Oleh: Nur Khasanah SPd
Oleh: Nur Khasanah SPd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN yang menyenangkan merupakan impian bagi peserta didik dan juga guru sebagai pemegang kendali dikelas. Namun hal ini seringkali menjadi  impian kosong belaka. Alih-alih pembelajaran menyenangkan yang didapat di kelas, seringkali justru guru dan peserta didik mengalami Bad Time. Pengemasan penyampaian materi yang monoton, peserta didik yang tidak memperhatikan guru, dan komunikasi yang tidak efektif  memicu semakin tidak menyenangkannya pembelajaran di kelas.

Metode pembelajaran juga dianggap oleh sebagian orang sebagai hal yang berpengaruh pada hasil belajar peserta didik. Anggapan itu adalah benar tapi toh demikian tidak selamanya benar, karena secanggih apapun metode yang dipakai, jika pada praktiknya yang terjadi adalah suasana kaku antara guru dan peserta didik maka target yang diharapkan akan semakin jauh perealisasiannya. Dan disadari atau tidak, faKtor psikologis guru dan peserta didik berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran di kelas. Guru bukanlah robot yang hanya sekedar memberikan materi tanpa peduli dengan kondisi yang melatar belakangi kemajuan atau bahkan penurunan prestasi peserta didik dan begitu juga sebaliknya.

Tanpa memperhatikan sisi psikologis peserta didik, seringkali guru terjebak dengan standar “AKU” yang terlalu tinggi tanpa memperhatikan faKtor lain dari “MEREKA” para peserta didik.  Adalah hal yang wajar jika seorang guru memberikan penugasan, pelatihan, dan penilaian kepada peserta didik namun ketika hasil tidak sesuai dengan harapan, guru seringkali terbawa pada situasi men-judge peserta didik dan kemudian memberikan label siswa pintar atau bodoh, patuh atau membangkang, dan lain sebagainya.

Disadari atau tidak, pikiran dan penilaian terhadap peserta didik tersebut terbentuk dengan sendirinya. Akan tetapi akan berbeda jika kita sebagai guru dapat memahami peserta didik tersebut dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Artinya, hasil penugasan, pelatihan , penilaian atau bahkan sikap yang ditunjukkan peserta didik tersebut tidak menjadi satu-satunya tolok ukur prestasi atau kompetensi yang dimiliki peserta didik, karena bisa jadi hal tersebut disebabkan adanya faktor lain. Sebagai contoh adalah salah satu murid penulis yang bernama Adi. Dia bisa dikatakan sebagai siswa berpotensi, baik akademik maupun non akademik. Tapi ada “sesuatu” yang akhirnya dia cenderung masuk dalam kategori siswa pembangkang dan sulit diatur. Yang lebih parah adalah dia seringkali memprovokasi teman-temannya untuk meniru sikapnya. Alhasil, kelas Adi menjadi kelas yang “luar biasa”.

Hingga suatu ketika muncul ide untuk mendekati dia dan teman-temannya. Penulis mulai mengenal karakter dan gaya pertemanan mereka. Ide mereka mengajak jalan-jalan, penulis oke kan dan sempatkan untuk mampir ke rumah Adi. Pertemuan dan perbincangan dengan ayah Adi, membawa penulis pada simpulan bahwa Adi “bermasalah”dikarenakan banyak faktor pemicu. Perceraian orangtua dan segala permasalahan keluarga menjadikannya memiliki karakter seperti sekarang ini.

Hasil dari kunjungan/home visit  ini membuahkan gambaran solusi bagi ayah Adi dan penulis selaku gurunya. Dari beberapa kali home visit ke rumah Adi dan beberapa temannya membawa dampak kedekatan antara penulis dan mereka. Mereka mulai tidak canggung untuk curhat tentang permasalahan mereka. Alhasil, ini berdampak positif pada pembelajaran di kelas. Akhirnya penulis tiba pada sebuah pemikiran bahwa yang Adi dan teman-temannya butuhkan adalah motivasi dan arahan untuk masa depan mereka yang berawal dari sikap dan antusias mereka dalam pembelajaran dikelas.

Indah Perdana Sari MPd dalam blognya mengatakan ketika guru melakukan pendekatan  dan melakukan kunjungan/home visit, guru memiliki dua manfaat. Pertama, memperoleh berbagai keterangan/data yang diperlukan dalam memahami peserta didik dan lingkungannya. Kedua, mengubah dan memecahkan permasalahan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.

Home visit merupakan salah satu layanan pendukung dari kegiatan bimbingan yang dilakukan guru dengan mengunjungi orang tua/tempat tinggal peserta didik. Kegiatan dalam home visit dapat berbentuk pengamatan dan komunikasi langsung tentang kondisi rumah tangga, fasilitas belajar, dan hubungan antar anggota keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan peserta didik. Fungsi utama dari kegiatan home visit ini adalah fungsi pemahaman yang didapat dari kedekatan guru dan peserta didik sehingga guru akan memahami posisi peserta didik “seutuhnya” dan manakala peserta didik mengalami permasalahan dalam pembelajaran, guru tidak akan mudah memberikan label buruk bagi peserta didik. Semoga. (kpig1/aro)

Guru Bahasa Inggris MTs Agung Alim Blado