Daging Ayam Mahal, Peternak Perlu Koperasi

117
TURUN LANGSUNG: Anggota DPD RI, Bambang Sadono saat mengecek kondisi peternak ayam pedaging di Desa Gebangarum, Kecamatan Bonang, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN LANGSUNG: Anggota DPD RI, Bambang Sadono saat mengecek kondisi peternak ayam pedaging di Desa Gebangarum, Kecamatan Bonang, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Melambungnya harga daging ayam di pasaran membuat berbagai kalangan masyarakat prihatin. Untuk mengecek penyebab mahalnya harga daging ayam ini, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jateng,  Bambang Sadono turun langsung ke lapangan.

Kemarin, ia meninjau  sebuah peternakan ayam pedaging di Desa Gebangarum, serta peternak kambing di Desa Tridonorejo, Kecamatan Bonang. Bambang mengatakan, sebelumnya ia sidak ke peternak ayam di Kabupaten Semarang.

Di daerah tersebut peternak justru mengeluhkan mahalnya daging ayam dipasaran tidak berimbas positif bagi mereka. Di Kabupaten Semarang, kata dia, petani relatif tidak mendapatkan keuntungan dan mereka mengaku merugi. Karena itu. Bambang pun mencoba mengecek hal serupa di Kabupaten Demak kondisinya seperti apa.

“Setelah kita datangi peternak ayam di Demak ini, ternyata kalau pengelolaannya bagus, mereka masih bisa memperoleh keuntungan termasuk saat harga daging dipasaran mahal. Jadi, cukup bervariasi kondisinya antara daerah satu dengan daerah lainnya tergantung kualitas pengelolaannya,” ujar Bambang, mantan politisi Partai Golkar kelahiran Blora tersebut.

Dengan sistem kontrak antara peternak dengan pihak pabrik diakui ada plus dan minusnya. Dari kontrak itu, satu sisi peternak cukup menyediakan kandang atau tempat dan tenaga. Sedangkan, pihak pabrik memfasilitasi pakan ternak, bibit, obat obatan, petugas lapangan (PPL) dan yang terkait. Meski demikian, ketergantungan peternak   kepada pabrik cukup tinggi. “Karena itu, perlu ada koperasi bagi peternak untuk menjaga kestabilan pasokan daging kepasaran serta menjaga kestabilan harga dipasaran,” ujarnya.

Dalam sistem kontrak ini, pihak pabrik juga ikut menanggung kerugian jika harga dipasaran tidak menguntungkan. “Jadi, pihak pabrik juga menanggung risiko bila ada kerugian,” katanya.

Peternak ayam, H Masnur mengungkapkan, dirinya sudah menjadi rekanan pabrikan pakan ternaks ejak 2015. Modal awal untuk membuat kandang ternak menghabiskan dana Rp 350 juta. Namun, modal itu telah kembali. “Dalam waktu 35 hari kita sudah bisa panen. Alhamdulillah, dalam beberapa kali panen ini selalu menguntungkan. Jadi, saya belum pernah rugi. Kalau ada kematian ayam masih dalam taraf wajar,” katanya.

Menurutnya, harga kontrak daging ayam dengan pabrikan sebesar Rp 17 ribu perkilogram. Karena dipasaran harganya cukup tinggi, maka peternak seperti dirinya juga memperoleh bonus 20 persen dari sisa kontrak.

Dia menambahkan, jumlah ternak ayam dikandangnya mencapai 13 ribu ekor. Untuk merawat hingga panen biayanya bisa mencapai Rp 400 juta dengan lebih dari 50 ton pakan ternak. Meski demikian, setelah panen rata rata tetap memberikan keuntungan. (hib/sct/bas)