Tiga Pejabat Polrestabes Dilaporkan Propam

94
CARI KEADILAN: Jefry Fransiskus menunjukkan bukti laporan ke Propam Polda Jateng. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CARI KEADILAN: Jefry Fransiskus menunjukkan bukti laporan ke Propam Polda Jateng. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tiga pejabat penting di Polrestabes Semarang diadukan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jateng. Pelapornya, Jefry Fransiskus, warga Banyumanik, Semarang. Jefry adalah investor yang diputus sepihak oleh penanam saham Zeus Karaoke Semarang.

Jefry mendatangi Mapolda Jateng guna mengadukan tiga pejabat tersebut pada Rabu (8/8) lalu. Tiga pejabat itu adalah Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Fahmi Arifrianto, Kanit PPA Iptu Dhayita Daneswari, dan Kanit Tipikor AKP Ahmad Nurohim.

Ketiganya diadukan atas dugaan keberpihakan penyelidikan kasus penipuan, pengemplangan pajak dan dugaan prostitusi di Zeus Executive Karaoke yang dilaporkan Jefry ke Polrestabes Semarang pada 7 Juli 2018 lalu.

“Dalam SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) yang saya terima, kasus prostitusi sudah masuk ke penyidikan, dan penyidik sudah memeriksa sedikitnya 13 saksim bahkan ada dua orang saksi yang menyatakan Thomas, sebagai pemilik Karaoke Zeus,” ungkap Jefry.

Dikatakan, setelah lebih dari satu bulan sejak kasus tersebut dilaporkan, hingga saat ini tidak ada perkembangan apapun dan terkesan sengaja memperlambat proses penyidikan. Selain itu, polisi dituding membiarkan Karaoke Zeus tetap beroperasi hingga sekarang.

“Polisi sudah memeriksa saksi-saksi. Sudah menyita barang bukti adanya prostitusi di Zeus berupa nota pembayaran. Sudah memeriksa wanita atau nonanya, tapi sampai sekarang polisi tidak menetapkan tersangka. Juga tidak memasang garis polisi di lokasi,” katanya heran.

Menurut Jefry, sesuai yang disampaikan Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Fahmi Arifrianto, jika ada penjualan perempuan hingga saat ini akan dicatat sebagai bukti tambahan. Selain itu, Jefry mengatakan penjelasan yang diperolehnya dari Kasatreskrim, kasus tersebut belum bisa diproses dengan baik, karena tidak ada pengakuan dari terlapor.

“Padahal dari barang bukti, tanpa ada pengakuan sekalipun menurut pasal 184 KUHAP sudah cukup, namun semua itu tetap yang menentukan bersalah atau tidak, itu bukan polisi, tapi pengadilan, karena hakim adalah wakil Tuhan di bumi,” tandasnya.

Bukti lainnya, lanjut Jefry, ada 2 saksi yang mengubah keterangan karena pada waktu BAP kedua di Mapolrestabes saksi ditekan oleh pengacara. “Tugas pengacara kan  memberitahukan hak dan kewajiban kliennya, bukan mempengaruhi para saksi untuk memberikan keterangan yang tidak benar. Mestinya,  pengacara ini bisa ditangkap karena menghalangi penyidikan kepolisian,” desaknya.

Jefry juga mengaku selama kasus ditangani oleh penyidik Polrestabes Semarang, ia sebagai pelapor dibuat tidak nyaman. Pasalnya, penyidik menekan dirinya, bahkan diancam akan dipidanakan. Menjawab ancaman tersebut, Jefry melontarkan ke penyidik untuk menersangkakan dirinya bersama dengan keempat pemilik saham, serta meminta polisi untuk mencekal Thomas. “Inilah alasan saya melaporkan persoalan ini ke Propam Polda. Jika perkara yang saya adukan tidak menemukan titik terang baik dari Polrestabes maupun Propam Polda Jateng, maka saya punya hak untuk melanjutkan aduan saya ke jenjang yang lebih tinggi,” tegasnya.

Dia menambahkan, pelaporan ke Propam bukan ingin memperkeruh keadaan, tapi sebagai warga yang ingin mendapatkan keadilan dalam hukum, dan untuk mengingatkan kepada penegak hukum untuk profesional dalam menangani laporan masyarakat.

Abiyoso menegaskan, biar proses penegakan hukum berjalan sebagaimana mestinya.  “Bila ada yang tidak profesional dan  proporsional tentu juga akan terbuka nantinya,” katanya.

Pihaknya juga berharap dari Propam Polda untuk secepatnya menindaklanjuti laporan dimaksud, sehingga akan membuat terang semua persoalan dan penanganan yang terjadi.  “Apakah saya yang tidak profesional? Ataukah jajaran saya yang tidak  profesional? Biarlah nanti dari Propam yang akan memutuskan,” katanya. (mha/aro)