“Kalau Bisa Nyawa Dibalas Nyawa”

357

RADARSEMARANG.COM – RUMAH pasangan Warso dan Keswati di Perum PGRI Blok K RT 4 RW 16 Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Selasa (7/8) kemarin,  dipadati para pelayat. Selain para tetangganya, juga teman-teman korban Ferin Diah Anjani. Mereka menunggu jenazah Ferin dari Blora. Ibunda Ferin tampak memendam kesedihan. Kedua mata perempuan berkacamata ini tampak sembab saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Keswati mengaku  merasa kehilangan putri keempatnya tersebut. Menurutnya, Ferin dikenal sebagai sosok pendiam. Meski begitu, Ferin memiliki banyak teman. “Anak saya pendiam, tidak banyak bicara. Mungkin kalau sama teman-temannya banyak bicara,” ujar Keswati.

Ferin lahir di keluarga yang sederhana. Rumah yang dihuni semasa kecil hingga remaja juga tergolong sederhana. Namun sejak lulus SMKN 9 Semarang, Ferin sudah tidak lagi tinggal di rumah bersama keluarganya. “Ketemu terakhir lebaran lalu di tempat kosnya Siliwangi Resident. Waktu saya mau ke Jakarta, saya ke tempat kosnya, pinjam koper. Tidak ada firasat sama sekali, dia juga biasa saja,” akunya.

Keswati mengaku sempat dikabari oleh teman kos Ferin kalau putrinya itu tidak ada kabarnya sejak Selasa (31/7)  lalu. Sebelum hilang komunikasi, Ferin sempat pamit ke teman kosnya untuk menemui seseorang.

“Anak saya pergi naik Grab, tapi tidak bilang kemana, cuma bilang nanti jam 21.00 pulang. Jam 20.00 masih bisa komunikasi, tapi sampai jam 21.00 sudah gak bisa, jam 23.00 juga gak bisa (dihubungi),” ceritanya.

Meski demikian, Keswati masih berusaha menghubungi putrinya melalui handphone-nya pada keesokan harinya, Rabu (1/8). Namun, handphone Ferin juga tidak aktif. Merasa khawatir, akhirnya, Keswati mendatangi Mapolrestabes Semarang melaporkan anaknya hilang ke petugas, Kamis (2/8) lalu. “Saya juga sempat baca berita, ada sesosok mayat dibakar di Blora. Saya sudah baca, cuma waktu itu belum tahu, saya anggap yang dibakar bukan anak saya,” ujarnya.

Segala upaya pencarian dilakukan oleh Keswati dan keluarganya. Namun tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, ia di hubungi oleh kerabatnya supaya mengirimkan identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP) Ferin dan foto semasa hidup melalui handphone.

Beberapa hari kemudian, Keswati dihubungi oleh anggota kepolisian dari Polres Blora. Dalam komunikasi tersebut untuk mengonfirmasi bahwa jasad yang dibakar di hutan di Blora tersebut anaknya.

“Ini Bu Keswati ya, apakah anak ibu hilang, saya jawab iya, sejak tanggal 31 Juli 2018 tidak ada kabar sampai sekarang. Terus tidak pulang itu karena apa, saya bilang anak saya tidak kumpul dengan saya, dia kos. Dia keluar kos katanya mau main,” bebernya.

Hingga akhirnya dari komunikasi tersebut Keswati mendapat kiriman gambar dari kepolisian terkait ciri-ciri Ferin, antara lain gigi kelinci dan perhiasan anting emas. Meski masih penasaran, namun Keswati mengakui bahwa gambar kiriman yang diterimanya adalah benar. Hingga akhirnya, untuk mengungkap kebenaran tersebut juga dilakukan tes DNA pada Senin (6/8) lalu.

“Ciri-ciri anak saya, giginya runcing sama bawa anting-anting persis dengan milik anak saya. Saya juga kaget, kok semua gelang jam tangan tidak ada. Terus saya dibilangin intinya kepolisian akan bekerja keras mengungkap kasus yang menimpa anak ibu,” katanya.

Pihaknya mengaku sempat mendatangi Polsek Gajahmungkur. Dari keterangan polisi, Keswati akhirnya yakin yang meninggal dibakar adalah putrinya. “Senin, saya disuruh ke Polsek Gajahmungkur. Ternyata benar itu anak saya. Saya juga bertanya kenapa kok saya harus yakin itu anak saya. Bilangnya pelakunya sudah tertangkap dan mengakui kalau dibakar. Pelakunya sudah ngaku semua,” bebernya.

Keswati menyebutkan, pelaku tersebut ditangkap petugas di tempat kosnya di Pedurungan, Senin (6/8) malam. Menurutnya, anaknya juga tidak mengenal dekat dengan pelaku. Namun demikian, ia belum mengetahui secara pasti motif pelaku tega menghabisi nyawa anaknya. “Pelakunya tidak kenal, teman kosnya juga tidak kenal. Pelaku asli Blora, tapi kos di Pedurungan. Katanya resepsionis hotel,” ujarnya.

Mukhamad Sholikhin, guru ngaji Ferin Diah Anjani mengatakan, korban merupakan sosok yang periang, sopan, dan pintar ngaji. Sejak kecil, Sholikhin yang mengajari ngaji. ”Pinter ngaji. Baik kepada orang. Kalau pulang sering bawa jajan untuk keluarganya,” jelasnya.

Wiwit, kakak korban menuturkan, adiknya itu berprofesi sebagai caddy golf di Semarang. Awalnya keluarga belum menyadari saat ada kabar penemuan mayat perempuan dibakar di Blora. Keluarga baru sadar saat teman korban mengabarkan handphone (HP) korban sulit dihubungi. Padahal selama ini HP korban tak pernah mati. ”Pada 31 Juli pagi HP Ferin masih aktif. Siangnya sudah nggak aktif,” terangnya saat mendatangi pembongkaran makam adiknya di sebelah RSUD Blora, kemarin.

Dia menerangkan, pihak keluarga juga tak tahu jika adiknya punya hubungan spesial dengan orang lain. Apalagi riwayat permasalahan dengan siapapun. Sebab, adiknya tak pernah bercerita masalah pribadinya. ”Di mata keluarga, justru korban sosok yang periang,” terangnya.

Wiwit mengaku masih belum bisa menerima kematian adiknya. Dia meminta agar polisi memberikan hukuman setimpal kepada pelaku pembunuhan. ”Kalau bisa nyawa dibalas nyawa,” tegasnya.

Laki-laki kurus ini mengaku, jenazah adiknya setelah dibongkar akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang. Di sana akan dites DNA untuk mencocokkan dengan orang tuanya.

Wiwit mengaku, datang ke Blora menjemput jenazah adiknya dari Semarang bersama delapan orang menggunakan dua mobil. Rombongan beirisi saudara dan kerabat korban tanpa bapak dan ibunya. ”Tadi sebelum ke sini (makam di dekat RSUD Blora, Red), kami ziarah dulu ke lokasi adik saya ditemukan,” jelasnya. (mha/sub/aro)