menjadi salah satu jujugan. Selain itu masih ada sekitar 6 hotel lain di Batang dan Kota Pekalongan yang merasakan efek hadirnya PLTU tersebut.

Semakin dikenalnya Batang, juga dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Batang gencar promosi wisata. Bahkan secara resmi Pemkab Batang memiliki program Visit Batang 2022. Seiring dengan dimulainya operasional PLTU Batang, kini juga mulai banyak muncul destinasi wisata baru.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso menjelaskan, kini di wilayah Batang bermunculan banyak destinasi wisata baru maupun terbarukan. Bahkan warga Batang juga sudah percaya diri memperkenalkan diri berasal dari Batang jika di luar kota.

“Efek semakin terkenalnya nama Batang, berakibat Batang muali dilirik masyarakat luar kota untuk berwisata. Semangat pemerintah dan warganya dalam mengelola wisata juga salah satu penyebabnya,” ujarnya.

Adanya sumber energi besar dari PLTU Ujungnegoro juga berdampak dengan iklim bisnis wisata. Karena kini di Batang juga mulai ada investor-investor baru dalam bisnis hospitality. Karena beberapa perusahaan, sudah antre mengajukan izin mendirikan hotel di Batang. Beberapa lokasi strategis seperti di pinggir pantai menjadi jujugan utama.

“Pemkab juga memudahkan, bahkan kini mendorong banyak investor baru untuk masuk ke Batang. Karena kebutuhan hotel dan penginapan cukup tinggi, efek dari adanya PLTU. Selama ini yang diuntungkan daerah tetangga saja, semoga ke depan Batang lebih maju,” harapnya. (*/lis)