14 Desa Jadi Pilot Project Program GISA

298
PILOT PROJECT: Kepala Dispendukcapil Afhan Noor bersama Kabid Pencatatan Sipil Edy Sediyono. (WAHIBPRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PILOT PROJECT: Kepala Dispendukcapil Afhan Noor bersama Kabid Pencatatan Sipil Edy Sediyono. (WAHIBPRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Pemkab Demak mulai menindaklanjuti program sadar administrasi kependudukan (adminduk) yang telah dicanangkan sebelumnya.

Kepala Dispendukcapil, Afhan Noor mengatakan, Gerakan Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (GISA) tersebut dinilai sangat bermanfaat bagi masyarakat.   Menurutnya, ada 14 desa di 14 kecamatan yang menjadi pilot project program tersebut.

Dengan demikian, selanjutnya keberhasilan desa desa itu nanti akan ditularkan ke desa lainnya agar sadar adminduk bisa menyeluruh bagi masyarakat disemua desa di Demak.  Afhan mengatakan, pihaknya akan mengundang petugas kecamatan dan desa yang menjadi pilot project itu untuk diberikan sosialisasi. “Dengan kesadaran adminduk ini diharapkan data kependudukan bisa lebih akurat, termasuk pencantuman golongan darah,” katanya.

Sejauh ini, kata Afhan, jika ada kebutuhan terkait darah pasien yang sedang sakit dirumah sakit, petugas masih kesulitan mendeteksi golongan darah pasien. Namun, dengan sadar adminduk tersebut, secara perlahan warga diberikan pemahaman betapa pentingnya data diri termasuk golongan darah ini.  “Petugas akan dapat mengerti tipe golongan darah pasien berkat identitas yang ada,” kata dia.

Afhan menambahkan, pihaknya juga membatasi pemebrian surat keterangan (suket) bagi warga yang mengurus KTP. Dengan demikian, antrean pembuatan KTP tidak menumpuk. Menurutnya, pendaftaran pengurusan KTP sebetulnya telah dipermudah dengan aplikasi online.

Namun, pemanfaatan situs online masih tergolong minim. “Warga yang ngurus lewat online rata rata hanya 100 orang perbulan. Untuk online ini masih belum bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat,” katanya.

Karena inipula, warga justru lebih suka mengantre dalam membuat KTP. Untuk meningkatkan penggunaan online ini, petugas terus mensosialisasikan ke masyarakat. (hib/bas)