Perpustakaan Sekolah Dipenuhi Buku Paket

128
PENYERAHAN HADIAH : Penyerahan hadiah pemenang lomba bidang kearsipan dan perpustakaan yang dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Muhamad Masrofi, Kamis (9/8). (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENYERAHAN HADIAH : Penyerahan hadiah pemenang lomba bidang kearsipan dan perpustakaan yang dihadiri Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Muhamad Masrofi, Kamis (9/8). (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Perpustakaan sekolah ternyata masih didominasi buku-buku paket hingga 90 persen dan minim buku non paket. Padahal, dalam UU nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan sudah jelas mengamanatkan mengalokasikan anggaran minimal 5 persen untuk pengadaan buku dan perpustakaan.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Bidang Pengembangan Organisasi Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Jateng, Itmamudin di sela-sela acara sosialisasi perpustakaan dan penyerahan hadiah pemenang lomba bidang kearsipan dan perpustakaan yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Kamis (9/8).

“Sangat disayangkan minimnya pengadaan buku non paket. Inspektorat perlu mengawasi betul, karena bahan bacaan bukan hanya buku paket. Termasuk, sarana dan prasarana serta kesejahteraan serta SDM pegawai perpsutakaan,” kata Itmamudin yang juga Ketua IPI Salatiga dan pustawakan STAIN Salatiga.

Menurutnya, perpustakaan harusnya memiliki buku-buku fiksi. Sebab, hal itu menunjang kegiatan belajar mengajar. “Gerakan literasi di sekolah susah tumbuh, karena perpustakaan hanya ada buku paket dan di kelas juga disuguhi buku paket. Belum lagi sarana dan prasarana yang hanya peninggalan sebelumnya, terkadang tidak sebanding antara rak buku dan ruangannya,” katanya.

Sedangkan, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Muhamad Masrofi menyampaikan bahwa perpustakaan perlu bertransformasi menjadi layanan berbasis inklusi sosial. Dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat. “Dengan pelayanan inklusi, perpustakaan perlu dirancang kembali agar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Muhamad Masrofi.

Sama halnya dengan peraih juara 1 kategori pustakawan berprestasi tingkat Jateng 2017, Dyah Nurahaeni. Ia mengatakan, kini perpustakaan sudah bertransportasi bukan hanya untuk baca buku, melainkan untuk mengindentifikasi kebutuhan masyarakat dan meningkatkan kapasitas hidup siswa.

“Contohnya ada siswa pinter mengarang, bisa dipertemukan dengan penerbit, jadi karangannya bisa diterbitkan. Jadi, perpustakaan harus bisa memfasilitasi,” ungkap wanita yang meraih predikat juara harapan I Pustakawan Berpretasi tingkat Nasional 2017 ini. (jks/ida)