Oleh : Anita Hari Purwani SPd
Oleh : Anita Hari Purwani SPd

RADARSEMARANG.COM – BELAJAR Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) peserta didik akan mempunyai bekal pengetahuan dan keterampilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, karena banyak materi IPS yang aplikasinya akan kelihatan langsung ketika kita terjun dalam masyarakat ataupun dunia nyata, dan pelaku dari kegiatan sosial malah seringnya kita sendiri. Sehingga sangatlah cocok apabila pelajaran IPS diberikan kepada peserta didik sejak dini (pada waktu pendidikan dasar).

Di sisi lain, proses kegiatan pembelajaran berjalan baik dan menyenangkan akan berdampak positif bagi perkembangan pola pikir peserta didik secara aktif, sehingga dapat membangun pengetahuan baru atau merevisi pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Model pembelajaran konvesional yang didominasi oleh guru dengan metode ceramah yang diselingi dengan tanya jawab dengan peserta didik berdampak pada rendahnya aktivitas belajar peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru untuk senantiasa kreatif dalam pembelajaran di mana aktivitas siswa harus dioptimalkan.

Sebagaimana pendapat  Abidin (2014 : 6) yang menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses yang berisi seperangkat aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan belajar. Sedangkan pembelajaran adalah proses menuntut siswa secara aktif dan kreatif melakukan sejumlah aktivitas baik formal maupun non formal. Hasil evaluasi belajar yang diperoleh peserta didik menjadi tolok ukur keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran seorang guru. Penerapan model pembelajaran literasi kritis dapat menjadi salah satu alternatif bagi seorang guru guna mengoptimalkan hasil belajar peserta didik.

Langkah-langkah penggunaan model pembelajaran literasi kritis, yakni, membuka pelajaran, membagi teks literasi sesuai dengan materi pokok yang diajarkan, serta meminta peserta didik memperhatikan dan menyimak teks yang ada dengan cara menonton, membaca (secara keras maupun di dalam hati) dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, meminta peserta didik untuk menyimak teks yang telah dibagikan. Kedua, guru mengajak bernyanyi. Ketiga, meminta tanggapan dari peserta didik tentang isi teks atau video yang dibaca ataupun dilihatnya. Keempat, memberikan Internalisasi nilai. Kelima, guru memberikan penegasan tentang fakta atau kebenaran yang ada. Keenam, guru memberikan kesempatan peserta didik untuk bersikap atau bertindak dalam kelompok maupun individu. Ketujuh, guru mempersilakan peserta didik menyampaikan pendapatnya dan membuat kesimpulan dari pembelajaran yang berlangsung.

Pemilihan model pembelajaran yang tepat harusnya melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian siswa atau peserta didik merasa puas dengan hasil belajar yang telah dicapainnya. Menurut Degeng (2013 : 200), kualitas pembelajaran selalu terkait dengan penggunaan metode pembelajaran yang optimal guna mencapai tujuan pembelajaran, dibawah kondisi pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, jika ingin mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi, setiap bidang studi sudah seharusnya diorganisasi secara tepat, dan selanjutnya guru menyampaikan strategi pembelajaran yang dirasa sesuai dengan materi yang ada kepada peserta didik.

Model pembelajaran literasi kritis merupakan salah satu bentuk penerapan pembelajaran dengan pendekatan pedagogik kritis. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai literasi kritis, penulis akan mengilustrasikan pengertian dari literasi terlebih dahulu. Pada prinsipnya literasi adalah kemampuan untuk membaca teks secara aktif dan reflektif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pembelajaran.

Tuntutan pembelajaran IPS semakin variatif tidak hanya sekadar hafalan, sehingga disini guru dituntut untuk semakin kreatif dalam mengelola dan melaksanakan pembelajaran, yang pada klimaksnya dapat menemukan inovasi-inovasi baru dalam kegiatan pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran literasi kritis yang dapat meningkatkan aktifitas dan kreativitas belajar dari peserta didik.

Model pembelajaran literasi dalam sintaksnya terdapat tahapan-tahapan kegiatan seperti pemberian kesempatan kepada individu-individu, maupun kelompok-kelompok untuk memberikan respon atau umpan balik berupa masukan ataupun komentar atas apa yang telah disimak . Dalam tahap ini peserta didik diharapkan dapat mengkritisi teks yang telah menjadi media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Selain itu tahap umpan balik diharapkan dapat memperkaya informasi siswa dengan materi yang dipelajarinya.

Melalui penerapan model pembelajaran literasi kritis para siswa dapat aktif baik secara mental maupun fisik, mencari jawaban atas pertanyaan guru, mengamati, memikirkan dan menganalisis, memberikan saran atau tambahan jawaban sehingga dapat mengoptimalkan gerak siswa secara fisik, sekaligus memotivasi siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan suasana gembira dan akrab antara peserta didik dengan gurunya.

Dengan kata lain, model pembelajaran literasi kritis sangat efektif dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, memudahkan dalam mencapai ketuntasan belajar. Proses terpenting yang menjadikan pembelajaran berhasil adalah peran guru dalam memilih pendekatan, sumber belajar, media belajar yang tepat, memotivasi semangat belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. (kpig1/aro)

Guru IPS MTs NU 01 Pecalungan