Oleh: Mukhsin SAg
Oleh: Mukhsin SAg

RADARSEMARANG.COM – SEKARANG ini para guru di tingkat sekolah menengah sedang menghadapai generasi milLenial. Membicarakan generasi millenial kita perlu mengetahui dulu apa itu millenial. Millenial atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Ini berarti millenial adalah generasi muda yang berumur 17-37 pada tahun. Millenial sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.

Generasi millenial memiliki ciri khas tersendiri, yaitu mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.  Jika kita melihat ke dunia sosial media, generasi millenial sangat mendominasi jika dibandingkan dengan generasi X. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenial belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi millenial cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenial hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme.

Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi millineal saat ini tengah memasuki pendidikan menengah atas dan tinggi. Namun implikasinya benar-benar sangat terasa, di mana banyak guru yang kemudian merasa ‘galau’ dalam menanggapi perkembangan generasi yang satu ini. Di satu sisi banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi, namun sisi lainnya mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalahgunakan. Selain itu, di satu sisi banyak guru menginginkan anak didiknya memahami berbagai fenomena yang kompleks dan dinamis dalam masyarakat. Namun, di sisi lainnya anak lebih menyukai hal-hal yang aplikatif dan menyenangkan yang bersifat modern.

Guru yang sedang megemban amanat profesi untuk mengembangkan dan mentransfer pengetahuan sekarang ini berhadapan dengan murid-murid generasi millenial. Tantangan guru di era digital menghadapi generasi millenial sekarang ini bertambah berat dan semakin kompleks, ditambah lagi tuntutan administrasi kurikulum 2013 yang semakin rumit menambah semakin beratnya tugas yang harus dipikul di era ini.

Guru sebagai sosok yang dianggap berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak, tentu saja harus bekerja ekstra keras. Hal ini lantaran, generasi millineal tidak lagi seorang anak yang bisa diatur ini dan dengan sebuah paksaan. Namun harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Beberapa hal bisa dilakukan secara efektif, misalnya : pertama, guru harus bisa menjadi role model dan berpegang teguh pada nilai-nilai kearifan lokal, namun harus tetap terbuka dan memiliki pemikiran yang tidak konvensional.

Kedua, ingat di awal diungkapkan bahwa generasi millineal merupakan generasi yang amat gandrung pada perkembangan teknologi. Sebagai guru tentu saja, bisa dilakukan dengan mencoba bermanuver dalam perkembangan teknologi. Misalnya, dengan memanfaatkan media sosial untuk melakukan proses pendidikan. Hal ini akan sangat efektif untuk menekan dampak negatif dari penyebaran informasi melalui sosial media. Contohnya, langkah yang diambil oleh Akhmad Sudrajat (2009), menggagas tentang Konseling Facebook di sekolah, yang intinya tentang upaya memanfaatkan kehadiran Facebook untuk mendukung efektivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Ketiga, lakukan proses pendidikan yang fleksibel dan lebih efektif dengan pikiran terbuka, serta mengakui tidak ada cara tunggal yang benar untuk mengembangkan karakter anak. Ketersediaan buku-buku (dan internet) memberikan kekayaan sumber daya, ide-ide pengasuhan yang berbeda, dan perspektif budaya yang beragam. Dari situ mereka dapat mempertimbangkan segala macam informasi dan opini untuk menciptakan gaya mendidik sesuai dengan kebutuhan anak masing-masing.

Keempat, guru hendaknya melakukan pendekatan dengan mengutamakan pendekatan yang rileks dan responsif terhadap anak. Mereka menghargai waktu bermain yang tidak terstruktur, sama pentingnya dengan aktivitas yang lain. Mereka juga memberikan anak ruang yang mereka butuhkan untuk belajar dan tumbuh secara mandiri. Selain itu, guru hendaknya mampu menerapkan relasi pembelajaran yang lebih demokratis. Plus, guru jangan lupa menekankan fokus baru pada empati, untuk membantu anak berinteraksi dan memahami dunia mereka dengan baik.

Secara umum, inilah langkah millenial yang bisa dilakukan oleh guru untuk membangun karakteristik generasi anak yang sudah berkembang akibat dari heterogenitas dan keterbukaan pikiran akan pengetahuan dan teknologi. Namun, apapun langkah yang dilakukan oleh guru dalam menyikapi perubahan generasi millenial pastikan itu adalah cara terbaik membuat anak didik nantinya bahagia dan berkarakter.

Sungguh semua itu menjadi tugas yang semakin berat yang harus dipikul oleh guru, walaupun sebenarnya pengaruh yang sangat besar dalam persoalan-persoalan yang dihadapi anak-anak justru ketika mereka berada di luar pengawasan guru. Ketika mereka berada di lingkungan pergaulan mereka, baik di lingkungan mereka tinggal, maupun di lingkungan pergaulan mereka dengan teman-teman lain. Lagi-lagi peran guru yang sering dipertanyakan, bahkan kadang orangtuapun sudah “pasrah bongkokan”  kepada guru dalam pembentukan akhlak, perilaku, dan karakter anaknya. Dalam menghadapi tugas guru yang semakin berat tersebut, guru dituntut untuk lebih sabar, lebih profesional, dan terus mengikuti regulasi yang berlaku agar tugas mencerdaskan anak bangsa dapat terwujud. (kpig1/aro)

Guru Fikih MA NU 01 Banyuputih, Batang