Ada Kebanggaan di Simpang Lima

177
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang
Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM – KAMIS malam lalu saya ditugasi Manajer Iklan Jawa Pos Radar Semarang Sugiyanto ke Simpang Lima Semarang. Persisnya ke toko Istana Brilian di ujung tenggara Lapangan Pancasila di jantung Kota Atlas. Bukan untuk membeli kue yang dijual di toko itu melainkkan menyerahkan penghargaan Cullinary Award 2018. Penerimanya Nanda Djoenaedy, pemilik toko itu.   Sembari menunggu pelaksanaan, saya bersama GM Jawa Pos Radar Semarang Iskandar  diajak ke lantai dua. Dari sana terlihat deretan stan makanan yang hampir memenuhi pinggiran Simpang Lima. Saya sering ke situ kalau lagi lapar tengah malam. Banyak orang luar kota juga nongkrong di sana. Obrolannya macam-macam. Mulai dunia malam, kehidupan sehari-hari, sampai perkembangan politik terkini. Asyik.

Kalau masih sore bisa menikmati gemerlap kereta hias yang hilir-mudik di bibir Lapangan Pancasila Simpang Lima. Semakin menarik, karena lalu lintas di sekelilingnya sedang “ramalan” alias ramai tapi lancar. Sudah lama saya ingin mencoba kereta hias atau ada yang menyebut becak hias itu, tapi belum kesampaian.

“Semarang harus punya sesuatu yang membanggakan,” kata Nanda memecah konsentrasi saya yang waktu itu tertuju ke Lapangan Pancasila. Sudah banyak. Tapi masih belum seberapa dibanding perkembangan kota yang sekarang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi. Masih diperlukan banyak ikon baru. Saya setuju.

Salah satu yang membanggakan itu adalah cake bikinan Nanda. Kue itu hanya dijual di tokonya di pojok Simpang Lima itu. Penampilannya tidak berbeda dengan kue-kue lain. Yang istimewa adalah kualitasnya. Bisa tahan tiga bulan. Itu karena dikemas kedap udara. Sudah mendapat sertifikat dari Sucofindo.

Museum Rekor Indonesia Dunia (MURI) mencatatnya sebagai kue yang memiliki ketahanan terlama. Padahal, waktu itu masih 58 hari. Tahun 2004. Sekarang sudah tahan lebih dari tiga bulan. Banyak orang yang membelinya sebagai oleh-oleh. Pernah ada rombongan dari Korea yang satu orang membeli 20 boks untuk dibawa ke negaranya.

Malam itu, di tokonya juga sedang ada turis. Rambutnya pirang. Mengenakan celana cekak. Juga membeli Brilian Cake. Dua boks. Ada juga makanan lain. Istana Brilian sekaligus menjadi toko  oleh-oleh yang lengkap dan menjadi ikon wisata Semarang “Kalau cake bikinan kami, hanya kami jual  di sini,” ujar Nanda yang sebelum membuat kue telah terkenal sebagai distributor bahan kue. Sampai sekarang.

Keistimewaan lain, adalah komposisi bahannya. Cynthia Margareta, istri Nanda, yang meracik. Tidak sembarangan.  Resepnya diperoleh dari wangsit. Lengkap dengan gram-gramannya. Cynthia yang sangat cantik (menurut saya) seorang paranormal. Nanda kena imbas. Dia juga belajar fengsui dan hongsui. Saya sempat minta nasehat. “Sekarang Bapak  sabar dulu. Enam bulan lagi akan membahagiakan,” katanya mengenai kondisi yang saya alami. Wah, lama sekali. Tapi, tak apa. Istiqomah saja.

 Radar Semarang memberikan penghargaan Cullinary Award kepada pemilik kuliner yang memiliki keistimewaan. Sekaligus memberikan rekomendasi kepada masyarakat. Brilian Cake telah menjadi kuliner yang beda dan membanggakan. “Saya tidak mau membuka cabang di tempat lain. Biarlah menjadi kebanggaan Semarang,” tegas Nanda.

Kalau di Simpang Lima Semarang saya menemukan kebanggaan atas cake, tidak jauh dari Simpang Lima Pati, saya melihat kebanggaan atas sepatu dan batik. Kemarin malam (Sabtu malam) dilangsungkan perhelatan Duta Wisata Kabupaten Pati. Tentu banyak dandanan dan pakaian gemerlap. Acara dihadiri Bupati Haryanto dan Wakil Bupati Saiful Arifin.

Saya sebagai Direktur Jawa Pos Radar Kudus diundang untuk menyerahkan hadiah juara favorit. Pemenangnya ditentukan lewat balot yang diterbitkan Radar Kudus setiap hari selama beberapa hari.  Seluruh peserta mengenakan pakaian batik Pati. Kebanyakan untuk bawahan. Baik laki-kali maupun perempuan. Itu bagian dari cara membanggakan batik Pati. Batik Pesantenan dan Bakaran. Sudah mulai terkenal di Nusantara. Malam itu bupati dan wakil bupati juga mengenakannya. Saya juga (hehehe). Memakai batik Bakaran produksi Sri P Sarni di acara yang digelar di Plaza Pragolo Pati tersebut.

“Kita harus bangga terhadap produk daerah sendiri,” kata Safin, panggilan Saiful Arifin. Panggilan itu sama dengan nama hotel miliknya di Pati. Dia tidak hanya mengenakan batik Bakaran dasar sogan, juga memakai sepatu kulit. “Sepatu saya ini juga asli Pati,” katanya sambil menjulurkan kakinya yang memakai pantofel hitam. Ternyata bupati juga mengenakannya. “Saya juga,” kata saya tak mau kalah. Saya beli di Plaza Pragolo Pati Rp 120 ribu. Safin tertawa. Plaza itu menjadi ruang pamer produk-produk kerajinan dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) asli Pati.

Banyak daerah yang memiliki produk lokal. Tidak sedikit pula yang berkualitas bagus. Tinggal bagaimana membuat produk itu menjadi membanggakan. Nanda, Cyinthia, Haryanto, dan Safin, telah memberi contoh. Mereka konsisten mengembangkan dan menjadikan produk itu kebanggaan bagi daerahnya.

Mula-mula harus dibanggakan secara lokal. Kemudian akan menjalar ke daerah sekitar. Selanjutnya menjadi ikon wisata. Kelak akan terkenal di manca negara.(hq@jawapos.co.id)