Oleh: Nur Kholis SAg
Oleh: Nur Kholis SAg

RADARSEMARANG.COM – INDONESIA merupakan negara besar yang memiliki berbagai macam suku, budaya, bahasa, adat-istiadat, bahkan agama. Namun sejarah telah membuktikan bahwa keanekaragaman tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sebagai contoh, sejak zaman pejajahan hingga masa kemerdekaan bangsa Indonesia dapat hidup berdampingan secara damai meskipun berbeda suku, bangsa, maupun agamanya. Kondisi yang semacam ini sungguh menggambarkan betapa sikap toleransi dapat menciptakan harmoni dan kedamaian.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, sikap tolerasi akan dapat terdegradasi oleh berbagai faktor dan kepentigan yang mengarah kepada sikap intolerasi yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan mengusik kedamaian. Inilah yang dewasa ini kerap kita mendengar berita berbagai kekerasan yang dipicu oleh isu-isu yang berbau SARA. Seperti kasus pegeboman di tempat-tempat ibadah maupun tempat lainnya. Padahal di  satu sisi tidak ada ajaran agama manapun yang melegalkan kekerasan dan perampasan hak azasi manusia dengan dalih apapun.

Karena itu, pedidikan agama yang benar, terutama dalam memahami kitab suci, menjadi solusi dan upaya untuk menciptakan dan mempertahankan rasa persatuan dan kesatuan bangsa untuk mewujudkan kedamaian di negeri tercinta Indonesia. Kita bersyukur memiliki Kementerian Agama sebagai wadah dan sarana bagi pedidikan yang mengarah kepada pemahaman agama dengan benar. Pemahaman keagamaan secara benar menjadi modal utama bagi terwujudnya kehidupan yang penuh tolerasi dan kedamaian. Akan tetapi, upaya pemahaman ajaran agama secara benar dan komprehensif tidak serta-merta terwujud tanpa usaha keras dari berbagai pihak yang berkompeten.

Madrasah Tsanawiyah merupakan salah-satu lembaga Pendidikan formal tingkat menengah yang menjadikan Alquran sebagai titik sentral bagi visi maupun misi yang menjadi tujuan dan pengembangan pendidikan yang dilaksanakan. Termasuk di dalamnya mengajarkan konsep toleransi sebagaimana yang diajarkan di dalam Alquran. Disebutkan dalam Lampiran Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 mata pelajaran Agama Islam, di mana salah satu tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Alquran Hadits kelas 7 dalam rumusan Kompetensi Dasar (KD) siswa diharapkan dapat memahami isi kandungan QS  Al-Kafirun (109), dan QS al-Bayyinah (98)  tentang toleransi dan membangun kehidupan umat beragama yang dilengkapi dengan keterangan dari beberapa hadits.

Toleran merupakan sifat atau sikap suka menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri. (Alquran Hadits kelas VII, Kementerian Agama RI tahun 2014)

Alquran menjelaskan sikap toleransi yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Dalam surah al-Kafirun ayat 6 yang artinya “untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Hal ini memberikan pegertian bahwa aqidah atau keyakinan merupakan hal yang tidak bisa dicampur-aduk atau dipaksakan kepada pihak lain.

Disebutkan juga dalam QS Al-Baqoroh ayat 256 yang yang artinya ”tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…”. Dengan demikian Alquran mengajarkan kepada umat-Nya untuk senantiasa memiliki sikap toleransi yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi kemanusiaan dikisahkan dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah berhenti menyuapi makanan kepada seorang Yahudi yang buta . Walaupun kata-kata makian dan tidak patas terlontar dari mulutnya, Nabi tidak pernah marah. Dan masih banyak hadits-hadits lain yang mengisahkan tentang bagaimana sikap toleransi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari penjelasan tersebut di atas nyatalah bahwa Alquran jika dipelajari dengan seksama dari berbagai ayat yang ada, dan dipelajari dengan benar tentu saja sangat menjunjung tiggi nilai sikap tolerasi dan kedamaian. Apalagi kata Islam itu sendiri artinya damai. Wallahu a’lam. (kpig1/aro)

Guru Alquran Hadits MTs NU 01 Gringsing Batang