Penutupan Sunan Kuning Butuh Persiapan Matang

206
PERSIAPAN MATANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat Focus Group Discussion terkait rencana penutupan lokalisasi Sunan Kuning, kemarin. (ISTIMEWA)
PERSIAPAN MATANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat Focus Group Discussion terkait rencana penutupan lokalisasi Sunan Kuning, kemarin. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pertimbangan kondisi ekonomi membuat Pemkot Semarang kesulitan melakukan penutupan Resosialisasi Argorejo atau terkenal dengan nama Lokalisasi Sunan Kuning. Para pelaku prostitusi dikhawatirkan tidak memiliki sumber penghasilan lain apabila penutupan dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Sebab, dampaknya bisa saja para pelaku prostitusi justru menjalankan aktivitas serupa di tempat lain. Karena itu, Pemkot Semarang harus memastikan terlebih dahulu semua pelaku prostitusi di tempat itu sudah memiliki keterampilan lain, yang nantinya diharapkan mampu menghidupi mereka dengan cara yang lebih positif.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, menyatakan, berdasarkan aturan Kementerian Sosial mengenai kebijakan Indonesia Bebas Lokalisasi Prostitusi pada 2019, maka sudah seharusnya penutupan lokalisasi tersebut sudah dilakukan sebelum 2019 mendatang. Tercatat, ada sebanyak 42 lokalisasi di Indonesia yang rencananya akan segera ditutup. “Jangan sampai penutupan lokalisasi ini hanya sebagai ajang seremonial saja, namun kita juga harus mempertimbangkan banyak aspek sebelum menutup tempat tersebut, dan juga harus ditangani secara komprehensif,” kata wali kota yang akrab disapa Hendi ini saat diskusi terkait rencana penutupan Resos Argorejo di Hotel Grasia, Semarang, Kamis (9/8).

Hendi  mengakui adanya aktivitas prostitusi di Kota Semarang merupakan hal yang bisa menimbulkan citra buruk di kalangan masyarakat dalam kota maupun luar kota. “Sangat tidak elok memang jika dalam sebuah kota ada aktivitas prostitusi di dalamnya. Tapi kita ini tidak bisa serta merta menutup karena di sana banyak persoalan ekonomi,” ujar Hendi

Karena itu, jika nantinya akan dilakukan penutupan, Hendi meminta agar dipastikan bahwa para pelaku prostitusi itu sudah siap dan terampil untuk melakukan aktivitas lain yang positif. Tak hanya itu, pasca penutupan pun Hendi meminta agar segera disusun perencanaan yang matang untuk dapat segera mengubah kawasan bekas lokalisasi tersebut nantinya agar menjadi trademark baru Kota Semarang dengan citra yang lebih positif.

Dalam diskusi tersebut, Hendi menggandeng berbagai pihak, antara lain pendamping WPS Sunan Kuning, Yayasan Kalandara, KPA Kota Semarang, Yayasan Lentera Asa, Sokoguru Foundation, Forum Kota Sehat, Komisi Penanggulangan AIDS, SSR Aisyiyah Kota Semarang, LBH Apik, LO IAC Semarang, Semarang Gaya Community, Komunitas Odha Ohidha Semarang, Kodim 0733/BS Kota Semarang, Polrestabes Semarang, Kementerian Agama, Kejaksaan Negeri, Pengurus Kompleks Sunan Kuning, serta sejumlah perwakilan Perguruan Tinggi di Kota Semarang. (cr2/aro)