Gunakan Konsep ATM, Tekankan Inovasi

Hobi Naik Gunung, Sukses Berbisnis Tas Gunung

457
KREATIF : Haryono dengan tas hasil produksinya di Plumbon RT 4 RW 3 Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KREATIF : Haryono dengan tas hasil produksinya di Plumbon RT 4 RW 3 Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Haryono Bin Tamuri, 31, salah satu pemuda kreatif berjiwa bisnis. Bermula dari kesulitan mendapatkan tas gunung berkualitas, kini sukses mengembangkan bisnis rumahan. Bahkan banyak dicari para pecinta alam di Indonesia.

MIFTAHUL A’LA

HOBI jika ditekuni, bisa mengantarkan seseorang meraih kesuksesan. Setidaknya, itu yang dialami Haryono bin Tamuri, warga Plumbon RT 4 RW 3 Wonosari, Kecamatan Ngaliyan. Berkat, hobinya mendaki gunung, terdorong memproduksi tas gunung sendiri. “Kebetulan memang sudah sejak SMA hobi naik puncak gunung. Makanya memproduksi tas gunung sendiri,” akunya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku memproduksi tas gunung sendiri, bukan tanpa alasan. Semula ia merasa kesulitan mendapatkan tas gunung dengan kualitas bagus, tetapi harganya murah. Maklum, tidak semua anak muda memiliki uang banyak untuk membeli tas gunung dengan merek terkenal. “Akhirnya saya berinisiatif membuatnya. Awalnya untuk kepentingan sendiri,” katanya.

Gayung bersambut. Setelah tas gunung jadi, banyak teman sesama pecinta alam mulai tertarik. Ia menggunakan tas sendiri untuk mendaki dan banyak yang naksir dan memintanya untuk dibuatkan. Dari situlah, ia mulai memutuskan menerima orderan dari teman-temannya sendiri. Selain harganya tidak begitu mahal, ia menjamin tas gunung hasil produksinya memiliki kualitas bagus. “Ya dulu cuma membuat kalau ada teman yang pesan saja,” akunya.

Lambat laun, permintaan tas gunung semakin besar. Lantas ia memutuskan fokus dengan bisnis tersebut. Ternyata tidak mudah mengawalinya, karena untuk membuat satu tas gunung dengan kualitas bagus membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari. “Tergantung tingkat kerumitan, karena memang saya sendiri yang membuatnya demi mempertahankan kualitas,” tambahnya.

Untuk membuat tas gunung, ia menggunakan rumus atau model ATM. Yakni amati, tiru dan modifikasi. Sehingga, apa yang dihasilkan memiliki inovasi sendiri dan tidak kalah dengan merek terkenal lainnya. Sekarang iapun mulai mengembangkan bisnis tas miliknya dengan merek MEN. “Dalam bahasa Jawa artinya biar, supaya atau men laku, men laris dan men berkah (biar laku, biar laris dan biar berkah,” ucapnya tersenyum.

Untuk menghasilkan kualitas yang bagus, iapun menggunakan bahan yang bagus. Semua itu demi memuaskan pelanggan agar mereka tetap mengambil tas dari produksinya. Proses pembuatannya juga harus memperhatikan secara detail, agar hasilnya tidak mengecewakan. Selain itu, tidak hanya mengambil keuntungan besar, yang penting tidak rugi. Sejatinya, memulai bisnis tersebut karena hobi. “Kepuasan pelanggan utama, jadi kualitas harus benar-benar dijaga,” tambahnya.

Kini, Haryono terus melebarkan sayap. Tidak memproduksi tas gunung saja. Tas model gunung, carrier day pack, sling bag, ransel, tas pinggang dan sejumlah model tas lainnya turut diproduksi. Untuk memasarkannya, ia mengandalkan media sosial dan dari mulut ke mulut.

Ia berkomitmen terus mengembangkan usaha yang dibangun dari hobi. “Kalau yang berminat banyak, sampai Bali, Sumedang, Sumatera dan Pulau Jawa,” tambah lelaki yang sudah mendaki seluruh gunung di Pulau Jawa ini. (*/ida)