Budidaya Anggrek Lesu

1389
RAWAT ANGGREK : Subur, pemilik Coconut Orchids di Kampung Anggrek Sodong, Desa Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. (ISTIMEWA)
RAWAT ANGGREK : Subur, pemilik Coconut Orchids di Kampung Anggrek Sodong, Desa Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Awal mulanya Kampung Anggrek Sodong dikelola bersama oleh pemuda Karang Taruna Sodong di Desa Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Namun dari tahun 2014 hingga sekarang, hanya tersisa dua lokasi budidaya anggrek.

“Dahulunya lokasi ini dikelola bersama. Saat saya fokus budidaya anggerk di rumah, ternyata di lokasi ini tidak terawat. Awal tahun 2016, saya mulai mebangun kembali tempat ini,” kata Tutur Subur, 26  pengelola sekaligus pemilik Coconut Orchids di Kampung Anggrek Sodong Mijen, Rabu (1/8).

Penurunan ini mengakibatkan kunjungan ke Kampung Anggrek Sodong terus menurun. Namun Subur tidak kehabisan akal untuk tetap menjual anggreknya. Kini, ia melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook sebagai tempat lahan promosi anggreknya. Buktinya banyak pembeli datang dan memesan berkat hasil promosi melalui media sosial tersebut.

Beberapa pembeli datang dari dalam Kota Semarang. Namun ada beberapa dari luar Semarang seperti Kendal, Demak dan Kabupaten Semarang. Bahkan ada pembeli memasan dari Sulawesi. Tidak hanya di Kampung Anggrek Sodong. Budidaya Anggrek juga melesu di Kampung Anggrek Mijen Permai. Terbukti kampung yang dahulunya menjadi kampung percontohan budidaya anggrek di Kota Semarang kini tinggal tujuh lokasi budidaya.

Salah satunya budidaya anggrek Miami milik Ibu Emiati. Budidaya yang berdiri sejak 2016 ini, mengalami penurunan omzet. Budidaya sekala rumahan ini dahulunya bisa mendapatkan omzet hingga satu juta rupiah perbulan, namun kini hanya tiga ratus hingga lima ratus rupiah per bulan. “Kalau dahulu pembeli datang hampir setiap hari namun kini hanya sabtu minggu saja,” tutur ibu rumah tangga yang juga seorang penjahit itu.

Turunnya pembudidaya, karena perawatan anggrek tidak mudah dan menguras tenaga. Terlebih, anggrek merupakan tanaman yang tidak tahan cuaca ektrim. Jika musim hujan, anggrek dijaga agar tidak terlalu basah dan jika musim kemarau panjang kadar air pada anggrek harus terus stabil.

Harapan Emiati ada bantuan langsung dari Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Sebab, selama ini bantuan yang didapat kurang fokus ke pembudidaya anggrek. Bantuan yang diberikan lebih mengarah ke infrastruktur pembangunan kampung anggrek seperti gapura dan jalan lingkungan sekitar. “Mungkin jika ada bantuan yang fokus ke pembudidaya, akan banyak omzet yang dihasilkan dan banyak masyarakat yang tertarik melangsungkan budidaya anggrek,” katanya. (mg19/mg21/ida)