Kekeringan, 25 Hektare Sawah Puso

249
KEKERINGAN: Kondisi persawahan dan embung di Desa Boto yang sudah mengering, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEKERINGAN: Kondisi persawahan dan embung di Desa Boto yang sudah mengering, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Kekeringan yang melanda Desa Boto Kecamatan Bancak mengakibatkan puluhan hektare sawah di desa tersebut tidak bisa ditanami apapun. Padahal, sektor pertanian merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat desa tersebut.

Salah satu petani, Wagiman, 54, warga Dusun Boto, Desa Boto mengatakan jika suplai air untuk lahan pertanian warga tersebut berasal dari dua embung di desa itu. “Embung tersebut saat ini juga kering, jadinya tidak ada suplai air ke lahan pertanian, jadinya seperti ini,” ujar Wagiman, Selasa (7/8).

Masing-masing embung berada di dua dusun yang berbeda. Satu embung yang dibangun pada 2007 berada di Dusun Penggung. Ukuran 30×40 meter. Embung satunya berada di Dusun Boto yang dibangun pada 2009 dengan ukuran 25×30 meter.“Kalau embung tidak ada air, sawah juga kesulitan air,” katanya.

Kedua embung tersebut masuk dalam kategori embung tadah hujan. Berfungsi menampung air hujan dan kemudian mengalirkan ke lahan pertanian milik warga setempat.“Kurang lebih lahan pertanian yang dialiri embung disini ada 25 hektare sawah,” ujarnya.

Sebelum embung tersebut benar-benar mengering seperti saat ini, warga sudah berinisiatif menanami lahan pertanian mereka dengan tanaman jagung. “Kami garap seperempat hektare bengkok, kami tanami jagung. Jenis jagung kecil untuk pakan burung,” ujarnya.

Namun karena suplai air ke lahan pertanian benar-benar tidak ada, tanaman jagung para petani itupun kini sudah pada mati. “Tapi ini sudah pada mati. Kemarin ada yang menawar Rp 100 ribu mau dibeli untuk pakan sapi,” katanya

Meski begitu, ada sedikit tanaman jagung yang juga sudah berbuah. Meski jumlahnya tidak seberapa, setidaknya bisa dimanfaatkan oleh petani. “Kalau dihitung-hitung, kami telah rugi. Dulu sudah sempat nyedot air dari embung juga, yang pasti rugi pembelian bibit,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Boto, Sjaichul Hadi mengatakan dikarenakan kekeringan tersebut banyak warganya yang memilih untuk mencari pekerjaan ke luar desa. “Warga yang semula mengolah lahan pertanian, kemudian merantau bekerja serabutan di luar daerah,” kata Sjaichul.

Dikatakannya, di Desa Boto sendiri sebenarnya ada tiga embung. Dua embung kini kondisinya kering sementara satu embung lagi yang berada di Dusun Gunung, masih ada airnya karena berdekatan dengan sumber mata air.

“Dari total 152 hektare lahan pertanian, 90 persen tidak bisa ditanami, juga ada dari 90 persen tadi yang gagal panen. Jadi biasanya warga di Desa Boto ini sebagian besar petani menanam dua kali dalam setahun,” katanya.

Pada saat musim kemarau karena tidak bisa menanam, warga kemudian bekerja serabutan. Bahkan ada juga warga yang merantau di luar daerah. “Ada warga yang kerja di bangunan, ada yang merantau di Jakarta, ada di luar Jawa juga untuk bekerja,” katanya. (ewb/bas)