Tiga Wilayah Darurat Wereng

395

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Sawah seluas 604 hektare yang ada di Kota Pekalongan terserang hama wereng. Akibatnya, sawah yang terserang wereng tersebut terancam gagal panen (puso).

Kepala Bidang Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Pangan, Pemkot Pekalongan, Darsari Resti Artanti mengatakan bahwa  Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinperpa terus berupanya memberikan batuan kepada petani dalam menangani hama wereng yang sering mengakibatkan puso.

Menurutnya pengendalian hama wereng terus dilakukan, terutama pada tiga wilayah yang terserang paling parah yaitu di  Kelurahan Pringrejo,  Kecamatan Pekalongan Barat, kemudian di Kelurahan Sokoduwet, Kecamatan Pekalongan Selatan dan di Kelurahan Kalibaros, Kecamatan Pekalongan Timur.

“Berdasarkan data dari petugas PUPT, luasan yang terkena serangan ini ada 604 hektare, terutama paling luas di wilayah selatan dan timur karena basis pertanian Kota Pekalongan disana. Memang kondisinya tidak sama merata, ada yang sudah parah ada juga yang baru mulai terkena wabah, namun cukup memperihatinkan,” ungkap Darsari Resti.

Darsari Resti mengatakan bahwa upaya pengendalian hama wereng dilakukan dengan menggunakan dana APBD dan bantuan dari APBD Provinsi yang nilainya cukup besar dan seharusnya mampu memberantas hama wereng jika dilakukan secara beraturan bersama kelompok tani.

“Meskipun para petani melakukan pengendalian mandiri, tapi tetap dengan didampingi penyuluh dan petugas PUPT agar tepat dosisnya dan tepat sasaran karena hama wereng itu di bawah bagian batang,  tidak hanya disemprot bagian atas. Terkait dosis juga diperhatikan, karena dosis yg tidak tepat juga memicu serangan yang lebih parah lagi.  Kepetani juga kita sampaikan keamaan saat menyemprot,  jangan sampai kita berupaya menyelamatkan padi tetapi membahayakn bagi petani sendiri,” kata Darsari Resti.

Darsari juga menjelaskan petingnya koordinasi dengan kelompok tani karena dari total luas 980 hektare, Kota Pekalongan hanya memiliki satu petugas PUPT dari Provinsi, serta 9 pendamping petani di 4 kecamatan Kota Pekalongan.

“Kita hanya punya petugas PUPT,  itupun dari provinsi, sehingga dengan luas sawah 980 hektar se kota Pekalongan itu, sangat mustahil jika dilakukan sendiri oleh karena itu perlu adanya pengawasan mandiri. Hanya ketika ditemukan kendala bisa disampaikan melalui group internal yg kita buat sebagai informasi awal. Penyebaran hama wereng sangat cepat,  dari pengamatan awal saja,  dua hari kemudian padi sudah menjadi coklat karena wereng,” tegas Darsari. (thd/bas)