Dorong Fotografer Bersertifikasi

245
PAMERAN FOTO : Andi Kusnadi (kiri) saat pembukaan pameran foto yang digelar di salah satu mal Kota Semarang dan dibuka Wali Kota Hendrar Prihadi (ketiga dari kanan). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAMERAN FOTO : Andi Kusnadi (kiri) saat pembukaan pameran foto yang digelar di salah satu mal Kota Semarang dan dibuka Wali Kota Hendrar Prihadi (ketiga dari kanan). (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Selain bergerak di bidang advertising dan event organizer, perusahaan Andi Kusnadi juga bergerak di bidang fotografi. Memang sudah sejak lama ia jatuh hati pada dunia melukis dengan cahaya ini.

Kecintaan pada dunia fotografi pula yang membuat Andi memperhatikan fotografer tanah air. Ketua Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) Jawa Tengah ini mendorong agar fotografer Indonesia memiliki sertifikat yang diakui di sejumlah negara. Bukan tanpa sebab, menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kompetensi yang dibuktikan lewat sertifikat dinilai penting agar bisa bersaing dengan fotografer luar.

”Mulanya saya sedih ketika melihat majalah di pesawat yang isinya foto keindahan Indonesia, tapi yang motret justru orang Amerika. Kenapa kok nggak orang sini saja,” ujarnya.

Ia menilai, fotografer Indonesia sebenarnya tak kalah dari luar. Untuk itu, pria yang juga bersertifikat sebagai penguji ini mendorong agar fotografer Indonesia bisa mengikuti ujian sertifikasi.

Meskipun demikian, ia meminta agar sertifikat didapatkan fotografer dengan kualitas yang benar-benar sesuai. Tak jarang, ia selalu memberikan ujian sampai mendetail untuk tujuan ini. Harapannya, agar ujian sertifikasi yang dilakukan benar-benar meloloskan fotografer yang memang teruji kualitasnya.

Pernah, ia menguji peserta uji sertifikasi hingga jam 12 malam karena banyaknya hal yang harus dilalui peserta demi kualitas yang maksimal. ”Sampai-sampai ada yang mengatakan, uji sertifikasi kalau belum ujian di studio tempat saya menguji, belum lulus ujian,” ujar pria yang karena memperhatikan kualitas ini mendapat apresiasi dari Risman Marah, dosen ISI Jogja.

Kepeduliannya terhadap fotografi juga dibuktikan dengan membentuk komunitas Semarang Photography Event (SPE) yang hingga kini ia ketuai. Tidak ingin hanya melakukan hunting, ia memasukkan sisi edukasi dalam komunitas. Melalui komunitas ini, ia juga kerap menggelar bermacam seminar, workshop untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para fotografer Semarang. ”Sehingga di sini bisa berbagi ilmu. Bukan hanya hunting saja,” ujar pria yang mengaku tidak mengambil keuntungan apapun dalam upayanya memajukan fotografi. (sga/ton)