Oleh : Achmad Mashfufi MPd
Oleh : Achmad Mashfufi MPd

RADARSEMARANG.COM – JANGAN melihat buku hanya dari sampulnya saja. Tampaknya itu juga berlaku bagi para guru dalam menilai siswanya. Sejak hari pertama masuk sekolah ada sosok siswa yang tak pernah luput dari kekhawatiran penulis sebagai guru. Ketika mengikuti masa orientasi siswa baru, dia nampak lambat, ekspresi tidak menampakkan kesan sumringah, dan selalu tertinggal dibandingkan dengan siswa lain dalam berbagai acara. Perawakannya yang kecil dan berkulit hitam, menambah pesimisme akan kemampuan dia. Namun tempo hari dia meruntuhkan seluruh pesimisme itu setelah dia menjadi satu-satunya murid yang mendapatkan nilai sempurna untuk ujian pelajaran yang penulis ampu.

Kurang dari 10 siswa yang mendapat nilai sempurna  dari 185 siswa yang menempuh pre test dalam mata pelajaran Geografi. Untunglah sebagai guru, penulis segera tersadarkan oleh perolehan nilainya yang menjungkirbalikkan anggapan negatif guru terhadap murid.

Betapa dengan gampang para guru menilai siswa dari tampilan luarnya, dari anatomi badannya atau pernak-pernik fisiknya. Dengan gampang pula guru memberikan label kepada siswa di kelas tertentu sebagai siswa yang suka clekopan,  pengganggu guru, bahkan sebagai kelas yang ribut. Terhadap guru yang suka memberi siswanya label-label yang terkesan negatif, sebagai sesama guru, penulis sampaikan pertanyaan balikan, sebenarnya siswa macam apa yang Anda impikan?

Tidak sedikit guru yang lebih suka menghadapi murid yang duduk manis, diam dan tertib di kelas. Hanya sedikit guru yang mampu memberikan arena yang leluasa untuk siswa mengasah keberanian, meski terkadang yang muncul perilaku usil. Pun tidak banyak guru yang mampu mengelola siswa yang ekspresif suka membantah atau berpikir kritis, meskipun yang tampak adalah perilaku mencobai gurunya. Bahkan, guru yang antikritik akan suka menempatkan siswa sebagai pihak yang harus tunduk dan tidak boleh membantah.

Bagaimana seharusnya guru mengambil kesan terhadap siswanya? Guru semestinya menunjukkan apresiasi terhadap anak-anak sebagai manusia. Itulah saran pertama dari 9 hal penting yang dikemukakan oleh Richard Dunne, seorang pakar pendidikan di Inggris lewat salah satu serial buku Effective Teaching (1996). Saran penting tersebut disertai penjelasan bahwa guru mesti memelihara hubungan yang hangat, berusaha memahami perbedaan penampilan dan kebiasaan anak-anak; bersikap positif terhadap semua anak.

Tanpa disadari, relasi guru dan siswa dalam proses pendidikan di sekitar kita telah menjadi proses penganiayaan terhadap “kemanusiaan” siswa yang yang berlangsung diam-diam. Seorang siswa SMP yang menunjukkan hasil pekerjaan mid-semester kepada ayahnya, terhadap kunci jawaban dan sejumlah koreksi dari guru yang tidak tepat, sang ayah menawarkan diri untuk menghadap guru. Si anak melarang ayahnya hanya karena gurunya dikategorikan sebagai “over sensitif”, khawatir guru tersebut akan ngecingi.

Gejala siswa takut kepada guru semacam itu telah membentuk paradigma yang bisa jadi akan merugikan si anak di masa depan, yakni paradigma lebih baik diam meskipun melihat kesalahan, tidak usah bertanya daripada disalah mengerti, guru sebagai yang serba tahu atau jangan coba-coba berani terhadap mereka yang berkuasa. Secara perlahan tetapi pasti cara berpikir demikian terbentuk pada anak-anak kita, hanya karena guru tidak mampu menjadi model dalam mendorong saling menghormati.

Ketidakmampuan guru menghormati siswa juga ditunjukkan oleh tanggapan guru yang menyebut “lebih baik gurunya diganti saja” ketika sejumlah siswa mengajukan masukan untuk perbaikan proses pembelajaran. Tanggapan guru yang demikian itu sama saja dengan sikap patah arang atau mutung. Yang diharapkan siswa bukanlah mengganti guru, tetapi perbaikan pendekatan, model, metode dan proses pembelajaran oleh guru di kelas nampaknya perlu di evaluasi. Jika tahu tanggapan guru seperti itu, tentu siswa pun akan memilih diam jika kelak diminta untuk memberikan evaluasi atau masukan. Bukan gurunya yang diganti, tetapi guru mesti berubah, terus-menerus mengevaluasi diri, dan membarui diri di hadapan siswanya. (kpig1/aro)

Guru Geografi MA NU 01 Banyuputih, Batang