Oleh: Khoirin SHI
Oleh: Khoirin SHI

RADARSEMARANG.COM – Fiqih secara umum merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak membahas tentang hukum yang mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan lingkungannya. Melalui bidang studi fiqih ini diharapkan siswa tidak lepas dari jangkauan norma-norma agama dan menjalankan aturan syariat Islam.

Kendatipun demikian, masih dijumpai beberapa problematika saat proses pembelajaran. Di antaranya, dalam menyampaikan materi pelajaran, guru sering menggunakan metode ceramah yang sifatnya monoton dan kurang menarik. Akibatnya, beberapa siswa mengantuk, tidur dan berbicara sendiri dengan teman sebangkunya atau asyik berpindah tempat dari bangku satu ke bangku yang lain. Sehingga berdampak buruk baik nilai maupun motivasi belajarnya.

Oleh karena itu, guru dapat memilih metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat belajar siswa, yaitu dengan menggunakan metode advokasi. Metode advokasi adalah metode pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) yang sering diidentikkan dengan proses debat.

Metode advokasi hampir sama dengan metode debat, yang membedakan hanyalah metode advokasi lebih menekankan pada kekompakan dan kerja tim. Perwakilan kelompok akan menyampaikan hasil diskusi kelompoknya.

Oemar Hamalik menyatakan, pembelajaran advokasi dipandang sebagai suatu pendekatan alternatif terhadap pengajaran dedaktis di dalam kelas. Metode ini memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari isu-isu sosial dan personal melalui keterlibatan langsung dan partisipasi pribadi.

Belajar advokasi mematuhi prinsip-prinsip sebagai berikut. Pertama, ketika siswa terlibat langsung dalam penelitian dan penyajian debat, ke-Aku-annya lebih banyak ikut serta dalam proses dibandingkan dengan situasi ceramah tradisional. Kedua, proses debat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Ketiga, para siswa terfokus pada suatu isu yang berkenaan dengan diri mereka, terkadang yang berkenaan dengan masyarakat luas dan isu-isu sosial personal. Keempat, pada umumnya siswa akan lebih banyak belajar mengenai topik-topik mereka dan topik-topik lainnya bila mereka dilibatkan langsung dalam pengalaman debat. Kelima, proses debat memperkuat penyimpanan (retention) terhadap komponen-komponen dasar suatu isu dan prinsip-prinsip argumentasi efektif. Keenam, belajar advokasi dapat digunakan baik belajar di sekolah dasar maupun di sekolah selanjutnya. Ketujuh,pendekatan instruksional belajar advokasi mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dalam logika, pemecahan masalah, berpikir kritis, serta komunikasi lisan dan tulisan.

Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut. Pertama, memilih suatu topik debat berdasarkan pertimbangan dari aspek kebermaknaan, tingkatan siswa, relevansinya dengan kurikulum dan minat siswa. Langkah kedua, memilih dua regu debat dengan masing-masing beranggotakan dua siswa. Langkah ketiga, menjelaskan fungsi tiap regu kepada siswa. Keempat, menyediakan petunjuk dan asistensi kepada siswa untuk membantu menyiapkan debat. Langkah berikutnya melaksanakan debat. Para audiens melakukan fungsi observasi khusus selama berlangsungnya debat. Langkah terakhir melaksanakan diskusi kelas, dilanjutkan dengan pengarahan kembali setelah debat.

Penerapan metode ini dapat dijadikan salah satu solusi untuk mengurangi permasalahan siswa dalam memahami dan mengingat mata pelajaran yang selama ini mereka anggap membosankan. Selamat mencoba untuk mata pelajaran lainnya. (kpig1)

Guru Fiqih MTs Nurul Huda Banyuputih