Struktur Mirip Prambanan, Ditemukan Tiga Candi Perwara

Melihat Proses Ekskavasi Situs Candi Duduhan di Mijen, Semarang

581
EKSKAVASI CANDI : Siswa SDN Jatibarang 01 menyaksikan proses ekskavasi Candi Duduhan oleh tim Puslit Arkenas dan EFEO. (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EKSKAVASI CANDI : Siswa SDN Jatibarang 01 menyaksikan proses ekskavasi Candi Duduhan oleh tim Puslit Arkenas dan EFEO. (PRATONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Lembaga Penelitian Perancis untuk Kajian Timur Jauh atau Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) kembali melakukan ekskavasi situs Candi Duduhan di Dusun Duduhan, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Sejumlah temuan baru bisa melengkapi hipotesa masuknya peradaban Hindu di Jawa Tengah melalui pantai utara Jawa. Semarang menjadi salah satu pintu masuknya. Seperti apa?

PRATONO

PADA ekskavasi tahap pertama 2015, tim berhasil menemukan struktur candi utama yang berukuran sekitar 9 x 9 meter. Sementara pada penggalian kali ini, ditemukan tangga masuk candi utama dan struktur 3 candi perwara di bagian depan candi utama. Ukuran candi perwara sekitar 5,4 x 5,4 meter.

Ketua Tim Ekskavasi Agustijanto Indradjaja dari Puslit Arkenas menjelaskan, struktur Candi Duduhan ini mirip dengan Candi Prambanan. Diperkirakan, candi yang tersusun dari bata ini berasal pada masa kerajaan Mataram Kuno periode akhir Jawa Tengah. Areanya juga diketahui lebih luas dari hasil ekskavasi pada 2015 silam. “Mirip model Candi Prambanan. Terdiri atas 1 candi induk dan 3 candi perwara. Juga ada lingga, yoni, dan arca nandi. Pintu masuk candi sudah ketemu, menghadap ke timur,” jelas Agus kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (2/8).

Candi Duduhan disusun dari bata. Ukuran bata lebih besar dari ukuran bata yang lazim digunakan masyarakat saat ini. Bata yang terpendam dalam tanah tersebut berukuran sekitar 36 x 22 x 11 sentimeter atau 3 kali lipat ukuran bata saat ini. Candi ini diperkirakan dibangun pada sekitar tahun 830 – 850 masehi. Ekskavasi berlangsung dari 27 Juli-4 Agustus 2018.

Arkeolog dari EFEO, Veronique Degroot, bersama Agus, sejak 2013 meneliti situs-situs era klasik yang tersebar di sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Brebes hingga Rembang. Survei lapangan awal berbekal foto zaman Belanda, arsip kepustakaan, dan arsip lokal. Ternyata, mereka menemukan situs-situs baru yang belum tercatat.

Dengan melihat lokasinya, Vero memperkirakan, Candi Duduhan dulu berada di kawasan permukiman. Berdasarkan lokasi penemuan candi perwara, candi induk kemungkinan besar menghadap timur. Tim masih mencari seberapa luas area Candi Duduhan tersebut. “Ini masih terus dicari pagar yang mengelilingi candi. Tapi hipotesa kita, candi ini lebih muda dari Borobudur dan sezaman dengan Candi Prambanan,” lanjut Vero.

Candi Duduhan ini berada di lahan milik Sutopo, 67. Dulu saat ia masih kecil, di lokasi tersebut juga terdapat sejumlah yoni, arca ganesha, arca sapi atau nandi, lapik arca dan sejumlah batu lain. Berdasarkan Daftar Inventaris Semarang pada 1976, juga tercatat ada pecahan kepala arca Durga. Kini benda-benda tersebut sudah berpindah tempat.“Patung Ganesha sempat dicuri orang. Setelah ketemu, sekarang disimpan di Museum Ranggawarsita,” tutur Sutopo.

Sebuah yoni diketahui sudah dipindah ke rumah warga. Arca nandi yang pecah, bagian tubuhnya juga dipindah warga untuk menghias taman kampung yang tak jauh dari lokasi penemuan candi. Begitu juga dengan 1 lapik arca dan batu mirip kemuncak candi, diletakkan di taman dekat warung mi ayam. Sementara batu-batu lainnya belum diketahui rimbanya.

Sebelum ini, tim juga melakukan ekskavasi Candi Trisobo yang berada di Desa Trisobo Kecamatan Boja pada April 2018 lalu. Di lokasi ini, terdapat reruntuhan batuan candi dan arca yang sudah rusak sebagian. Agus memperkirakan, Candi Duduhan dan Candi Trisobo ini berdiri pada masa yang sama, yaitu Mataram Kuno.

Hanya saja struktur bangunan kedua candi ini berbeda. Jika Candi Duduhan disusun dari bata, Candi Trisobo berasal dari gabungan bata dan batu andesit. “Candi utama di Trisobo berasal dari batu. Tapi ketika digali, di sekitarnya ada susunan candi dari bata juga,” jelas Agus.

Ada beberapa alasan mengapa terdapat perbedaan jenis batu penyusun candi. Di antaranya terkait ketersediaan bahan baku. Di Trisobo, kata Agus, batu-batuan mudah ditemukan. Sementara di Duduhan, lokasinya jauh dari lokasi yang menyimpan banyak batu. Bisa juga karena perbedaan teknologi atau kecenderungan tren pada masyarakat yang membangunnya. “Jadi banyak perkiraan penyebab, mengapa ada candi yang dibangun menggunakan bata dan ada yang dari batu.”

Satu lagi situs candi di Mijen yang diduga semasa dengan Candi Duduhan dan Candi Trisobo adalah reruntuhan candi yang berada di area bekas peternakan ayam di Dusun Tempel, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen. Agus dan Vero sudah melihat lokasi tersebut. “Sepertinya candi yang di kandang ayam itu candi yang besar juga. Masih ada yoni besar, kemuncak, arca nandi dan batuan-batuan penyusun candi lainnya,” ujar Agus.

Ekskavasi ini diharapkan bisa membuka sejarah kawasan Mijen dan sekitarnya pada masa lalu. Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Kabupaten Kendal diharapkan bisa ikut membantu penelitian ini dan memelihara kelestarian situs-situs  yang tersebar di wilayah perbatasan kedua daerah ini. “Situs-situs ini harus dilestarikan dan bisa jadi ajang edukasi untuk masyarakat,” jelas Tri Subekso, salah satu tim peneliti.

Menurut Mahasiswa Magister Arkeologi Universitas Indonesia ini, lokasi Candi Duduhan, Candi Trisobo dan Candi Tempel memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata arkeologi. Misalnya, dengan membuatkan semacam museum untuk menyimpan temuan-temuan yang ada. Atau bila memungkinkan, reruntuhan candi tersebut bisa direkonstruksi hingga kembali berdiri. (*/aro)