Berdayakan Warga, Urus Izin Pangan dan Label Halal

Linda Indiyarti Putri, Dosen Unwahas Olah Kulit Singkong dan Pisang Jadi Keripik

198
INOVATIF: Linda Indiyarti Putri menunjukkan produk keripik kulit singkong dan kulit pisang. (DOKUMEN PRIBADI)
INOVATIF: Linda Indiyarti Putri menunjukkan produk keripik kulit singkong dan kulit pisang. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Kulit pisang dan kulit singkong biasa dibuang menjadi sampah. Namun di tangan dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Linda Indiyarti Putri, limbah itu diolah menjadi keripik. Bahkan, inovasinya itu telah diproduksi dengan nama Keripik FAILS.

MILA ROHAYATI

BERAWAL dari tugas sebagai dosen dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Linda Indiyarti Putri berhasil menciptakan produk inovasi yang ramah lingkungan. Tak hanya itu, produknya itu bisa untuk pemberdayaan kaum perempuan.

Dosen statistik Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas ini tercetus ide memanfaatkan limbah kulit pisang dan kulit singkong. Ia mengembangkannya bersama temannya sesama dosen, Ersila Devy Rinjani. “Awalnya saya dan teman membuat proposal pengajuan bantuan untuk pengabdian masyarakat ke Kementerian Agama (Kemenag). Alhamdulillah proposal kami lolos dan diminta untuk presentasi di Tangerang. Setahun kemudian, tepatnya Juli 2018 lalu, kami action,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dosen kelahiran Semarang, 6 Februari 1986  ini lantas menggandeng pengusaha keripik di Kampung Salakan, Kelurahan Mangunsari, Gunungpati, Semarang. Ia juga memiliki beberapa warga binaan.

Linda mengaku memilih Kampung Salakan lantaran untuk memberdayakan warga setempat, khususnya kaum perempuan. Alumnus S1 Tadris Kimia IAIN Walisongo 2009 ini ingin para perempuan di kampung tersebut menjadi mandiri, dan tidak tergantung pada suami atau satu pekerjaan saja.

Kuang lebih selama dua minggu, Linda melakukan serangkaian uji coba untuk mendapatkan resep keripik kulit pisang dan kulit singkong yang enak. Seperti mencoba padu padan bumbu, metode masak yang tepat, serta pengemasan yang maksimal agar mudah diterima pasaran.

Apa yang dilakukan Linda ternyata mendapat respon posistif dari masyarakat. Bahkan, saat hasil temuannya itu disosialisasikan kepada ibu-ibu Fatayat di Kampung Salakan, mereka antusias untuk mencobanya. Karena itu, sejak

Juli 2018 lalu, Linda memulai memproduksi keripik kulit pisang dan kulit singkong dengan memberdayakan warga kampung setempat.

Ibu tiga anak ini menambahkan, kulit pisang yang cocok dibuat keripik adalah kulit pisang kepok. Hal ini karena tekstur rasa dan warna lebih bagus ketimbang kulit pisang yang lain. Pengolahannya hampir sama dengan kulit singkong, sehingga tidak menemui kesulitan saat pembuatan.

Produksi keripiknya itu dikemas dalam plastik yang menarik. Ia menggunakan merek dagang FAILS. “Nama FAILS sendiri diambil dari singkatan Fakultas Agama Islam Linda dan Sila. Jadi, terinspirasi dari nama saya dan teman. Lagi pula dengan begitu dapat membanggakan nama fakultas dan almamater walau hanya nama merek,” tegas Linda.

Untuk saat ini, Linda mengaku berusaha untuk mendapat izin pangan dari BPOM serta label halal dari Majelis Ulama Indonesian (MUI). Ke depannya Linda berharap bisa mengembangkan produk temuannya itu. Ia juga berharap warga binaannya di Kampung Salakan bisa hidup mandiri lewat usaha pembuatan keripik ini.

Diakui alumnus S2 Pendidikan MIPA Konsentrasi Kimia Universitas Negeri Semarang 2012 ini, pasokan kulit pisang dan kulit singkong masih menjadi kendala. Saat ini, ia masih mencoba menggandeng para penjual gorengan agar mengumpulkan kulit pisang dan singkong untuk diolahnya. “Karena selama ini kulit pisang dan singkong dibuang begitu saja atau untuk pakan ternak. Tapi, sekarang bisa lebih bermanfaat dan bisa jadi ladang usaha,” katanya. (*/aro)