Ajak Siswa Sulap Limbah Styrofoam Jadi Keramik Cantero

156
Oleh: Sri Utiarsi Budihastuti SSi
Oleh: Sri Utiarsi Budihastuti SSi

RADARSEMARANG.COM Styrofoam/stereofoam/polystyrene foam merupakan limbah tak ramah lingkungan karena tidak biodegradable. Keberadaannya di lingkungan mamunculkan masalah baru seperti polusi dan banjir. EPA (Enviromental Protection Agency) mengkategorikan styrofoam sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia.

Tidak banyak orang tahu bahwa styrofoam bisa dijadikan keramik cantero, namun di SMK Negeri 1 Warungasem pernah dilakukan pembuatan keramik cantero ini. Cantero berasal dari kata cangkang telur dan styrofoam. Keramik cantero dibuat dari limbah cangkang telur dan styrofoam.

Dalam pembuatan keramik cantero, styrofoam dan cangkang telur diperoleh dari limbah yang belum termanfaatkan. Styrofoam diperoleh dari sisa-sisa dekorasi, pembungkus elektronik dll. Cangkang telur didapat dari limbah dapur, limbah pedagang makanan dll. Dengan memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan untuk proses pembuatan keramik cantero, secara tidak langsung siswa mendapatkan pendidikan karakter. Siswa menjadi cinta kebersihan, mencintai alam dan kreatif untuk menyelamatkan lingkungan dengan menghasilkan karya baru.

Pemikiran pengolahan dalam bentuk lain muncul dengan dasar pemikiran, dalam kondisi lelehan, styrofoam mempunyai sifat lengket sementara cangkang telur yang mengandung banyak kalsium karbonat (CaCO3) mempunyai sifat yang kuat dan keras. Dua sifat ini jika dipadukan menjadi produk baru dalam bentuk keramik cantero.

Proses pembuatan keramik cantero dilakukan dengan cara yang sangat sederhana dan tidak memerlukan keahlian khusus. Bahan dan alat sangat mudah didapat dan murah. Alat yang digunakan diantaranya : ember, cetakan, penghalus (blender/lumpang alu), timbangan, pisau/cutter, penyaring, ampelas, serbet/lap Sedangkan bahan yang digunakan berasal dari limbah di lingkungan seperti limbah styrofoam, limbah cangkang telur, bensin, pewarna tekstil.

Langkah pembuatan keramik cantero prinsipnya seperti membuat keramik tradisional (gerabah) yaitu persiapan, proses pencampuran dan finishing. Pertama-tama pada kegiatan persiapan dilakukan pembersihan styrofoam dan pencucian cangkang telur kemudian cangkang telur dijemur. Setelah kering, cangkang telur dihaluskan/diblender sampai halus.

Kedua proses pencampuran. Pada proses ini styrofoam dipotong–potong kemudian dilelehkan menggunakan bensin. Styrofoam dapat juga dilelehkan dengan menggunakan aseton atau dengan minyak atsiri seperti minyak kayu putih dan minyak d-Lemonene. Setelah terbentuk lelehan styrofoam, cangkang telur yang sudah halus dicampurkan ke dalam lelehan tersebut. Campuran diaduk hingga rata. Setelah adonan rata, cetak bahan adonan tadi sesuai selera. Kemudian hasil pencetakan dikeringkan.

Langkah ketiga adalah finishing. Setelah keramik kering, diamplas agar hasil lebih menarik dan untuk souvenir dapat ditambah pernis agar mengkilap. Pemanfaatan keramik ini cukup banyak seperti hiasan dinding, asbak, souvenir, batako dan lain-lain. Perbandingan styrofoam dan cangkang telur serta kehalusan serbuk cangkang telur yang dipakai disesuaikan dengan hasil yang diinginkan.

Melalui kegiatan ini siswa mendapat pengalaman yang menyenangkan. Siswa dapat merasakan bahwa pelajaran kimia tidak sekadar materi hafalan dan terkesan abstrak tetapi ternyata kimia dapat direalkan serta dimanfaatkan untuk lingkungan dan masyarakat. (kpig1)

Guru SMK Negeri Warung Asem Batang