Oleh: Titie Sri Haryanti  SPd
Oleh: Titie Sri Haryanti  SPd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN yang menyenangkan (joyful) perlu dipahami secara luas. Bukan hanya berarti selalu diselingi dengan lelucon, banyak bernyanyi atau tepuk tangan yang meriah. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat dinikmati siswa. Siswa merasa nyaman, aman dan asyik. Perasaan yang mengasyikkan mengandung unsur inner motivation, yaitu dorongan keingintahuan yang disertai upaya mencari tahu sesuatu.

Selain itu pembelajaran perlu memberikan tantangan kepada siswa untuk berpikir, mencoba, dan belajar lebih lanjut, penuh dengan pecaya diri dan mandiri untuk mengembangkan potensi diri secara optimal. Dengan demikian, diharapkan kelak siswa menjadi manusia yang berkarakter penuh percaya diri, menjadi dirinya sendiri dan mempunyai kemampuan yang kompetitif (berdaya saing).

Proses pembelajaran khususnya mata pelajaran PKn dari yang terlihat dan dirasakan menunjukkan bahwa partisipasi dan keaktifan siswa dalam pembelajaran sangat kurang. Hal ini terlihat saat pembelajaran di kelas hanya terpusat pada guru dan kurang mendorong siswa untuk mengembangkan diri. Di samping itu kemampuan yang belum matang/kurang beraninya seorang guru untuk mencoba berbagai model pembelajaran.

Menurut penulis, banyak cara menjadikan anak-anak menjadi senang mengikuti kegiatan belajar PKn. Salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw. Pembelajaran model Jigsaw mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman dan partisipasi aktif dalam kelompok belajar. Peserta didik akan lebih tertarik dalam belajar jika mereka diberi kesempatan untuk belajar secara bersama-sama dengan teman sebayanya tentu dengan bimbingan guru.

Metode pembelajaran Jigsaw adalah suatu metode pembelajaran di mana peserta didik bekerja sama atau belajar kelompok dalam kelompok kecil yang terstruktur dan bersifat heterogen. Setiap peserta didik dituntut untuk bekerja dalam kelompok melalui rancangan-rancangan tertentu yang sudah dipersiapkan oleh guru, sehingga peserta didik harus aktif dalam kegiatan pembelajaran kelompok.

Metode Jigsaw lebih sekadar dari kerja kelompok, karena belajar dalam metode ini harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan efektif di antara anggota kelompok.

Peserta didik akan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuannya di dalam pembelajaran jigsaw, dan guru akan lebih mudah untuk mengatur sekaligus memantau keaktifan peserta didik. Guru akan lebih leluasa mengamati keaktifan peserta didik, sehingga akan memudahkan guru melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ada.

Keberhasilan pembelajaran menurut metode Jigsaw bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan belajar akan semakin baik apabila dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok belajar kecil yang terstruktur dengan baik. Metode Jigsaw merupakan metode pembelajaran yang mengajak peserta didik  dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Metode Jigsaw banyak mempunyai nilai positifnya, antara lain: melatih peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya, peserta didik dilatih untuk berani berkomunikasi dimulai dari kelompok, peserta didik berani tampil, mengasah kepercayaan  dirinya, siswapun dapat belajar untuk tidak menang sendiri (egois) untuk kemuian berlatih kerjasama. Hal ini dapat menumbuhkan jiwa sosial dan gotong royong.

Ini merupakan implikasi lanjut dari pendapat Slavin (1995) yang menyatakan metode pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh yang positif dalam memperbaiki hubungan antar-kelompok dan rasa percaya diri siswa, sehingga tumbuh motivasi dalam diri siswa untuk mengulang kegiatan tersebut. Metode pembelajaran ini sangat sesuai jika diterapkan pada kelas yang memiliki kemampuan heterogen, karena siswa yang kemampuannya kurang akan dibantu oleh siswa yang memiliki kemampuan baik pada saat kerja kelompok.

Metode jigsaw merupakan sebuah metode yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan metode “Pertukaran dari kelompok ke kelompok” (Group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting menyampaikan hasil kajian dan hasil diskusi kepada teman lain. Dalam pelaksanaan pembelajaran metode Jigsaw setiap siswa mengeluarkan pendapat dan berperan sebagai ketua kelompok sehingga diskusi berjalan lebih dinamis.

Keberhasilan belajar menurut metode Jigsaw bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan belajar akan semakin baik apabila dilakukan bersama dalam kelompok kecil yang terstruktur dengan baik. Suasana kebersamaan yang tumbuh dan berkembang diantara sesama anggota kelompok, akan sangat mendukung keberhasilan dalam belajar.

Dalam pengajaran PKn metode dan pendekatan serta model yang telah dipilih merupakan alat komunikasi yang baik antara pengajar dan peserta didik, sehingga setiap pengajaran dan setiap uraian PKn yang disajikan dapat memberikan motivasi belajar. Metode ini lebih menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh, mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat, diharapkan dengan bekerjasama dalam kelompok akan meningkatkan motivasi dan hasil belajar yang maksimal.

Karena itu, metode pembelajaran Jigsaw sangat cocok digunakan untuk materi PKn karena siswa dituntut aktif berdiskusi dan guru-guru juga dituntut kreatif. Selain itu metode Jigsaw juga bisa meningkatkan motivasi belajar PKn. (kpig1/aro)

Guru PKn di MA YIC Bandar