Ganjar Motivasi Maba Unnes, Hendi-Ita Jadi Mahasiswa Undip

430
BERI MOTIVASI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memberikan motivasi kepada 8.768 mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unnes), kemarin. (Bawah) Rektor Undip Prof Yos Johan Utama memasangkan jaket almamater kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang menjadi mahasiswa baru Program Doktor Ilmu Sosial. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERI MOTIVASI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memberikan motivasi kepada 8.768 mahasiswa baru Universitas Negeri Semarang (Unnes), kemarin. (Bawah) Rektor Undip Prof Yos Johan Utama memasangkan jaket almamater kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang menjadi mahasiswa baru Program Doktor Ilmu Sosial. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ISTIMEWA
ISTIMEWA

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memberi motivasi kepada 8.768 mahasiswa baru (maba) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Senin (6/8) kemarin. Kegiatan yang dikemas dalam Program Pengenalan Kemahasiswaan Unnes 2018 bertajuk ‘Membangun Generasi Milenial yang Berprestasi dan Berkarakter’ ini digelar di Lapangan Prof Dirham Fakultas Ilmu Keolahragaan. Ribuan maba tersebut tampak fokus mendengarkan motivasi dari orang nomor satu di Jateng ini agar bisa meraih mimpi dan memerangi hoax.

Saat memberikan motivasi, Ganjar tak sengaja melihat seorang mahasiswa yang membawa kertas putih dengan tulisan ‘Wong Cilek Yoo Iso Kuliah’ yang dibawa sorang mahasiswa bernama Arif Budiman, maba program studi Pendidikan Teknik Otomotif asal Blora. Tulisan tersebut langsung membuat Ganjar mengajak Arif untuk beridalog di depan ribuan mahasiswa lain.

“Saya berasal dari keluarga petani, selama dua tahun saya harus berjuang untuk bisa kuliah di Unnes seperti yang saya impikan,” kata Arif dengan nada penuh haru.

Mendengar cerita Arif, Ganjar merasa bangga dan yakin jika kelak Arif bisa menjadi orang sukses dan membahagiakan orangtuanya. Menurut Ganjar, maba yang diterima di Unnes adalah mahasiswa terpilih, karena bisa melewati seleksi dan mengalahkan puluhan ribu orang lain yang juga mendaftar di Unnes.

Selain Arif, Ganjar juga berdialog dengan Namira, mahasiswi program studi Pendidikan Guru SD (PGSD). Pria berambut putih itu menantang Namira untuk bernyanyi. Tanpa basa-basi, gadis berhijab tersebut mampu menyanyikan sebuah lagu dengan penuh percaya diri dan mendapatkan apresiasi dari Ganjar.

“Guru SD saat ini harus kreatif dan inovatif dalam mengajar. Tujuannya agar siswanya tidak bosan di kelas. Saya berharap betul ini dilakukan, karena mengajak bernyanyi, nantinya ilmunya terinternalisasi. Contohnya film School of Rock yang mengajarkan matematika dengan menyanyi rock dan bermain gitar. Metode mendidik begitu menyenangkan, sehingga anak selalu rindu belajar. Tidak takut dengan PR, apalagi gurunya,” ujar Ganjar.

Gubernur Ganjar menjelaskan, memasuki  era digital saat ini, pekerjaan rumah terbesar adalah bagaimana membangun karakter diri sebagai anak bangsa yang cerdas dan berintegritas, menjunjung nasionalisme, cinta kepada orangtua dan guru, serta memiliki etika yang baik. “Kita punya pekerjaan untuk membangun karakter anak bangsa yang baik, cinta negara, bangsa dan rasa nasionalismenya tinggi, serta tidak melupakan cinta orangtua dan hormat kepada guru. Ini penting karena di era yang sangat liberal seperti ini, kita mesti memagari dengan kepribadian dalam kebudayaan,” pesannya.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokman menerangkan, dari jumlah mahasiswa yang diterima, terdapat 25 mahasiswa asing dari berbagai negara, yakni Thailand, Brunei Darussalam, Libia, Turkmenistan, Turki, China, dan Italia.

Sementara itu, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menerima 11.381 mahasiswa baru dari berbagai program. Rinciannya, dari program Doktor 140 orang, Program Magister 964 orang, Program Spesialis 142 orang,  Program Profesi 16 orang, Program Sarjana 8.239 orang, dan program vokasi 1.896 orang.

Rektor Undip Prof  Yos Johan Utama secara simbolis melakukan pemasangan jaket almamater kepada sejumlah mahasiswa baru, di antaranya 8 orang mahasiswa asing dari Senegal, Timor Leste, Uganda, Sudan, Libya dan Nigeria. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, dan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu juga menerima kartu mahasiswa dan disematkan jaket almamater.

“Tahun ini Mas Hendi dan Mbak Ita diterima sebagai mahasiswa baru Undip, masing-masing untuk Program Doktor Ilmu Sosial dan Program Magister Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip,” katanya usai pengukuhan mahasiswa baru di Stadion Undip Tembalang, kemarin.

Kedua pemimpin Semarang tersebut, dijadikan contoh oleh Yos, karena di sela kesibukannya sebagai kepala daerah wali kota dan wakilnya masih meluangkan waktu untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. “Para mahasiswa baru harus bisa mencontoh semangat wali kota dan wakil wali kota, yang di tengah kesibukannya memimpin Kota Semarang masih menyempatkan diri untuk belajar dan menimba ilmu,” ujarnya.

Yos mengungkapkan, jika Undip adalah kampus rakyat yang dipenuhi rasa welas asih dan kasih sayang. Sebab, Undip tidak hanya melayani mahasiswa yang berkemampuan ekonomi, tetapi Undip dengan tegas memberikan jaminan akan melayani mahasiswa yang tidak mampu minimal 20 persen. Namun ia mengaku memberikan akses lebih besar, yakni 30 persen. “Kuota mahasiswa tidak mampu difasilitasi melalui program bidikmisi maupun penetapan UKT kelompok 1, 2 dan 3. Tahun ini, ada 1.000 mahasiswa baru yang akan diusulkan mendapatkan bidik misi,” katanya. (den/aro)