Berlakukan Sistem Irigasi

1181
SWADAYA: Warga Desa Kedungjaran, Sragi, melakukan iuran untuk membeli mesin pompa air, agar sawah mereka tidah mengalami kekeringan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SWADAYA: Warga Desa Kedungjaran, Sragi, melakukan iuran untuk membeli mesin pompa air, agar sawah mereka tidah mengalami kekeringan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Musim kemarau yang cukup panjang saat ini menyebabkan debit air yang ada di persawahan terus menurun ditambah buruknya irigasi persawahan menyebabkan sejumlah wilayah persawahan di Kabupaten Pekalongan terancam gagal panen.

Kabid PSDA, DPU dan Taru Kabupaten Pekalongan, Edi Setiawan, mengungkapkan bahwa debit air dan kebutuhan air di beberapa daerah irigasi (DI) saat ini dibawah kebutuhan, seperti yang terjadi  di Kecamatan Sragi yang berakibat areal persawahan di daerah tersebut mengering.

Menurutnya Daerah Irigasi Sragi faktor K-nya 1, tapi kenyataannya dibawah angka 0,49. “Normalnya faktor K itu 1, untuk daerah irigasi yang faktor k dibawah 1, di antaranya Sudi Kampil, Rogoselo, Bandar Pekiringan, dan Kajen. Sedangkan, di Padurekso dan Simbang, faktor K masih lebih dari 1. Untuk Bendungan Kletak, Kaliwadas, dan Asam Siketek bukan kewenangan kami, namun BPDAS Pemali Comal,” ungkap Edi.

Edi juga mengatakan untuk mencukupi kebutuhan air irigasi terebur, pihaknya sudah melakukan sistem irigasi bergilir, yakni dengan memaksimalkan pompa air yang ada, untuk dapat mengaliri sawah dari sumber mata air terdekat.

Menurutnya luas lahan pertanian fungsional saat ini 15.192 hektare. Dengan sebaran di antaranya di Padurekso 2.409,5 hektare, Sudi Kampil 1.515 hektare, Pesantren 3.075 hektare, Kaliwadas 2.017 hektare, Sragi 3.391 hektare, dan Tapak Menjangan 1.132 hektare.

“Untuk musim tanam saat ini tanaman padinya tidak sama, ada yang sudah panen, menjelang panen, dan beberapa di antaranya baru ditanam, ini menjadi persoalan tersendiri. Sebaiknya para petani agar untuk musim tanam, harus mematuhi pola tanam sesuai dengan peraturan bupati, yakni tanam palawija, karena diperkirakan debit air sungai akan semakin berkurang,” kata Edi

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Kabupaten Pekalongan, Siswanto, menegskan bahwa pihaknya berusaha untuk menyelamatkan tanaman yang sudah ada dari kekeringan, mengingat umur tanaman padi yang ada saat ini telah berusia 70 hari dan sebentar lagi akan memasuki masa panen.

“Kekeringan ringan ada sekitar 255 hektare, sedangkan yang berat ada 56 hektare, jadi kita fokus kesana untuk memberikan bantuan, kalau ada sumber-sumber air kita bantu. Untuk pompa air, akan kita gunakan secara bergiliran dengan daerah lain yang mengalami kekeringan, kami sudah menerjunkan 40 brigade alsintan (alat mesin pertanian), khususnya pompa air untuk mengatasi masalah kekeringan, ” tegas Siswanto. (thd/bas)