Wajibkah Mengganti Nadzar yang Terlupakan?

211

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Bapak DR KH Ahmad Izzuddin M.Ag di Jawa Pos Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah SWT. Dua Minggu yang lalu saya bernadzar, kalau nadzar terpenuhi, saya akan puasa sunah Senin-Kamis selama sebulan. Namun, kemarin Senin tahun baru saya lupa dan lalai. Jadi minggu ini hanya puasa Kamis saja. Pada Seninnya kelewat. Apakah berdosa saya jika terlewat? Dan bolehkah saya menggantinya setelah lewat sebulan? Terima Kasih. Demikian dari saya, terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah

Nia, di Semarang 085764640xxx

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Ibu Nia di Semarang yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Perlu diketahui, bahwa nadzar adalah menetapkan ibadah yang tidak wajib di dalam syariat secara mutlak atau yang digantungkan pada sesuatu. Dalil tentang disyariatkannya nadzar serta wajib memenuhinya terdapat di dalam Alquran Surat Al-Insan ayat 7:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka memenuhi nadzarnya dan takut terhadap hari (kiamat) yang keburukan merata di mana-mana.”

Dalam ayat tersebut pada kalimat ‘yuufuuna bi nadzar” memiliki makna bahwa menepati nadzar adalah menetapkan ibadah kepada Allah SWT, yaitu dengan menunaikan sesuatu kewajiban yang dilakukan oleh dirinya sebagai sarana ketaatan kepada Allah (Tafsir al Munir karya Wahbah Zuhaili).

Lalu, bagaimana syariat Islam memandang ketika seorang nadzar puasa Senin-Kamis selama sebulan, kemudian pada suatu hari dia tidak menunaikan karena lupa?

Ketika seseorang nadzar puasa Senin-Kamis, kemudian ia pada suatu hari tidak berpuasa disebabkan tidak adanya udzur maka berdosa dan ia wajib qodho’ (mengganti) puasa tersebut dengan tanpa adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Sebagaimana keterangan dalam kitab Raudlatut Thalibin juz 3 halaman 310, sebagai berikut:

“Apabila seseorang tidak berpuasa pada sebagian hari tanpa adanya udzur, maka ia berdosa dan wajib meng-qadha (mengganti) dengan tanpa (terjadi) perbedaan di kalangan para ulama. Baik tidak berpuasanya sebab udzur maupun tidak maka tidak wajib mengganti/memulai secara langsung puasanya. Dan apabila puasa dalam setahun itu hilang (habis waktunya), maka tidak wajib  secara langsung menggantinya seperti puasa Ramadan. Semuanya itu apabila tidak ditujukan untuk at tatabu’.”   

Sedangkan untuk memulai kembali puasa (meng-qadha secara langsung) yang telah ia tinggalkan pada bulan (ketika nadzarnya sebulan) atau tahun berikutnya (ketika nadzarnya setahun) ini tidak wajib, baik meninggalkan puasa karena udzur maupun tidak. Akan tetapi menurut ulama lain dalam kitab Al-Muhadzab bahwa seseorang yang tidak berpuasa bukan karena udzur, ia wajib memulai kembali puasanya (meng-qadha puasa secara langsung).

Menurut hemat kami, ketika seseorang yang meninggalkan puasa yang telah dinadzari dengan alasan tanpa udzur, maka sebaiknya meng-qadha puasanya langsung pada bulan berikutnya ketika puasa yang ia nadzari sebulan. Dan agar ia tidak lupa kembali. Di samping itu, menimbang sesuatu yang baik itu lebih baik dilakukan secepat mungkin.

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Walla hu a’lam bishshowab. (*)