TAK SEMANGAT: Kandang orang utan di Taman Margasatwa Semarang (TMS) dengan besi berkarat dan tembok pecah-pecah. (Fatkhiatul miladyah/jawa pos radar semarang)
TAK SEMANGAT: Kandang orang utan di Taman Margasatwa Semarang (TMS) dengan besi berkarat dan tembok pecah-pecah. (Fatkhiatul miladyah/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANGKondisi Semarang Zoo kian memprihantinkan. Kandang hewan yang telah lama tidak diperbarui tampak berkarat. Hampir sebagian besar kandang di Taman Margasatwa Semarang (TMS) ini menggunakan besi, dan telah mengalami kondisi tersebut.  Suasana gersang tampak jelas di kandang kijang, rusa, sapi dan kanguru. Kandang yang seharusnya penuh dengan rerumputan hijau, terlihat hanya seperti lahan kosong. Hal ini membuat kegiatan hewan tidak seperti di habitat aslinya.

Beberapa kandang juga terlihat kotor dan tidak terawat. Kandang gajah salah satunya. Tampak dalam kandang sisa kotoran gajah belum dibersihkan. Hal ini menimbulkan bau yang menyengat di area itu. Padahal sesuai jadwal, kandang harusnya dibersihkan setiap hari.

“Jadwal pembersihan di Semarang Zoo setiap hari satu kali, biasanya setiap pagi hari, mbak,” tutur Iwan, 23, portir Semarang Zoo kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

 Di Semarang Zoo terdapat kurang lebih 100 ekor hewan, 2 dokter dan 40 pegawai yang punya tugas masing-masing. Untuk pemberian makan dilakukan 2 kali sehari, pagi dan sore hari. Untuk pemberian makan hewan sudah sesuai dengan keperluan dan takaran masing-masing. “Kalau harimau kelihatannya memang kecil, tapi sebenarnya itu besar jika dilihat dari dekat. Kami juga memberi makan daging dan ikan salmon setiap harinya,” kata Iwan

Setiap Senin sampai Jumat, pengunjung Semarang Zoo tak lebih dari 30-an orang per hari. Harga tiket Rp 7.500 per orang. Sedangkan di akhir pekan, pengunjung kurang lebih 100 orang,  dengan harga tiket Rp 10 ribu.  Pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Semarang. Tapi, juga daerah sekitar, seperti Demak, Kendal, hingga Grobogan. Pengelola Semarang Zoo berusaha menyuguhkan fasilitas sebaik mungkin kepada setiap pengunjung. Harapannya, pengunjung akan merasa puas berlibur di Semarang Zoo.

Namun kenyataannya, fasilitas di Semarang Zoo belum sepenuhnya memenuhi keinginan pengunjung. Hal ini membuat pengunjung kurang nyaman dan merasa prihatin dengan kondisi Semarang Zoo saat ini. Seperti kondisi hewan yang tidak semangat, serta lingkungan kandang yang kurang terawat. Ada juga kandang yang terlalu sempit, sehingga hewan di dalamnya  tidak bisa bebas.

Fasilitas ini disayangkan oleh salah seorang pengunjung dari Pekalongan, Maimunah. Ia  menilai Semarang Zoo mengalami penurunan kualitas.  “Sekarang sepi tidak seperti dulu, kayaknya juga hewan-hewan di sini mulai berkurang 50 persen. Lingkungan sekitar juga kurang terawat. Kebersihannya kurang terjaga. Harapannya ya semoga fasilitas seperti kamar mandi bisa diperbaiki dan dibersihkan lagi. Semoga semuanya lebih diperhatikan lagi,” harap Maimunah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dosen Mata Kuliah Zoologi UIN Walisongo Semarang, Saifullah Hidayat, mengatakan, pengelolaan terhadap hewan di kebun binatang (Semarang Zoo) sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan. Kebun binatang berfungsi sebagai tempat konservasi hewan secara exsitu (di luar habitat aslinya) dengan tujuan sebagai sarana pemeliharaan, penelitian, pendidikan dan rekreasi.

“Pemeliharaan hewan harus memperhatikan kesejahteraan hewan atau animal welfare. Animal welfare dimaksudkan agar hewan merasa hidup layak, nyaman, dan sejahtera di tempat tersebut,” jelas Saifullah Hidayat.

Selain itu, Saiful menegaskan hewan harus bebas dari 5 hal, yakni bebas dari rasa lapar dan haus, panas dan dingin, rasa takut dan cengkeraman, rasa sempit, serta bebas dari penyakit. “Seyogyana kebun binatang harus didesain tempatnya (kandang hewan) supaya hewan itu nyaman dan bisa hidup layak seperti normalnya,” katanya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng mengatakan, terkait dengan perizinan Pemkot Semarang sebagai pemegang saham Perusda Taman Margasatwa Semarang  ini, pihaknya mengimbau pemkot serius menanganinya, baik dari sisi anggaran maupun Sumber Daya Manusia (SDM) serta sarana dan prasarana TMS “Pemkot Semarang harus serius dalam menangani TMS,” tegas Suharman.

Sedangkan untuk masalah perizinan secara definitif sedang dalam proses, dan sudah dikirim ke Jakarta. Dengan kata lain, BKSDA Jateng hanya sebatas memberikan rekomendasi. ”Kebanyakan lembaga konservasi yang pelat merah kondisinya memang kurang menggembirakan di Indonesia,” katanya.

Seharusnya setelah resmi jadi Perusda, TMS harus berubah menjadi lebih baik kalau dikelola dengan manajemen yang andal dan kreatif.  Sehingga hewan yang ada di TMS menjadi lebih terawat dan sejahtera untuk kelangsungan hidupnya. (hid/mg15/mg19/mg20/mg21/aro)