RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Ekspor kopi Indonesia di semester pertama mengalami penurunan hingga 20 persen bila dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Yaitu dari 80 ribu ton di semester pertama tahun lalu menjadi sekitar 60 ton di semester pertama tahun ini.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah, Moelyono Soesilo mengatakan bahwa penurunan ekspor kopi Indonesia tak lepas dari dampak elnino yang terjadi pada tahun 2015 lalu. Hal tersebut di luar perkiraan para eksportir.

“Kami juga tidak menyangka pengaruhnya bisa sangat panjang. Perkiraan kami pengaruhnya hanya setahun, ternyata sampai semester awal tahun ini masih ada dampaknya,” ujarnya, kemarin.

Penurunan ekspor, menurutnya, dipengaruhi oleh konsumsi dalam negeri yang belakangan terus menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan konsumsi dalam negeri tidak dibarengi oleh pertumbuhan produksi. “Permintaan meningkat, sedang suplai menurun,” ujarnya.

Namun demikian, ia berharap di semester kedua, ekspor kopi bisa kembali meningkat. Hal tersebut didukung harga kopi dalam negeri dan internasional yang mulai tidak lagi berselisih terlalu besar. “Tapi dengan harga kopi internasional yang mengalami penurunan, problemnya petani cenderung menahan kopi,” ujarnya.

Berdasarkan survei di beberapa daerah sentra penghasil kopi, lanjutnya, komoditas tersebut ada dan sebagian sedang dipanen. Tapi kopi-kopi tersebut cenderung disimpan dan dijual seperlunya saja, karena para petani tidak puas dengan harga jual. “Saat ini harga kopi di level petani di area Jawa sekitar Rp 22-24 ribu, sedangkan target mereka Rp 25 ribu. Jadi sebagian petani jual kopi seperlunya saja,” ujarnya. (dna/ida)