GANGGU LAYANAN : Petugas Dishub Kota Semarang menggembok roda mobil yang terparkir di depan shelter BRT. Hal tersebut mengganggu layanan penumpang. (Ist)
GANGGU LAYANAN : Petugas Dishub Kota Semarang menggembok roda mobil yang terparkir di depan shelter BRT. Hal tersebut mengganggu layanan penumpang. (Ist)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kenyamanan penumpang Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang terganggu dengan adanya parkir liar. Berdasarkan pantauan, sejumlah mobil parkir di depan shelter atau halte BRT. Kondisi tersebut membuat awak BRT kesulitan menurunkan dan menaikkan penumpang.

“Saya beberapa kali harus naik turun BRT dari pintu depan, karena bus tidak bisa merapat ke shelter gara-gara ada kendaraan yang parkir. Harusnya petugas bisa tegas menertibkan kendaraan yang parkir di depan shelter. Karena memang mengganggu kenyamanan penumpang,” terang Annisa, 26, salah seorang penumpang BRT.

Keluhan adanya parkir liar di depan shelter juga mencuat di beberapa media sosial. Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Perhubungan (Dishub) kota Semarang, Selasa (31/7) kemarin, menggelar sidak di sejumlah titik shelter BRT. Hasilnya, petugas menemukan empat kendaraan yang terparkir di depan shelter Pengadilan Negeri Semarang.

Petugas Dishub pun memanggil juru parkir di lokasi tersebut. Namun dari jukir berkilah tidak merasa mengatur atau merekomendasikan titik parkir di depan shelter. “Saya pas jaga siang. Ketika saya jaga, mobil itu sudah terparkir di situ (shelter),” kata Waluyo, seorang jukir.

Menurutnya, dua diantara empat mobil yang terparkir di titik larangan tersebut merupakan milik aparat kepolisian dan pegawai pengadilan. Petugas Dishub pun langsung mengambil langkah tegas dengan menggembok empat roda mobil tersebut. Sedangkan terhadap juru parkir, dibawa ke kantor Dishub untuk dilakukan pembinaan.

Sementara itu, Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindakan insidentil setelah mendapat keluhan dari masyarakat. Sanksi gembok tersebut juga sebagai langkah tegas agar masyarakat bisa patuh terhadap aturan. Tidak parkir sembarangan.

“Dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk memahami fungsi dari fasilitas publik. Apalagi di shelter tersebut jelas-jelas ada rambu larangan berhenti maupun parkir kecuali BRT,” kata Ade.

“Jika ada kendaraan parkir di shelter armada kami akan kesulitan untuk merapat. Hal ini dapat membahayakan baik pengguna jasa maupun BRT itu sendiri,” imbuh Ade. (zal)