Ada yang Berebut Sesaji hingga Ritual Mandikan Perahu

Melihat Tradisi Sedekah Laut Warga Tanjung Mas Semarang

287
SEDEKAH LAUT: Tandu tempat kepala kerbau dan aneka sesaji saat akan dilarung warga Tambak Lorok dan Tambakrejo ke tengah laut, kemarin. (Triawanda Tirta Aditya/Jawa Pos Radar Semarang)
SEDEKAH LAUT: Tandu tempat kepala kerbau dan aneka sesaji saat akan dilarung warga Tambak Lorok dan Tambakrejo ke tengah laut, kemarin. (Triawanda Tirta Aditya/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM Tradisi sedekah laut kembali digelar para nelayan warga Tambak Lorok dan Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang. Kegiatan ini sebagai bentuk terima kasih terhadap kekayaan laut yang melimpah yang diberikan Tuhan.

TRIAWANDA TIRTA ADITYA

MINGGU (5/8) pagi, ribuan warga tampak antusias mempersiapkan acara sedekah laut. Mereka menyiapkan aneka sesaji, buah-buahan, sayuran dan tak lupa kepala kerbau. Aneka sesaji dan kepala kerbau ditempatkan dalam tandu yang siap dilarung di tengah laut, yang berjarak sekitar 5 km dari bibir pantai.

Acara sedekah laut diawali dengan arak-arakan kirab warga dan nelayan. Setelah upacara dan doa dipanjatkan, sesaji itupun dibawa menuju perahu dengan diiringi tabuh-tabuhan dan rebana. Para nelayan kemudian membawanya ke tengah laut menggunakan ratusan perahu untuk melarung sesaji tersebut.

Ketua Panitia Kirab Budaya Nusantara, Khoirun, menyampaikan, tradisi ini merupakan acara rutinan yang sudah ada sejak 1985. Dalam 4 tahun terakhir, tradisi ini digelar dengan melarung kepala kerbau. “Warga sangat antusias dengan Kirab Budaya Nusantara ini, terutama saat prosesi sedekah laut. Ada lebih dari seratus kapal dan ratusan warga lain yang ikut ke tengah laut untuk menyaksikan prosesi ini berlangsung,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (5/8).

Ia mengatakan, terdapat sejumlah warga yang memperebutkan aneka sesaji yang dilemparkan ke tengah laut. Adapula warga yang memandikan perahunya di tengah laut setelah seluruh sesaji dan kepala kerbau dilarung “Hal itu diyakini mampu meningkatkan rezeki tangkapan ikan lebih banyak dibanding sebelum sedekah laut,” ujarnya.

Tak hanya itu, ritual ini juga diikuti dengan acara memandikan anak di pantai. Warga mempercayai dengan mandi di laut, anak-anak mereka akan memperoleh berkat di kemudian hari serta dijauhkan dari segala ancaman penyakit.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, I Gede Made Agung, menuturkan tradisi sedakah laut memiliki banyak manfaat bagi warga Kelurahan Tanjung Mas. Tradisi ini dirasa mampu mempersatukan para nelayan dan warga yang berdomisili di wilayah Kelurahan Tanjung Mas, khususnya Tambak Lorok dan Tambakrejo.

“Harapannya, dengan diadakannya tradisi sedekah laut secara rutin, warga khususnya nelayan bisa lebih kompak dan rukun. Tradisi ini juga mengajarkan kita semua untuk berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan kekayaan laut yang melimpah, sehingga bisa menghidupi masyarakat Kota Semarang,” katanya saat menghadiri acara Kirab Budaya Nusantara tersebut.

Tradisi yang digelar di 5 km dari pantai itu mendapat pengamanan dari tim gabungan Polairut, Angkatan Laut, dan Basarnas. Petugas Basarnas, Maheri Apriyanto, menyayangkan warga yang tidak memakai pelampung saat berebut sesaji di tengah laut lepas. “Harusnya mereka memakai pelampung terlebih dahulu apabila mau berenang di laut lepas seperti ini, karena kita tidak pernah tahu akan situasi alam yang dapat berubah kapanpun dan dimanapun berada,” ujarnya. (*/aro)