RADARSEMARANG.COM – PASCA diubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah BUMD, April lalu, manajemen Semarang Zoo terus melakukan pembenahan. Salah satu yang dikebut adalah turunnya izin lembaga konservasi (LK) yang ditargetkan bisa rampung pada Oktober atau November tahun ini. LK sendiri sangat dibutuhkan oleh pengelola Semarang Zoo agar bisa melakukan pertukaran hewan ataupun membeli hewan. Saat ini, kurang lebih ada 100 spesies hewan yang ada di Semarang Zoo. Jenis yang terbanyak adalah buaya yang mencapai 60 ekor dan hariamau mencapai 15 ekor.

“Dari BKSDA Provinsi telah rampung, kami sedang menunggu izin turun dari kementerian. Targetnya bisa Oktober atau November rampung, sehingga kita bisa mengebut perbaikan sarana ataupun prasarana dan menambah spesies hewan yang ada di Semarang Zoo,” kata Direktur PT Taman Margasatwa   Semarang (TMS) atau Semarang Zoo, Samsul Bahri Siregar.

Menurut Samsul, Semarang Zoo akan mencontoh konsep dari Bali Zoo. Dalam konsep tersebut, hewan yang ada akan disesuaikan dengan habitat hidupnya, dan tidak lagi berada di dalam kandang. Konsep ini selain enak dipandang, juga membuat hewan nyaman tinggal dan terjaga kesehatannya. Selain itu, juga untuk menarik pengunjung untuk datang ke Semarang Zoo. Pihaknya mengaku telah memiliki beberapa dokter hewan untuk merawat hewan yang sakit atau melahirkan.

“Konsep Semarang Zoo nanti akan lebih memberikan kenyamanan. Kalau hewan saat ini harus mempunyai lima kebebasan, seperti bebas dari rasa haus, lapar, sakit, dari siksaan, maka konsep kita harus lebih ‘membinatangkan’ binatang. Kita harus membuat hewan-hewan lebih nyaman, dan membuka wahana sebagai konservasi, juga sebagai education,” tambahnya.

Agar izin LK cepat rampung, rencananya ia bersama Pemerintah Kota Semarang akan terus mengawal. Terlebih rekomendasi dari BKSDA Provinsi telah dikantongi. Saat ini, lanjut dia, ada beberapa investor yang ingin bekerja sama dengan Semarang Zoo setelah melihat potensi yang dimiliki. “Fokus kita tentu masih izin LK, nanti setelah dapat, kami ingin sebanyak-banyaknya memiliki jenis hewan, bisa jadi bertambah dari 100 spesies, menjadi 150 spesies bahkan lebih banyak, lebih bagus,” ucapnya.

Setelah izin LK dikantongi, pembangunan sarana kembali akan dikebut pada 2019. Pihaknya mengaku akan ada penambahan wahana lain, dan perbaikan terutama kandang, dan penambahan wahana outbond, playgprund, ATV, serta yang lainnya guna memaksimalkan luasan lahan yang dimiliki. Tercatat Semarang Zoo memiliki luasan lahan sekitar 10 hektare, yang saat ini hanya digunakan sekitar 4 hektare saja.  “Pada 2020 kami targetkan bisa launching, apalagi di dekat Semarang Zoo ada exit tol Semarang-Batang, harapannya tentu bisa menjadi jujukan wisatwan,” paparnya.

Sejumlah hewan yang menjadi prioritas untuk dibeli adalah macan putih, harimau sumatera, zebra, jerapah, beruang dan masih banyak lagi. Pihaknya mengaku, saat ini biaya operasional dalam sebulan khusus untuk pakan mencapai Rp 200 juta, belum termasuk operasional lainnya. Angka tersebut harus ditutup dari pendapatan tiket yang dijual oleh Semarang Zoo. Harimau misalnya. Dalam sehari, seekor Harimau menghabiskan daging sapi sekitar 5 kilo, padahal ada 15 hariamu yang dimiliki Semarang Zoo. Belum lagi hewan lainnya seperti buaya.

“Untuk itu, jika LK sudah turun, nanti juga ada konsep feeding time binatang rusa, kijang dan lainnya, di mana kami bisa menjual sayur atau makanan binatang untuk pengunjung, sehingga bisa mendapat pendapatan bahkan mengurangi operasional pakan,”katanya. (den/aro)