Oleh: Urip Pujiono  SSi
Oleh: Urip Pujiono  SSi

RADARSEMARANG.COM – MATEMATIKA bukan sekadar menghafal rumus. Namun perlu ketelitian, kecermatan membaca, memahami, dan menganalisa soal. Di sinilah peran seorang guru sangat diperlukan untuk mewujudkan pengembangan nalar dan kreativitas peserta didik.

Menilik dari hasil nilai ujian nasional (unas) matematika 2018 pada jenjang SMP, SMA-MA, dan SMK sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), rata-rata 80 persen siswa SMP, SMA-MA, dan SMK yang mengikuti unas 2018 mendapat nilai matematika kurang dari standar kompetensi sebesar 55,1. Persentase siswa dengan nilai unas matematika di bawah standar kompetensi itu 77,93 persen untuk SMP, SMA-MA jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebesar 85,97 persen, SMA-MA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebesar 93,23 persen, serta SMK sebesar 92,86 persen.

Rendahnya nilai matematika dalam unas 2018 menunjukkan banyak guru dan siswa belum paham mengenai soal-soal penalaran atau dalam kurikulum 2013 dikenal dengan soal Hots. Pengertian Hots atau Higher Order of Thinking Skill adalah kemampuan berfikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian yang dimaksud soal Hots adalah soal yang dapat dijawab melalui berpikir tingkat tinggi.

Terlepas dari masalah teknis berupa munculnya soal unas matematika yang hanya separo pada pelaksanaan unas 2018, yang mungkin sedikit mengganggu konsentrasi siswa dalam mengerjakan soal, soal-soal penalaran tingkat tinggi tidak menggunakan metode langsung. Hal itu misalnya soal untuk menghitung luas bidang dijabarkan dalam bentuk soal cerita satu hingga dua paragraf. Jelas butuh ketelitian membaca, memahami, dan menganalisis soal tersebut. Tiga kemampuan ini sepertinya kurang dimiliki siswa Indonesia.

Dua soal bertema kelipatan bisa dijadikan sebagai contoh. Soal pertama bentuknya pertanyaan langsung, seperti, 2, 4, 6, 8. Untuk soal jenis ini umumnya siswa bisa mengerjakan. Namun, ketika pertanyaan tentang kelipatan tersebut dikemas dalam bentuk soal cerita, banyak siswa kebingungan cara mengerjakannya. Salah satu contohnya, jumlah penduduk Republik Indonesia pada 2018 sebanyak 250 juta jiwa. Setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk 5 persen, sudah mencakup kelahiran dan kematian. Apabila diasumsikan pertambahan penduduk stabil, berapa jumlah penduduk Indonesia pada 2045?

Matematika bukan persoalan yang hanya memiliki satu rumus. Sebuah soal bisa memiliki banyak rumus untuk menuju pada satu jawaban yang benar. Agar bisa sampai ke kemampuan mencari rumus, guru harus pandai mengutak-atik soal. Permasalahannya, kebanyakan guru tidak memiliki waktu untuk mengutak-atik soal karena harus mengurus administrasi kelas. Selain itu, guru mengajar matematika di kelas berdasarkan pada soal-soal unas tahun sebelumnya. Soal-soal ini bentuknya sama, hanya berbeda angka. Metode pembelajarannya hanya mengasah kemampuan menghitung angka yang bisa digantikan kalkulator. Selain itu guru juga tidak membahas materi tertentu dengan alasan hal tersebut tidak keluar di unas. Padahal pelajaran matematika adalah satu kesatuan. Melompati materi tertentu rentan mengakibatkan siswa tidak memahami pembelajaran secara komprehensif.

Karena itu, untuk menghadapi unas 2019 seyogianya para guru matematika untuk membiasakan siswa mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi atau soal Hots. Terlebih dahulu para guru membiasakan mengutak-atik soal penalaran tingkat tinggi agar tidak kebingungan ketika ditanya siswa mengenai cara mengerjakan soal tersebut. Perlu adanya pelatihan bagi guru matematika untuk membiasakan mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi. Selain pelatihan juga peningkatan motivasi terus dilakukan agar guru mau meluangkan waktu untuk mengutak-atik soal. Selain itu, siswa juga terus dimotivasi agar senantiasa mencoba membiasakan diri mengerjakan soal-soal penalaran tingkat tinggi. Dengan demikian harapan pada unas 2019 nilai matematika dapat meningkat secara signifikan. (kpig2/aro)

Guru Matematika MA Subhanah Subah Batang