UKT Melambung, Mahasiswa Mengeluh

Undip Capai Rp 19 Juta, SPI Unnes Rp 25 Juta

541
BAYAR MAHAL: Mahasiswa baru IAIN Salatiga saat antre melakukan pendaftaran ulang di kampus setempat. (Humaida Fatwati/ Jawa Pos Radar Semarang)
BAYAR MAHAL: Mahasiswa baru IAIN Salatiga saat antre melakukan pendaftaran ulang di kampus setempat. (Humaida Fatwati/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Biaya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) semakin melambung. Apalagi sejak diberlakukan uang kuliah tunggal atau UKT. Di kampus Universitas Diponegoro (Undip), UKT terbagi menjadi 7 golongan, di mana semakin tinggi golongan semakin besar pula biayanya. Biaya ini berbeda untuk masing-masing jurusan, namun rata-rata untuk golongan 1 atau terendah biayanya adalah Rp 500 ribu, sementara tertinggi Rp 7,5 juta. Untuk jurusan kedokteran umum, besaran UKT golongan 7 mencapai Rp 19 juta. Meskipun demikian tetap sama pada golongan 1, yakni Rp 500 ribu. Demikian pula untuk jurusan Kedokteran Gigi, untuk UKT golongan 7 mencapai Rp 17 juta, dengan besaran UKT golongan 1 sama, Rp 500 ribu.

Rangga Bayu Kresna, mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan angkatan 2017 mendapatkan UKT golongan 4 dengan kewajiban membayar Rp 4,5 juta setiap semesternya. Ia mengatakan, penentuan biaya ini disesuaikan dengan formulir yang diisikan saat pertama masuk kuliah. Formulir ini berisi keterangan mengenai kondisi perekonomian keluarga. “Waktu itu diberitahu dapat UKT 4. Dan saya rasa sudah sesuai dengan kondisi yang saya isikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sebenarnya, lanjut dia, ketika masih merasa keberatan, calon mahasiswa diberikan kesempatan melakukan banding dengan menunjukkan surat-surat keterangan. Hanya saja, saat itu dengan persetujuan orangtuanya, ia menerima keputusan universitas. “Karena sudah sesuai dengan kondisi penghasilan dan harta kekayaan, kami menerimanya,” ujar Budi Santoso, orangtua Rangga.

“Ya nggak apa-apa, nggak usah banding,” sambungnya.

Dewi, mahasiswi Ilmu Gizi angkatan 2014 mengatakan, dirinya mendapat UKT golongan 6 dengan kewajiban membayar Rp 6 juta setiap semesternya. Sama seperti Rangga, saat itu ia diwajibkan mengumpulkan berkas yang menunjukkan kondisi perekonomian keluarga. Dan UKT 6, dirasa sesuai dengan kemampuan keluarganya. “Sebenarnya pengen yang lebih rendah. Tapi dapatnya segitu ya diayukuri saja. Kebetulan orangtua juga masih mampu,” katanya.

Di  Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, sistem UKT baru diberlakukan mulai angkatan 2014.  Pro dan kontra sempat bermunculan. Tidak hanya dari mahasiswa baru, mahasiswa lama pun banyak yang masih merasa keberatan.

Shofa Hana , 18, mahasiswa baru asal Pati yang masuk jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mengaku masih keberatan dengan besaran UKT yang dibayarnya. “Menurut saya UKT sebesar Rp 3,5 juta itu sangat berat. Semoga saja saya dapat banding agar lebih meringankan beban orang tua,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang .

Nasrul, 17, mahasiswa baru lainnya juga mengungkapkan hal yang sama. “Saya masih keberatan, apalagi orangtua saya yang hanya petani.  UKT sebesar Rp 3,78 juta itu harus dikeluarkan orangtua saya setiap semester, belum dengan kebutuhan tambahan lain,”keluh pemuda asal Kendal tersebut. Nasrul juga mengharapkan adanya banding UKT.

Salah satu mahasiswa baru yang  diterima melalui jalur SPANPTKIN atau Seleksi  Prestasi Akademik Nasional Perguruaan Tinggi Keagamaan Islam Negeri UIN Walisongo, juga mengeluh karena mendapatkan UKT terlalu mahal pada jalur pendaftaran pertama. “UKT saya Rp 5,7 juta, memang sih orangtua saya seorang PNS, namun tanggungan lain juga masih banyak,” kata Alika, mahasiswa baru asal Tegal.

Tukimin, 60, orangtua mahasiswa baru UIN Walisongo mengatakan, besaran uang kuliah tunggal yang diterima putrinya terlalu memberatkan. Menurutnya, besaran UKT itu tidak sesuai dengan latar belakang pekerjaannya sebagai buruh harian lepas.

“Saya heran ketika mengetahui  UKT anak saya sebesar Rp 2,5 juta, padahal saat pengisian form, saya isi dengan nominal Rp 700 ribu, dan sebenarnya uang yang saya dapatkan per bulan kurang dari Rp 700 ribu,” keluh Tukimin, ayah dari mahasiswi baru, Fitri Khusnul Khotimah.

Demi masa depan putrinya, Tukimin rela meminjam uang kepada saudaranya untuk membayar UKT. Belum lagi untuk biaya tempat tinggal dan makan sehari-hari selama kuliah di UIN Walisongo Semarang.  Bahkan, putrinya pun bersedia berhenti kuliah jika ayahnya merasa keberatan dalam membayar UKT setiap semesternya.

“Saya berharap nantinya dari pihak kampus bisa memberi keringanan kepada anak saya. Dan semoga anak saya setelah masuk di UIN Walisongo bisa mendapat beasiswa Bidikmisi yang memang layak untuk orang seperti anak saya,” harapnya.

Di Universitas Negeri Semarang (Unnes), salah satu mahasiswa baru mengaku keberatan dengan besaran SPI (sumbangan pengembangan institusi) yang harus dibayarkan. Mahasiswa Jurusan Kepelatihan Olahraga itu mengaku harus membayar SPI hingga Rp 25 juta.

Gimana ya Mbak, aslinya kalo dibilang berat emang sangat amat berat sih, Orangtua saya pekerjaannya guru, tapi sudah konsekuensinya harus membayar segitu yaudah gakpapa. Ini memang impianku masuk ke Unnes. Pertamanya sih emang mikir dengan SPI segitu banyaknya, tapi mau gimana lagi. Hehehe,” ucap Agiarnanda Wafiq Berliana,18.

Nanda –sapaan akrabnya- memang bercita-cita sebagai guru olahraga. Orangtuannya juga mendukung anaknya untuk meneruskan profesinya tersebut.  Ayah dan ibunya memang sempat kaget dengan uang SPI yang sangat mahal. “Pertama denger kalo SPI-nya segitu kaget saya mbak, kok mahal banget. Aslinya juga keberatan mbak , karena saya juga masih membiayai adik-adiknya Nanda. Tapi ya sudahlah gakpapa, yang  penting anak saya bisa lanjut ke universitas negeri dan manfaat ilmunya, masalah uang bisa dicari. Ini juga tanggungan saya sebagai kepala rumah tangga,” kata Sugi, ayah Nanda.

Di IAIN Salatiga, sejak diberlakukannya UKT pada 2015, seharusnya biaya kuliah di PTN lebih ringan, karena disesuaikan dengan kemampuan orangtua mahasiswa. Akan tetapi pada tahun ajaran 2018/2019 ini, biaya UKT di sejumlah PTN malah semakin mahal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bahroni, Wakil Dekan II Fakultas Dakwah IAIN Salatiga mengungkapkan, tingginya UKT memang terjadi pada setiap tahunnya dan sudah menjadi hal biasa. Naiknya nominal UKT setiap tahunnya disebabkan dengan kondisi praktikum yang dibutuhkan dari setiap jurusannya. “Kuliah itu kan juga butuh praktik.  Kalau praktik itu juga butuh dana. Kita mau ngambil dana darimana kalau tidak dari UKT itu? Maka dari itu, UKT kita naikkan untuk menyesuaikan kondisi praktik per jurusannya,” ujar Bahroni kepada Jawa Pos Radar Semarang.

UKT mahasiswa baru Fakultas Dakwah IAIN Salatiga saat ini paling tinggi Rp 2 juta untuk jurusan KPI dan Psikologi Islam. Hal tersebut tentu berbeda dengan UKT tahun sebelumnya yang hanya Rp 1,6 juta per semester. Menurutnya, besaran UKT di IAIN Salatiga masih terbilang wajar dibandingkan dengan PTN lainnya. Meskipun demikian, dari sekian pendaftar di Fakultas Dakwah IAIN Salatiga sendiri telah tercatat 10 persen calon mahasiswa baru yang meminta keringanan.

Sedangkan UKT paling tinggi di IAIN Salatiga adalah program studi Perbankan Syariah yang mencapai Rp 2,5 juta.

Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) IAIN Salatiga, Anton Bawono, tingginya UKT tersebut juga disamakan dengan banyaknya peminat dari jurusan tersebut. “Kita membuat peraturan seperti itu sebenarnya disesuaikan dengan kebutuhan operasional mahasiswa sesungguhnya. Praktikum di FEBI sendiri itu kan menyebar di seluruh Indonesia, karena kalau kita batasi hanya di Jawa Tengah saja tidak muat. Dan untuk membiayai mereka pun kita juga butuh dana. Maka kita buat rata aja,” tutur Anton.

Ia mengatakan, biaya tersebut hanya sementara saja. Artinya, setelah perkuliahan semester awal berlangsung akan dikelompokkan sesuai dengan penghasilan orangtua mahasiswa. Apabila masih ada yang keberatan dengan biaya tersebut dapat mengajukan surat keterangan tidak mampu untuk keringanan biaya.

Seperti yang dialami Suwaji, wali calon mahasiswa baru jurusan Perbankan Syariah di IAIN Salatiga. Orangtua mahasiswa asal Ngawi tersebut meminta keringanan UKT anaknya. Suwaji mengaku keberatan dengan nominal Rp 2,5 juta per semester. “Kalau bisa ya UKT-nya kurang dari itu. Saya kesehariannya cuma petani, penghasilannya juga tidak tentu. Paling sebulan tidak sampai Rp 2 juta, belum lagi biaya kos dan makan anak saya kalau di sini,”ujar Suwaji.

Sama halnya dengan Mariya Rosyida, calon mahasiswa baru Perbankan Syariah. Ia juga mengeluhkan biaya UKT yang semakin tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. “UKT Rp 2,5 juta itu bagiku terlalu mahal. Kakak kelasku yang kuliah disini UKT-nya tidak sebanyak itu tahun kemarin. Tapi sekarang kok makin mahal. Kasihan juga bapakku cuma pedagang biasa harus membiayai sekolah dua orang, dan itu pun masuk pondok semua,” tandas Mariya.

Wakil Rektor II Bidang Keuangan IAIN Salatiga, Kastolani, menyebutkan, penentuan besaran UKT murni ketetapan dari fakultas masing-masing yang disampaikan kepada institut, lalu oleh pihak institut melanjutkannya ke kementerian. Dalam hal ini, rektor tidak memiliki izin untuk menentukan besaran UKT, karena semua keputusan ada di tangan kementerian berdasarkan usulan fakultas dan saran-saran dari beberapa bidang kementerian. “Yang punya mahasiswa itu fakultas, jadi yang menentukan juga fakultas. Institut hanya menyampaikannya kepada kementerian, lalu ketika sudah ada keputusan, kami mengembalikannya ke fakultas,” jelasnya.(sga/mg7/mg13/mg15/mg16/mg17/mg18/mg19/mg20/mg21/aro)