Kantin Kejujuran sebagai Media Pembelajaran Antikorupsi

222
Oleh : Sholihati
Oleh : Sholihati

RADARSEMARANG.COM – Korupsi sudah menjadi penyakit bangsa Indonesia, menyerang ke seluruh syaraf dan nadi masyarakat kita. Korupsi seolah tak lagi mengenal kasta. Dari kalangan anggota Dewan, pejabat negara bahkan sampai pada level terendah pada tataran masyarakat kita.

Operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK tak kunjung membuat semua pihak jera. Justru semakin banyak trik dan cara yang dilakukan oleh para pelaku korupsi guna menghindari jeratan jeruji penjara. Dari hari ke hari, ratusan kepala daerah beserta kroninya masuk dalam OTT KPK, tak berhenti hanya pada kepala daerah, para kroni dari pihak swasta pun semakin meramaikan ruangan KPK dengan baju oranyenya.

Pengertian korupsi menurut UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Masifnya perilaku korupsi yang disiarkan media televisi dan media sosial memunculkan kekhawatiran bagaimana nasib anak-anak didik kita. Mereka yang sedang belajar mencari jati diri, menemukan banyak tokoh di luar sana yang melakukan perilaku korup. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama telah mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada semua mata pelajaran, pendidikan karakter terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran siswa. Salah satunya adalah pendidikan karakter antikorupsi

Pendidikan antikorupsi perlu diperkenalkan sejak dini. Salah satu alternatif metode untuk menanamkam jiwa antikorupsi adalah perlu kiranya sekolah-sekolah untuk mengadakan “Kantin Kejujuran”.

Kantin kejujuran ini dikelola oleh siswa dalam pengadaan jajanan maupun alat-alat tulis yang modal awalnya dihimpun dari iuran masing-masing siswa. Konsep kantin kejujuran adalah siswa melayani dirinya sendiri. Mulai dari pengambilan barang yang dibeli, pembayaran maupun pengembalian sisa pembayaran.

Di awal-awal akan terasa asing bagi siswa karena mereka tidak terbiasa melakukan hal ini sebelumya, tapi pada akhirnya mereka mau melakukan. Guru pendamping secara rutin juga menyampaikan betapa pentingnya menjaga kejujuran kepada siswa dalam berbelanja di kantin, karena jika ada beberapa siswa yang mengambil jajan tidak membayar ataupun mengambil jajan tidak sesuai dengan harga nominal maka yang rugi adalah mereka sendiri. Karena modal mereka akan habis dan uang iuran kantin akan semakin besar.

Adapun jika mereka jujur dalam berbelanja maka akan diperoleh laba dari hasil penjualan yang akan berdampak pada kembalinya modal dan adanya keuntungan yang akan dibagi bersama. Seiring berjalannya waktu, diharapkan kantin kejujuran ini menjadi pioner dalam kerangka pikir siswa bahwa perilaku korupsi sangat merugikan dan kita bisa mencegah perilaku itu jika ada keinginan bersama untuk mencegahnya.

Kantin kejujuran ini sangat efektif sebagai media pembelajaran antikorupsi, siswa merasa bahwa Allah adalah satu-satunya pengawas tertinggi dan kita tidak bisa sembunyi dari kejahatan sekecil apapun. Untuk menunjang efektifitas kantin kejujuran ini, selain melibatkan siswa untuk belajar wirausaha, pendampingan guru juga diperlukan. Pada prinsipnya, kantin kejujuran ini hanya mengandalkan “Allah Melihat, Malaikat Mencatat”. Semoga keberadaan kantin kejujuran ini akan menanamkan karakter jujur pada siswa sehingga nantinya akan terhindar perilaku korupsi saat dewasa nanti. (kpig1)

Guru MTs NU 02 Batang