Oleh: Masrokhan SPdI
Oleh: Masrokhan SPdI

RADARSEMARANG.COM – GURU adalah sumber pendidikan sebesar dan sebanyak apapun buku yang saat ini bisa ditemukan. Hanya dengan buku tidak akan cukup mengembangkan pendidikan yang ada. Buku tidak bisa diajak komunikasi dan berdiskusi mengenai banyak hal yang ingin dipelajari sebagaimana guru. Hadirnya seorang guru dapat membantu pembelajaran menjadi sesuatu yang menarik dan membantu memahami hal-hal yang mengganjal ketika membaca ataupun menemukan literatur yang berkaitan dengan pembelajaran itu sendiri.

Peran guru dalam proses kemajuan pendidikan sangatlah penting. Guru merupakan salah satu faktor utama bagi terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya dari sisi intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat. Oleh karena itu tugas yang diemban guru tidaklah mudah. Guru yang baik harus mengerti dan paham tentang hakekat sejati seorang guru.

Mengapa menjadi guru ternyata berat? Jika kita melihat falsafah Jawa “Guru digugu lan ditiru”, dari falsafah ini saja kita sudah bisa merasakan ternyata menjadi guru itu berat, bagaimana tidak? Jika seorang guru ucapan dan tingkah lakunya kurang baik, tentunya akan ditirun oleh siswa-siswinya yang tidak baik pula. Maka guru harus selalu memberi contoh ucapan dan tingkah laku yang baik. Jangan sampai guru itu dalam falsafah Jawa lagi disebut “Jarkoni biso ngajar ora biso nglakoni” (bisa mengajar/menyuruh tapi tidak bisa melaksanakan).

Yang lebih berat lagi adalah guru agama. Jika seorang guru agama keliru menyampaikan sebuah hukum (syari’at/agama) kepada anak didiknya, kemudian hukum tersebut menjadi pedoman hidup anak didiknya, tentunya yang menanggung dosa adalah sang guru tersebut karena menyampaikan hukum yang salah, maka guru agama idealnya harus guru yang sudah menguasai pada bidangnya (ilmu agama).

Dalam konteks falsafah Jawa ini, guru dianggap sebagai pribadi yang tidak hanya bertugas mendidik dan mentransformasi pengetahuan di dalam kelas saja, melainkan lebih dari itu. Guru dianggap sebagai sumber informasi bagi perkembangan kemajuan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan demikian tugas dan fungsi guru tidak hanya terbatas di dalam kelas saja melainkan jauh lebih kompleks dan dalam makna yang lebih luas, termasuk di masyarakat saja guru akan selalu disorot sebagai sosok teladan yang selalu diikuti. Jangan sampai ada pepetah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Oleh karena itu dalam masyarakat Jawa seorang guru dituntut pandai dan mampu menjadi ujung tombak dalam setiap aspek perkembangan masyarakat (multitalent).

Belum lagi zaman now berbeda dengan zaman old, di mana rasa ta’dzim (hormat) anak-anak terhadap guru, orangtua, dan orang yang lebih tua seolah mulai tergerus oleh kemajuan zaman yang serba modern dan serba digital, di mana anak-anak sudah dimanja oleh fasilitas yang serba ada. Sehingga sering perintah ataupun imbauan guru kurang dihargai, bahkan sebagian ada yang berani membantah dan melawan perintah guru. Ketika guru bertindak keras atau tegas anak seolah merasa tertindas. Merasa harga dirinya terinjak, anak akan melawan sang guru. Mulai dari kata-kata kasar, mengancam untuk tidak akan mengikuti pelajaran, dihadang ketika pulang, dikeroyok dengan teman segengnya, sampai yang paling sadis adalah menyerang guru di tempat.

Di sisi lain ketika guru memberikan hukuman yang bertujuan untuk mendidik siswa, wali murid tidak terima dan melaporkan guru atas tindak kekerasan. Padahal tindakan guru dalam rangka mendidik agar siswa tidak semaunya sendiri ketika belajar. Media membesar-besarkan masalah. Guru dipidanakan dan dikeluarkan dari sekolah. Jika yang melakukan tindakan kekerasan adalah murid terhadap gurunya, anak akan bebas dari hukuman, karena anak masih di bawah umur, padahal yang dilakukan tidak mencerminkan anak di bawah umur.

Jika anak ada yang bandel di luar kena masalah yang disalahkan gurunya, yang ditanya siapa gurunya, gurunya tidak bisa mendidik, gurunya ngapain aja, makan gaji buta dan lain sebagainya. Padahal berbuatnya di luar, apalagi di dalam lingkungan sekolah, selalu yang jadi kambing hitam adalah guru. Guru dan murid zaman now ibarat gula dan kopi. Jika kopi terlalu pahit, salah gula yang terlalu sedikit. Jika kopi terlalu manis, salah gula yang terlalu banyak. Hal inilah yang membuat guru terasa berat beban yang diembannya. Bukan karena apa-apa, tapi lebih kepada urusan uswah hasanah yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Di sisi lain, menjadi guru itu juga menyenangkan. Mengapa tidak? Guru berhadapan dengan manusia yang menuju dewasa, dengan berbagai tingkah polah yang kadang-kadang menyebalkan, meningkatkan tensi dan lain sebagainya. Namun di sinilah seni menjadi guru. Keberhasilan mengubah sikap dan tingkah laku siswa, dari yang kurang baik menjadi baik, yang kurang rajin menjadi rajin, yang awalnya manja menjadi mandiri, lebih-lebih ada murid kita yang berhasil menjadi orang besar dan sukses betapa bahagianya seorang guru dan hal itu mendatangkan kepuasan tersendiri. (kpig1/aro)

Guru PAI MTs Hasyim Asy’ari Bawang Batang