Omzet Pedagang Pasar Barito Baru Merosot

554
SEPI: Pedagang aksesoris sepeda motor di Pasar Barito Baru, Penggaron. (LAKNA TULAS’UN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPI: Pedagang aksesoris sepeda motor di Pasar Barito Baru, Penggaron. (LAKNA TULAS’UN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ratusan Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) Barito yang sudah dipindah ke Pasar Barito Baru, Penggaron sudah memulai usahanya sejak awal Februari lalu. Namun 80 persen dari mereka mengeluhkan sepi pembeli. Bahkan omzet mereka merosot hingga 70 persen dibanding saat masih di kawasan Barito.

Seorang pedagang onderdil dan aksesoris sepeda motor, Sugeng Setyo Budi, 60, mengaku sudah membuka usaha kiosnya selama lima bulan di tempat relokasi tersebut. Diakui, jumlah pembeli di pasar baru tersebut belum seramai di lokasi semula di kawasan Barito. Akan tetapi setiap hari selalu ada pengunjung yang membeli dagangannya mulai onderdil hingga aksesoris kendaraan.

“Dulu saya jualan di Barito Blok 6, Rejosari. Pendapatan untuk sementara ini cenderung turun. Biasanya kalau di Barito lama bisa mencapai Rp 1,5 juta per hari, di sini dapat Rp 200 ribu per hari saja sudah baik,” keluh Sugeng Setyo Budi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (1/8).

Ia masih yakin, jumlah pembeli yang datang akan semakin banyak jika seluruh pedagang di kawasan Barito mau menempati Pasar Barito Baru tersebut. Sehingga tidak butuh waktu yang lama pasar baru ini akan ramai seperti pasar lama.

Pedagang lain, Rahmat, 55, mengatakan, banyak PKL yang sudah mulai menata dagangan di kios masing-masing. Seperti penjual panci, dan dandang. “Sejarahnya Pasar Barito berasal dari Jalan Kartini, kemudian pindah ke Kawasan Tawang. Sebelumnya waktu pindah di sungai BKT, dulunya juga sepi. Sekitar satu tahunan menjadi ramai. Jadi, saya yakin, nanti kalau pedagang dari Barito lama sudah pindah di tempat baru ini juga akan cepat ramai dan bisa menarik pengunjung, ” terang Rahmat.

Sebanyak 200 PKL sudah menempati Pasar Barito Baru. Rahmat berharap para PKL bisa bersama-sama meramaikan tempat tersebut sebagai jujukan masyarakat. “Dari pemberitaan di media sudah banyak membantu. Setidaknya, masyarakat tahu kalau pedagang Barito direlokasikan di sini,” tambah  Rahmat.

Saat ini, sudah ada 200 PKL yang menempati kios di Pasar Barito Baru. Namun baru ada 65 penjual yang mulai aktif berjualan di setiap harinya. Selebihnya mereka memilih menjadi tukang ojek dan tukang batu sebagai mata pencaharian sementara.  “Karena pendapatan turun 60-70 persen, teman-teman saya lebih memilih menjadi tukang  ojek dan kuli batu, ” ucap Haryono, salah satu pedagang dari Bugangan. (mg 9/mg 12/aro)