Model Profesional

371
Amalia Safira (DOKUMEN PRIBADI)
Amalia Safira (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – JATUH bangun dialami Amalia Safira dalam meniti karir di dunia modeling. Ia mulai menjadi model sejak 2014. Saat itu, dirinya masih duduk di bangku SMA.

“Saya awalnya hanya mengikuti fashion show di sekitar Kudus. Lama-lama saya mulai dikenal oleh banyak orang. Awalnya cuma dibayar Rp 100 ribu, tapi tetap saya syukuri dan terus maju. Sekarang, orang lebih mengenal saya sebagai Safira Model,” tutur mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi   Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Safira mengaku sempat tidak mendapat restu dari kedua orangtua saat terjun di dunia model. Namun Safira tak patah arang. Ia terus fokus dan menunjukkan bahwa dunia modeling tak selamanya buruk.

Menurutnya, citra buruk di dunia modeling sebenarnya bukan dari pekerjaannya, namun dari pribadi masing-masing.

“Awalnya orangtua memang tidak merestui saya berkecimpung di dunia ini, karena mereka takut saya salah pergaulan. Tapi, saya buktikan dengan ikut kompetisi di Kota Kudus, dan ternyata berhasil menjadi juara kepribadian. Saya rasa, kalau citra buruk itu dari pribadi masing-masing ya. Mau berperilaku buruk atau profesional?” ujar dara kelahiran 10 Maret 1998 ini.

Ia mengakui, jurusan yang diambil saat ini di bangku kuliah sangat membantu dalam menunjang karirnya, terutama dalam segi komunikasi. Komunikasi menjadi soft skill yang utama dan penting untuk ditekuni oleh setiap mahasiswa, karena akan membantu dalam dunia kerja nantinya. Tanpa memiliki skill komunikasi yang baik, maka akan kesulitan saat menempuh pekerjaan.

“Menjadi mahasiswa harus imbang memang antara soft skill dan hard skill. Tidak hard skill saja atau sebaliknya. Paling suka ya mata kuliah komunikasi organisasi, sehingga bisa mengerti menempatkan diri saat berbicara dengan banyak orang,” tutur mahasiswi yang hobi fotografi ini. (tsa/aro)