Warga Terdampak Tol Minta Dibuatkan JPO

212
UNJUK RASA: ratusan warga Desa Penjalin dan Desa Sumur, Kecamatan Brangsong saat melalukan audensi dengan Pembangun Tol Semarang-Batang, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
UNJUK RASA: ratusan warga Desa Penjalin dan Desa Sumur, Kecamatan Brangsong saat melalukan audensi dengan Pembangun Tol Semarang-Batang, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Ratusan warga Desa Penjalin dan Desa Sumur, Kecamatan Brangsong melakukan unjuk rasa kepada PT Waskita Karya selaku pihak ketiga yang melaksanakan proyek Tol Semarang-Batang. Warga menuntut untuk dibuatkan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang menghubungkan dua desa tersebut.

Selain unjuk rasa, warga juga melakukan audensi dengan pihak PT Waskita Karya dan PT Jasa Marga Semarang-Batang (JSB). Tuntutan tersebut lantaran sebelumnya pihak PT Waskita selaku pelaksana pembangunan jalan tol janji akan menbuatkan jalan terowongan yang menghubungkan dua desa tersebut.

Sebab dua desa tadinya terhubung oleh jalan kini terputus lantaran pembangunan adanya pembangunan tol. Akibat terputusnya jalan tersebut warga Desa Penjalin yang akan ke ladang dan hutan yang berada di Desa Sumur tidak lagi bisa. Begitupun sebaliknya, warga dari Sumur Pitu tidak bisa mengakses keluar desa karena jalan menjadi buntu.

Warga selama ini harus memutar dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Adapun jalan penghubung berupa terowongan atau underpass sudah tersedia. Namun warga yang kebanyakan pejalan kaki atau bersepeda terlalu lama karena harus memutar sehingga warga merasa keberatan.

Ngatimah salah seorang petani warga Desa Penjalin mengaku selama ini sejak adanya jalan tol tidak pernah bisa ke ladangnya untuk memetik hasil bumi. “Karena ada jalan tol warga tidak lagi bisa ke ladang dan hutan. Kami berharap jalan bisa terhubung lagi, meski hanya dibuatkan JPO saja,” akunya.

Hal senada dikatakan koordinator warga terdampak tol Desa Penjalin Samsul Huda. Ia menambahkan tuntutan warga menghendaki jalan kembali terhubung telah disepakati oleh Waskita mapun JSB. “Nantinya akan dibuatkan JPO. Warga menerima dengan syarat JPO masih bisa dilalui kendaraan roda dua,” kata Samsul.

Ia mengaku kebanyakan warga Desa Penjalin mengelola hasil lahan perhutani untuk ditanami tanaman buah. Sehingga akses jalan tersebut menjadi sangat penting. “Jalan terowongan yang dibuat, medannya cukup curam dan agak sulit dilalui sepeda motor,” tandasnya.

Salah satu warga, Samin mengatakan, jika tuntutan warga tidak segera dipenuhi, maka warga akan melakukan aksi demo yang lebih besar. Bahkan akan memblokir jalan  tol. “Pokoknya kesepakatan tadi untuk membuatkan JPO harus dipenuhi,” ucapnya. (bud/bas)