Timur Bahari Klaim Pembuangan Sesuai Amdal

488
PASANG – Perwakilan PT Timur Bahari, perwakilan HSNI, nelayan serta di dampingi anggota Polisi saat melakukan pemasangan rambu larangan lewat bagi nelayan di jalur pembuangan pasir. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PASANG – Perwakilan PT Timur Bahari, perwakilan HSNI, nelayan serta di dampingi anggota Polisi saat melakukan pemasangan rambu larangan lewat bagi nelayan di jalur pembuangan pasir. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – PT Timur Bahari selaku sub kontraktor PT Mitsui mengklaim pembuangan hasil galian di laut sudah sesuai dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Pernyataan tersebut diungkapkan Project Leader PT Timur Bahari, Arlin, menyusul unjuk rasa yang dilakukan nelayan dari kampung Roban Barat dan Roban Timur di Pemkab Batang, Senin lalu.

Arlin menyatakan, pihaknya siap bertanggungjawab apabila memang terjadi kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan. Pihaknya menjelaskan, pembuangan lumpur dan material di laut merupakan terkait pembangunan PLTU.

“Material yang kami buang berbentuk lumpur, tanah liat, pasir, batu dan karang. Material kami buang di lokasi koordinat yang telah ditentukan dalam Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) atau 10,8 mil dari bibir pantai,” jelasnya, Rabu (1/8).

Dijelaskan Arlin, lokasi tersebut juga telah diketahui oleh para pihak, termasuk perwakilan nelayan dan HNSI, serta aparat terkait. Sehingga, diyakini para nelayan sudah mengetahui lokasi pembuangan material. Harusnya bisa menghindari lokasi tersebut.

“Selama ini kami bekerja sesuai SOP dan ketentuan yang berlaku. Di lokasi yang telah ditentukan tersebut, kami juga memasang tanda atau pelampung sebagai rambu untuk para nelayan agar tidak mendekat atau melintas di lokasi,” jelasnya.

Pihaknya saat ini juga sudah mulai melukan proses pemasangan ulang rambu-rambu larangan lewat di titik tertentu. Agar nelayan tidak salah jalur atau melempar jala di lokasi tersebut. Selain jalur yang akan digunakan untuk lewat kapal pengangkut material pasir, juga lokasi pembuangan pasir dan karang.

Saat ini, pihaknya tengah menghentikan aktivitas pembuangan material karena adanya aktivitas penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan oleh aparat.

“Sementara kami menghentikan aktivitas pembuangan material sampai aktivitas penyelidikan pihak berwajib selesai. Kami siap bertanggungjawab jika kerusakan memang disebabkan oleh matrial yang kami buang di tempat yang sesuai posisi koordinat. Namun jika bukan material kami penyebabnya, izinkan kami untuk kembali beraktivitas,” pintanya.

Ketua HNSI Kabupaten Batang Teguh Tarmujo kembali menegaskan bahwa pihak HNSI hanya sebatas menjembatani permasalahan yang dihadapi para nelayan terkait adanya dugaan pembuangan sisa limbah pembangunan PLTU itu. Pihaknya juga sudah menyaksikan pemasangan kembali di beberapa titik, walaupun belum semuanya.

“Kami berharap adanya titik temu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Saya tegaskan, kami tidak akan menghalangi terhadap proses proyek pembangunan PLTU tetapi nelayan jangan dirugikan,” tegasnya. (han/zal)