Oleh : Sri Ayu Sipah SHut
Oleh : Sri Ayu Sipah SHut

RADARSEMARANG.COM – SISWA menghabiskan lebih dari separuh harinya belajar di lingkungan sekolah atau madrasah untuk belajar dan bermain.  Tetapi sebagian waktu para siswa dihabiskan di dalam ruang kelas dalam kegiatan belajar-mengajar.  Menjadi hal tidak mudah bagi para guru maupun siswa saat memasuki jam-jam terakhir kegiatan pembelajaran, di saat kondisi fisik mulai lelah dan kemampuan otak untuk mencerna pembelajaran mulai menurun, sedangkan materi pembelajarannya termasuk dalam kategori yang cukup sulit, salah satunya adalah matematika.  Siswa terjebak dalam kejenuhan, apalagi saat penyampaian materi disampaikan secara monoton, sehingga memunculkan kegiatan pembelajaran yang tidak menarik, siswa cenderung seadanya menerima materi yang disampaikan oleh guru matematika.

Sampai saat ini matematika dianggap sebagai mata pelajaran sulit oleh sebagian besar siswa. Semakin terasa sulit manakala disampaikan dengan metode yang tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat pula.  Sehingga dibutuhkan rangsangan dari luar agar konsentrasi dan daya cerna siswa terhadap materi matematika tetap terjaga.  Salah satu cara  agar siswa tetap fresh dalam kegiatan belajar-mengajar adalah dengan ice breaking yang dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan siswa berdasarkan analisis guru.

Mengutip dari www.askansetiabudi.com, ice breaking adalah suatu aktivitas di dalam kegiatan yang dirancang untuk mencairkan suasana tegang, bosan, dan jenuh menjadi menyenangkan, sehingga audiens menjadi bergairah kembali untuk mengikuti kegiatan yang dijalani.  Di dalam training, ice breaking dimaksudkan untuk menghilangkan kebekuan di antara peserta, agar mereka saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya, sehingga mampu melebur dinding pemisah di antara mereka.

Adapun menurut Kusumo Suryoharjuno dalam “Ice Breaker, Jeda Pembelajaran ketika jenuh”(https://www.kompasiana.com) disampaikan bahwa  Ice Breaker adalah “Energizer” atau “refocus”, merupakan teknik-teknik yang digunakan dalam forum pelatihan, seminar, pertemuan, KBM, atau meeting untuk memecahkan kebekuan, kejenuhan yang terjadi dalam forum tersebut dan audiens kembali terkonsentrasikan.  Jika audiens terkonsentrasikan ke trainer/pembicara/guru, maka diharapkan audiens akan aware terhadap materi yang disampaikan pembicara/trainer.  Ice breaker juga sering disebut sebagai peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk, menjenuhkan, dan membuat tegang menjadi rileks, bersemangat serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan ruang kelas atau ruang pertemuan.

Dalam pembelajaran matematika, ice beraking yang penulis lakukan meliputi tiga tahapan.  Tahap pertama, di awal pembelajaran penulis melakukannya dengan maksud untuk menarik perhatian siswa agar fokus pada materi yang akan disampaikan. Biasanya penulis akan melemparkan pertanyaan menggunakan alat bantu yang ada di dalam kelas,  contohnya menggunakan buku siswa, spidol dan penghapus papan tulis.

Penulis memberikan kata kunci “perhatikan kata bu guru”, kata pertama “ini apa?”sambil penulis memegang buku, “yang ini apa?” sambil memegang pulpen dan “kalo ini apa ?” sambil memegang penghapus.

Kemudian penulis memulai dengan  pertanyaan menggunakan kata “ini apa?” dengan memegang penghapus, beberapa siswa serentak  menjawab “penghapus”, beberapa siswa lain masih acuh belum perhatian. Penulis jawab “salah”, mereka mulai bingung, mulai tertarik, kemudian penulis ulang  kembali dengan kata “yang ini apa? Sambil pegang  buku, siswa satu kelas serentak menjawab “buku”, penulis pun menjawab “salah”.  Suasana kelas mulai gaduh, ramai diskusi kenapa jawaban mereka salah, di sanalah awal mereka mulai fokus pada guru.

Pertanyaan serupa diulang-ulang sampai pada titik siswa mulai sadar akan kata kunci “perhatikan kata bu guru” bukan benda yang di tangan bu guru. Sehingga saat pertanyaan terakhir “ kalo ini apa?” sambil saya memegang spidol, siswa dengan lantang dan antusias menjawab “penghapus”, saya jawab “benar 100”, dan sungguh luar biasa reaksi siswa tepuk tangan, teriak “Yess !!”  dan saling toss dengan teman sebangku.

Suasana di awal pembelajaran sudah tercipta sangat menyenangkan, sehingga memudahkan saya untuk menyampaikan apersepsi pada materi matematika.

Tahap kedua ice breaker yang saya lakukan adalah pada tengah-tengah pembelajaran, tetapi ice breaker di tengah jam pelajaran tidak selalu dilakukan, bergantung pada durasi jam mengajar, biasanya saya lakukan pada durasi tiga jam pelajaran.  Guru harus memiliki kepekaan tinggi terhadap kondisi psikologis siswa dalam kegiatan belajar mengajar, jika siswa sudah mulai terlihat jenuh, mengantuk dan tampak lelah serta tak antusias di tengah-tengah jam pelajaran, setelah selesai latihan soal, maka saya berikan jeda waktu untuk sesaat ice breakingIce breaking yang dilakukan lebih pada gerakan fisik yang membuat mereka bergerak, meregangkan otot dan melepas penat karena selama berjam-jam mereka duduk di ruang kelas. Biasanya dengan tepuk tanga irama, senam coconut dan senam konsentrasi yang melibatkan 4 gerakan, hasilnyapun sungguh luar biasa.  Siswa akan merasa diberikan ruang untuk rehat sejenak merefresh otak dan otot yang  jenuh dan kaku, agar mereka sigap kembali menerima materi matematika berikutnya.

Tahapan terakhir yang saya lakukan adalah ice breaking pada sesi penutup materi pembelajaran, tetapi inipun tidak selalu dilakukan, bergantung pada situasi dan kondisinya.   Lebih tepatnya pada penutup materi pembelajaran diutamakan pada game motivasi sekitar lima menit untuk mengikat daya ingat siswa terhadap materi yang telah dipelajari bersama. Biasanya saya menggunakan tebak kata dalam bentuk tulisan yang berkaitan dengan materi pembelajaran dan menjadi semacam umpan balik untuk guru dan siswa. Kegiatan akan diakhiri dengan tepuk tangan gemuruh dan acungan kepalan tangan “Bisa!!!”.

Dari beberapa hal yang saya lakukan terkait ice breaking dalam kegiatan pembelajaran terutama matematika, dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam memahami kesiapan psikologis siswa menerima pembelajaran menjadi kunci utama keberhasilan penyampaian bahan ajar dan kepahaman akan psikologis siswa tersebut akan memunculkan kreativitas guru dalam metode penyampaian bahan ajarnya.  Adapun Ice breaking merupakan salah satu pintu masuk untuk menyiapkan psikologis siswa agar  mampu menerima pembelajaran dengan menyenangkan, otak berdaya cerna tinggi terhadap bahan ajar dan  terjaga konsentrasinya sampai kegiatan belajar berakhir.

Salam literasi!!  Majulah Guru Indonesia dan jadilah agen perubahan dimanapun kau diposisikan !!! (kpig2/aro)

Guru MTs Darul Hikmah Subah

Kantor Kementerian Agama Kabupaten Batang