Disiplin dan Ikhlas Mengabdi di Madrasah

166
Oleh : Sry Hartinah SE
Oleh : Sry Hartinah SE

RADARSEMARANG.COM – DISPLIN dan Ikhlas, dua kata yang ringan di ucapkan namun berat untuk dipraktikkan/diamalkan. Mengabdi di madrasah bagi semua guru suatu anugerah dari Allah SWT, karena tidak semua  orang  bisa menjadi guru di madrasah. Namun ada permasalahan yang harus kita hadapi, perlengkapan administrasi (perangkat pembelajaran) yang harus disiapkan, finger yang terkadang menyulitkan, kegiatan-kegiatan di luar jam pembelajaran yang terkadang menjadikan terbengkelainya tugas-tugas harian, terlebih masalah dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), belum lagi urusan keluarga.

Untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan madrasah dan juga urusan  keluarga, apalagi yang terkait dengan jam pembelajaran, butuh keseimbangan/balance antara kegiatan atau aktivitas di madrasah dan di luar madrasah atau keluarga. Kegiatan yang di luar madrasah akan menyebabkan KBM tidak efektif, terlebih kegiatan masyarakat (bilamana tidak bisa disiplin) akan menghambat pembelajaran terutama di hari efektif. Ini bisa menjadi masalah besar, ikut kegiatan masyarakat, madrasah repot, tidak ikut dibilang tidak bermasyarakat.

Kurang disiplin dan tidak ikhlas merupakan penyakit yang harus dibasmi bahkan harus dimusnahkan. Sebab, kita bertanggung jawab terhadap kemajuan madrasah. Kedisiplinan dan keikhlasan kunci utama untuk guru bisa memajukan madrasah. Memajukan madrasah sama dengan memajukan NU (Nahdlatul Ulama) dan memajukan NU sama dengan memajukan Islam. Bilamana itu bisa tercapai, maka ada kemungkinan besar madrasah akan mendominasi keberhasilan anak bangsa menjadi generasi islam yang berkualitas dan berakhlakul karimah.

Untuk mencapai disiplin dan ikhlas, kita sebagai guru madrasah harus banyak belajar “Nrimo Ing Pandum.” Artinya, apapun aturan yang ada di madrasah itu seharusnya diterima dengan lapang dada, dapat jam banyak ataupun sedikit, jadi wali kelas maupun tidak, jadi Waka atau tidak, penanggung jawab ekstra maupun tidak bukan suatu masalah, terutama yang belum menjadi PNS dan terlebih lagi  yang sudah jadi PNS.

Nampak pada pembagian tugas awal tahun kurikulum terkadang menghadapi dilema. Beberapa guru mau dikasih jam banyak belum bisa disiplin, sementara kalau di madrasah swasta banyaknya jam menentukan kesejahteraan guru itu sendiri. Ini yang menyebabkan guru untuk belajar  disiplin dan ikhlas. Seorang  guru yang  tidak bisa dipercaya, maka akan lama untuk mengembalikan kepercayaannya lagi terhadap guru lain bahkan keluarga besar madrasah itu sendiri. Bisa jadi guru yang biasa-biasa saja mendapatkan kepercayaan, karena disiplin dan keikhlasannya. Sebaliknya guru yang dianggap profesional, cerdas, malah tidak diberi kepercayaan karena seringnya mengeluh dan tidak melaksanakan tanggung jawabnya.

Guru peran utama dalam memajukan madrasah, KBM akan sukses ketika guru bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Berangkat tepat waktu, mengajar di kelas tepat waktu, memberikan materi di kelas dengan ikhlas, mendidik anak dengan ikhlas, disamping harus mempersiapkan materi dengan baik dan menyenangkan. Jika semuanya sudah bisa dicapai guru, tentunya madrasah akan mendapatkan predikat yang baik dari masyarakat dan semua pihak.

Dukungan dan support antar guru sangat meringankan tugas kita yang terkadang terasa berat  dan melelahkan, menjadi ringan dan menyenangkan. Munculah disiplin dan ikhlas, karena sebenarnya disiplin dan ikhlas akan membawa kesejahteraan, walaupun kesejahteraan itu berbeda-beda tingkatannya, tidak sama antara guru yang satu dengan guru yang lainnya. (kpig2/aro)

Guru IPS Terpadu MTs Hasyim Asy’ari Bawang