Warga Belum Beri Lampu Hijau

Pembangunan Pabrik Baja Oleh PT KIS

743
KAUR Umum Desa Pidodo Kulon, UDIONO (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAUR Umum Desa Pidodo Kulon, UDIONO (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Pembangunan pabrik baja yang akan dibangun oleh PT Kawasan Industri Seafer (KIS) bersama perusahaan asal Tiongkok, Hebei Bishi Steel Group sepertinya akan menuai kendala. Pasalnya, warga setempat belum menyetujui adanya pembangunan pabrik tersebut.

Alasan belum menyutujui, karena warga khawatir akan dampak yang timbul ketika pabrik pengolahan baja beroperasi. Terutama terhadap polusi yang ditimbulkan dari pabrik tersebut. Warga khawatir nantinya polusi dapat mengganggu kesehatan. Sebab lokasi yang akan dibangun pabrik dekat pemukiman warga.

Udiono, Perangkat Desa Pidodo Kulon mengakui jika PT KIS telah menguasai lahan ratusan hektare. Lahan tersebut tersebar di empat desa. Yakni Pidodo Kulon, Pidodo Wetan, Kartikajaya dan Bangunsari. “Namun lahan paling banyak berada di Desa Pidododo Kulon dan Pidodo Wetan,” katanya, kemarin (31/7).

Diakuinya jika lahan ratusan hektare milik PT KIS tersebut telah dilakukan pembebasan sejak tahun 1980-an. Dengan perizinan yakni untuk pengolahan hasil ikan tambak. Karena memang sejak sejak awal hingga kini pemanfaatan lahan untuk pertanian ikan tambak, seperti udang vaname dan ikan bandeng.

Kepala Urusan (Kaur) Umum Desa Pidodo Kulon itu mengatakan sampai saat ini desa maupun warganya belum menerima sosialisasi. Bahkan justru warga baru mengetahui rencana pembangunan pabrik yang akan dibangun diatas lahan seluas 700 hektare tersebut dari berita di media massa.

Makanya warga minta kejelesan, terkait rencana pembangunan dan pengolahan limbahnya seperti apa. Sebab jika tidak, maka banyak tambak tradisional milik warga yang berada disekitar lokasi PT KIS akan terdampak.

Belum lagi polusi asap maupun serpihan biji besi, karena khusus di Desa Pidodo Kulon dan Kartikajaya berdekatan dengan lokasi pertanian dan pemukiman warga. “Jangan sampai nanti polusi mengganggu kesehatan warga maupun tanaman padi dan cabai yang banyak dikembangkan petani lokal,”  jelasnya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Pidodo Wetan, Agusnadi menambahkan jika pihak desanya maupun warga belum mendapatkan sosialiasi terkait pembangunan pabrik baja. “Prinsip warga senang, karena bisa membuka lapangan pekerjaan sehingga perekonomian akan meningkat. Warga tidak perlu lagi bekerja sebagai TKI maupun TKW ke luar negeri,” katanya.

Namun memang yang harus dipikirkan adalah dampak polusi. Karena jika tidak diantisipasi maka banyak tambak warga yang akan terdampak. “Kalau warga Desa Pidodo Wetan tidak begitu terdampak, karena lokasinya jauh dari pemukiman dan pertanian warga. Tapi desa lain Seperti Kartikajaya dan Pidodo Kulon akan terdampak secara langsung,” tambahnya.

Sementara Bupati Kendal, Mirna Annisa mengatakan dari tiga kuinjungannya ke China meninjau pengelolaan pabrik. Ia melihat sistem keamanan, limbah sudah dikelola teknologi modern dan secara go green. “Jadi sangat ramah lingkungan,” katanya.

Menurutnya, meskipun pabrik baja, namun limbah sudah dikelola secara modern. Bahkan ditengah pabrik justru banyak taman-taman hijau dan kawasan perumahan dan kota yang hijau dan sejuk.

“Jadi di kawasan pabrik baja milik Hebei Bishi Steel Group ada City Forbidden atau kota pribadi sebagai tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Dimana kota itu sangat hijau dan sejuk,” tandasnya.

Sementara saat dari Pihak PT KIS belum memberikan komentar terakait rencana pembanguan Pabrik Baja. Salah satu pegawai PT KIS, Elsi tidak berani memberikan komentar lantaran bukan kapasitasnya untuk berbicara masalah pabrik baja. (bud/bas)