Loloskan Masuk FK Undip, Bayar Rp 1,5 M

Sidang Penipuan di PN Semarang

1078
PENIPUAN: Terdakwa Supriyanto bin Supardi saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa di PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENIPUAN: Terdakwa Supriyanto bin Supardi saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa di PN Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Uang Rp 1,5 miliar sudah dikeluarkan Muslimin Ahmad demi sang putri bisa diterima menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) Semarang pada 2015 lewat jalur khusus tanpa prosedur. Tapi apes, Muslimin justru kena tipu. Uangnya melayang, sementara sang putri, Mega Resinta Dewi, gagal diterima di Undip. Kini, kasus penipuan tersebut bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Terdakwanya tiga orang, yakni Yunie Suharwati alias Ayu Binti Harsoyo, Ermin Sri Giarsih binti Soewandi dan Supriyanto bin Supardi. Anehnya, hingga saat ini para saksi fakta belum bisa dihadirkan di persidangan untuk diperiksa.

“Saksi fakta sudah kami panggil secara patut, tapi tak kunjung hadir di persidangan. Hari ini (Kamis kemarin, Red) sudah memasuki sidang pemeriksaan terdakwa, karena sidang sudah beberapa kali ditunda,”kata JPU Kejari Kota Semarang, Sutardi, usai sidang, Kamis (2/8).

Sejumlah saksi fakta yang seharusnya dihadirkan di antaranya, Hery Santosa, Mega Resinta Dewi, Muslimin Ahmad, dan Eny Astuti.

Sutardi mengatakan, dalam kasus itu, perbuatan para terdakwa dijerat pasal 378 jo Ppsal 55 ayat (1) KUHP. “Akibat perbuatan para terdakwa, saksi Muslimin Ahmad menderita kerugian sebesar Rp 1,5 miliar,”ujar jaksa, dalam sidang yang dipimpin majelis hakim yang diketuai Antonius Widijantono.

Data di seputar informasi penelusuran perkara (SIPP) PN Semarang http://sipp.pn-semarangkota.go.id/, perkara tersebut masuk klasifikasi penipuan, di mana perkaranya tercatat dengan nomor: 393/Pid.B/2018/PN Smg. “Saat ini perkara tersebut masih proses persidangan, baru memasuki pemeriksaan terdakwa,”ujar Panitera Muda Pidana  PN Semarang, Noerma Soejatiningsih.

Dalam berkas dakwaanya, JPU Kejari Kota Semarang, Sutardi, menyebutkan, kejadian itu berawal pada Mei 2015 silam. Saat itu, Muslimin Ahmad meminta tolong Hery Santosa untuk mencarikan orang yang bisa memasukkan anaknya, Mega Resinta Dewi, agar bisa diterima menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Undip pada 2015. Hery Santoso lantas menyodorkan nama Yunie Suharwati (terdakwa 1) yang katanya bisa memasukkan anak korban ke Fakultas Kedokteran Undip.

Selanjutnya,  Hery Santosa menemui Yunie di rumahnya di Jalan Jebresan RT 6 RW 3, Kalitirto, Berbah, Sleman. Atas permintaan Hery Santosa tersebut, Yunie menyanggupi dengan syarat ada uang pelicin untuk biaya masuknya. “Akhirnya Hery Santosa mengajak terdakwa 1 ke rumah Muslimin Ahmad di Jalan Prima Selatan E 10/E Cluster Executive Graha Estetika RT 2 RW 11, Pedalangan, Banyumanik, Semarang untuk bertemu secara langsung,”beber Sutardi dalam berkasnya.

Saat bertemu dengan Muslimin Ahmad, Yunie mengaku bisa memasukkan Mega Resinta ke Undip Semarang karena kenal dengan orang dalam, yang sudah biasa diajak kerjasama, yakni Ermin Sri Giarsih (terdakwa 2) dan Supriyanto (terdakwa 3). “Kemudian terdakwa 1 meminta uang sebesar Rp 500 juta sebagai biaya masuknya. Saksi Muslimin percaya dan menyetujui syarat yang diajukan,”jelasnya.

Pada Juni 2015 bertempat di rumah Muslimin, diserahkan uang Rp 750 juta oleh Muslimin dan Eny Astuti sesuai yang diminta oleh terdakwa 1. Rinciannya, Rp 600 juta digunakan untuk biaya masuk ke FK  Undip, dan sisanya Rp 150 juta dipakai untuk biaya uang gedung hingga Februari 2016. “Terdakwa 1 telah menerima uang dari Muslimin  maupun Eny Astuti seluruhnya sebesar Rp 1, 5 miliar. Kemudian terdakwa 2 minta kepada terdakwa 3 untuk membantu memasukkan Mega Resinta menjadi mahasiswi FK Undip Semarang, “ bebernya.

Selanjutnya, terdakwa 3 membuat surat permohonan kepada Rektor Undip Semarang meminta agar saksi Mega Resinta bisa diterima menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran. Dalam surat permohonan tersebut, saksi Mega Resinta diakui sebagai keponakan dari terdakwa 3. Hal tersebut dilakukan agar Rektor Undip mempertimbangkan permohonan dari terdakwa 3.

Namun belakangan diketahui, surat permohonan tersebut tidak membuahkan hasil. Mega Resinta gagal diterima menjadi mahasiswi Undip Semarang. Untuk menutupinya, terdakwa 3 memberikan contoh kartu mahasiswa dan surat-surat dari Undip Semarang kepada terdakwa 1. Selain itu, terdakwa 1 juga menyuruh seseorang untuk memberikan pembelajaran di rumah Mega Resinta dengan alasan mengajar materi perkuliahan kedokteran dan meminta biaya uang semesteran. “Namun akhirnya perbuatan para terdakwa diketahui oleh Muslimin Ahmad dan melaporkannya ke Polrestabes Semarang guna diproses lebih lanjut,”ungkapnya. (jks/aro)