Awalnya Hobi, Kini Bisa untuk Biaya Kuliah

Alfi Sholehah Dwi Meyrani, Mahasiswi Unnes yang Meraup Rupiah dari Melukis

229
PANTANG MENYERAH: Alfi Sholehah Dwi Meyrani dan karya lukisannya. (QURROTUL A’INIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANTANG MENYERAH: Alfi Sholehah Dwi Meyrani dan karya lukisannya. (QURROTUL A’INIYAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Hobi melukis mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi Alfi Sholehah Dwi Meyrani. Bahkan, hasilnya bisa untuk membiayai kuliahnya di Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes).

QURROTUL A’INIYAH

SEJAK duduk di bangku TK, Alfi Sholehah Dwi Meyrani sudah menyukai seni lukis. Ia suka melukis awalnya karena iri melihat sang kakak yang kerap juara lomba melukis. Akhirnya, Rani –sapaan akrabnya– memberanikan diri untuk mengikuti lomba yang sama, mulai tingkat lokal di tempat asalnya, Tuban Jawa Timur, hingga tingkat nasional.

“Dari kecil saya sudah suka dengan yang namanya seni rupa, baik melukis, kaligrafi dan lain sebagainya. Awalnya cuma iseng aja, terus lihat kakak sering menang, saya jadi terpacu untuk juara dalam lomba yang sama. Sejak TK sampai SMA, saya sering mengikuti lomba melukis dan Alhamdulillah sering juara,” cerita Rani kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setelah lulus SMA, Rani memutuskan melanjutkan pendidikannya di Unnes. Ia mengambil jurusan sesuai bakatnya melukis. “Saya ambil prodi S1 Pendidikan Seni Rupa sesuai kesukaan saya,” katanya.

Tak ingin berdiam diri saja selama kuliah,  Rani yang di Semarang kos di Wisma Rafi  Gang Dahlia III RT 03 RW 04 Jalan Taman Siswa, Banaran, Gunung Pati, Semarang ini melebarkan sayapnya dengan membuka jasa pemesanan lukisan, bisa berupa sket, lukis wajah, dan vector untuk hadiah wisuda, ulang tahun, atau yang lainnya. Ia menjaring konsumen lewat akun Instagram @meyrani_shop.

“Karena hidup di Semarang lumayan mahal, belum lagi bahan-bahan untuk praktik seni rupa butuh biaya yang juga lumayan mahal. Jadi ya harus pintar-pintar untuk mencari uang tambahan. Karena saya juga tidak ingin membebani kedua orangtua dengan selalu meminta uang,” ujar gadis 22 tahun ini.

Hasilnya pun lumayan. Gadis kelahiran Tuban, 22 Mei 1996 ini menjual hasil lukisannya dengan harga mulai Rp 35 ribu hingga Rp 1 juta. Konsumennya mulai mahasiswa, dosen hingga masyarakat umum. “Pernah ada yang pesan lukisan dari Bali,” akunya bangga.

Rani lebih menekankan dekoratif untuk membedakan lukisannya dengan lukisan yang lain. Menurutnya, aliran dekoratif itu lebih bebas berekspresi, bebas memberikan warna, dan mudah diterima oleh kalangan muda. Rani juga mengutamakan kualitas lukisannya, agar konsumen merasa puas dengan hasilnya. Hasil karya Rani juga pernah dipajang di beberapa pameran di Semarang, seperti Pameran Lobang Hitam dna Guyub Rupa di Unnes, dan Blaba Woeda di Ambarawa.  “Iya beberapa kali pernah mengikuti pameran seni rupa, Tidak hanya lukisan, tapi juga patung, keramik, dan topeng,”katanya.

Putri pasangan Sutrisno dan Sri Utami ini mengaku, berkat bakatnya melukis, saat usia SD, ia mampu membeli sepeda sendiri dari uang hadiah lomba. Ia juga  mendapatkan beasiswa saat masuk SMP, dan waktu SMA membeli laptop juga pakai uang sendiri. “Itu semua karena saya yang sering menang dalam lomba melukis. Sejak TK sampai SMA kurang lebih sudah dapat 60 piala,” katanya.

Orangtua juga mendukung penuh bakat Rani. Kebetulan ayahnya saat ini menjadi guru les privat melukis setelah pensiun dari pegawai asuransi. “Jadi darah seni saya mengalir dari ayah,” akunya.

Saat masih SMA, putri nomor dua dari tiga bersaudara ini juga membantu ayahnya mengelola sanggar lukis Bukit Seni di Sendang Harjo, Tuban. Sanggar tersebut didirikan sang ayah dengan tujuan agar Rani dapat menyalurkan bakatnya kepada masyarakat umum.

“Itu dulu ayah yang  awalnya membangun sanggar melukis, tapi berhubung ayah sibuk kerja, jadi sanggarnya nonaktif. Tapi sebenarnya ayah juga bukan pekerja seni. Akhirnya, waktu SMA saya aktifkan kembali sanggar melukis tersebut, dan ternyata banyak tetangga yang memasukkan anaknya ke sanggar, terus menyebar ke masyarakat luas,” ceritanya.

Rani mengakui, kesibukannya di kampus dan melukis, membuatnya harus pandai-pandai mengatur waktu. Apalagi  ia juga aktif berorganisasi. Biasanya, Rani melukis di waktu senggangnya, baik pagi, siang, ataupun malam hari. Saat ini, Rani juga sedang mempersiapkan untuk membuka sanggar lukis di Tuban Kota dan Jatirogo. Siswanya mulai anak TK sampai siswa SMA.

“Saya ingin membuka sanggar yang besar. Semoga setelah lulus dari Unnes bisa segera mewujudkan itu. Sekarang kan lagi di Semarang, jadi untuk sementara sanggar lukis di Tuban dinonaktifkan. Biasanya kalau libur kuliah, saya memberikan pelatihan ke para tetangga yang berminat melukis,” katanya.

Menurut Rani, ilmu seni rupa penting dalam kehidupan sehari-hari, sama seperti ilmu yang lain. Karena itu, ia selalu mengajak masyarakat untuk mencintai dan peduli dengan seni rupa. “Selagi masih muda saya ingin berkarya serta mengabdikan diri untuk Indonesia dalam pengembangan seni rupa,” ujarnya.

Harapan lainnya, ke depan ia bisa menuai kesuksesan dari seni rupa. Sehingga hasilnya bisa untuk membiayai naik haji kedua orangtuanya, serta membiaya sekolah adiknya hingga kuliah. “Saya berharap bisa membangunkan rumah untuk orangtua. Karena sekarang rumahnya dijual untuk biaya kuliah saya dan kakak,” akunya. (*/aro)